Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kesusastraan Hemingway di Tengah Tegangan Benang Pancing dan Kecipuk Ikan

Oleh: Ageng Indra         Diposkan: 14 Mar 2019 Dibaca: 607 kali


Suatu ketika, Ernest Hemingway dikoyak kritikus. Ia baru memasuki kepala lima dan menerbitkan Across the River and into the Tress. Kritikus Edmund Wilson, misalnya, menganggap novel itu sebagai pertanda kemunduran yang bakal sulit diperbaiki. Selain Wilson, ada 150 lebih ulasan di media massa yang juga merespons dingin buku itu; jumlah yang tampak cukup untuk membuat karir kesusastraan Hemingway mencapai titik beku.

Seburuk itukah novelnya? Supaya adil, perlu disebut juga, buku itu masih dianggap menarik oleh Italo Calvino dan malah difavoritkan oleh Tenessee William. Biarpun begitu, Mario Vargas Llosa menegaskan poin yang memang kentara: buku itu seperti karya seorang medioker yang coba mengimitasi The Sun Also Rises, novel yang ditulis Hemingway ketika masih muda.

Saat menulis Across the River and into the Tress, Hemingway memang sedang merasa muda lagi. Perkenalannya dengan gadis 18 tahun bernama Adriana Ivancich membikin Hemingway merasakan puber terakhirnya. Gadis asal Venice itu bahkan masuk dalam buku Hemingway itu: secara tersirat, sebagai tokoh utama wanita; secara tersurat, sebagai pembuat gambar sampul cetakan pertama. Itu bukan soal. Masalahnya, mungkin, Hemingway tidak sadar bahwa dirinya yang sudah tua tidak seterampil dirinya yang masih muda ketika menulis dengan cara serupa.

baca juga: Tidak Menikah, Bukan Tidak Bercinta

Dua tahun berselang, tolak bala Hemingway terbit: Old Man and The Sea. Cerita pendek yang panjang itu tidak hanya mengembalikan skala termometer karir kesusastraan Hemingway ke titik cair, tapi bablas hingga ke titik didih. Setelah dimuat majalah Life anno 1951 dan terbit sebagai buku pada 1952, kisah nelayan tua itu memenangkan Pulitzer Prize 1953, dan, pada 1954, Hemingway memperoleh Nobel Sastra.

Old Man and The Sea mengisahkan seorang Santiago, nelayan tua yang sudah 84 hari tidak menangkap ikan seekorpun. Melaut seorang diri di hari ke 85, kail pancingnya ditarik seekor marlin besar. Ia berhasil membunuh ikan itu dan mengikatnya di samping sampan. Namun sebelum kembali ke pantai, ia berhadapan dengan ikan-ikan hiu yang mengincar daging marlin di samping sampannya. Ia sampai di pantai dengan marlin yang hanya tersisa kepala dan tulangnya.

Kurt Vonnegut pernah berpendapat, ikan-ikan hiu yang mengoyak marlin tangkapan Santiago, bisa jadi dimaksudkan Hemingway sebagai para kritikus yang mengoyak Across the River and into the Trees. Ini menarik. Namun, dalam Memancing: Sepilihan Karya Jurnalistik Ernest Hemingway, kita bisa menemukan bahwa cerita itu, kalaupun memang dimaksudakan demikian, tidak terlahir dari imajinasi Hemingway, tapi dari peristiwa sungguhan yang ia dengar bertahun-tahun sebelumnya.

baca juga: Epistemologi Selatan bagi Ilmu Sosial Indonesia: Prawacana

Pangkal cerita Old Man and The Sea semula hanya ditulis sepanjang satu paragraf dalam artikel bertarikh 1936, “Di Air Biru: Surat dari Gulf Stream” (hlm.69). Versi yang didengar Hemingway sebetulnya lebih putus asa: nelayan tua Kuba itu ditemukan di tengah laut oleh nelayan lain saat sedang menangis di atas sampannya, separuh gila lantaran marlin yang ditangkapnya setelah dua hari melaut tanpa pulang sudah tidak berdaging lagi.

Sementara pada Old Man and The Sea, Santiago menepikan sendiri sampannya ke pantai, menggulung layar dan memanggul tiangnya tanpa bantuan siapa pun. Ia juga kalah dari para hiu, tapi Santiago mencapai sesuatu. Akumulasi dari deskripsi perjuangannya selama di laut, menjadikannya pribadi yang lebih tangguh.

Old Man and The Sea barangkali adalah puncak dari corak cerita yang sering berulang dalam karya Hemingway: seseorang menghadapi tantangan dan setelahnya, tak peduli menang atau kalah, ia memperoleh sesuatu, seperti menjadi lebih berani atau lebih menghargai dirinya sendiri. Dan tentunya, Hemingway jarang, bila bukan tidak pernah, menjelaskan hal semacam itu secara tersurat dalam karya fiksinya. Ia, seperti kita tahu, menggunakan teknik gunung es, yang mengarahkan pembaca untuk berasumsi demikian tanpa mengatakannya secara langsung.

baca juga: Kejeniusan Pram di Mata Penerjemah

Sejumlah artikel yang terhimpun dalam Memancing, memperlihatkan bahwa Hemingway melatih kemampuan itu selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam karya fiksi, namun juga dalam karya jurnalistik.

“Melaut: Surat dari Kuba”, yang ia tulis pada 1949, dimulai dengan deskripsi cuaca di tengah laut. Hemingway menyebut lokasi, jam, arah cahaya, serta gejala tubuh seperti keringat dan sakit mata, untuk menyiratkan “panas” tanpa menyebut kata itu.

Ketika deskripsi semacam itu dinarasikan oleh Hemingway, salah satu efek yang paling kentara dalam kumpulan artikel ini adalah timbulnya antusiasme. Tengoklah “Tempat Terbaik untuk Memancing Trout Pelangi”. Hemingway menulis, “kita harus membayangkan gambar-gambar yang memudar berurutan dan cepat berikut ini ini:” (hlm.3), lalu memberi masing-masing porsi satu paragraf untuk deskripsi gambar hutan dan kolam, serta dua pria kelelahan yang memasuki gambar. Kedua pria itu beristirahat dengan tenang. Hingga tiba-tiba, seekor trout sebesar lengan melompat dari kolam untuk menangkap belalang. Pada halaman berikutnya, penyebutan dua pria itu berubah menjadi “kami” yang, tidak lagi merasa lelah, segera menyiapkan pancing.

baca juga: Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Antusiasme serupa bisa ditemukan pada artikel yang lebih lawas, 1922, “Memancing Tuna di Spanyol”. Hemingway menggambarkan memancing sebagai aktvitas yang melelahkan, lantas menggunakan imaji segerombolan ikan untuk mengubah keadaan, dan menutupnya dengan rasa lelah yang kemudian hilang setelah menangkapnya.

Dalam narasi Hemingway, memancing menimbulkan antusiasme karena ia digambarkan dengan begitu maskulin. “Kalau kita berhasil menangkap seekor tuna setelah bertarung selama enam jam, bertarung melawannya sebagai seorang laki-laki melawan ikan dengan otot-otot lelah dan tegang tanpa henti, dan akhirnya menyeretnya ke samping perahu,” tulisnya, “kita akan disucikan dan tampil tanpa malu-malu di hadapan para dewa lama dan mereka akan menyambut kita.” (Hlm.9) Dan inti dari aktivitas maskulin itu adalah perebutan kuasa dalam pertarungan melawan ikan. Sebab, “ada kepuasan saat menaklukkan makhluk yang menguasai laut tempatnya hidup ini. (Hlm.75)

Karya-karya jurnalistik Hemingway memperlihatkan bahwa ia tahu lebih banyak ketimbang apa yang ia tulis. Bila kembali pada Old Man and The Sea (sebab karya itu yang paling bertautan dengan artikel dalam Memancing), kita menyaksikan Santiago yang malang, setelah mati-matian mengalahkan marlin, kehilangan tangkapannya lantara diserang hiu.

baca juga: Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Dalam “Sungai Biru Besar”, Hemingway menjelaskan bahwa sejak 1931 ia tahu cara mencegah ikan dimangsa hiu. Rahasainya adalah tidak beristirahat. Karena setiap kali pemancing beristirahat, ikan juga akan beristirahat dan menjadi kuat lagi. Dengan begitu, ikan marlin tak perlu langsung dibunuh, tapi cukup dipermainkan hingga ia kelelahan dan putus asa, lantas menariknya ke atas kapal. Bila ia mati dan menjadi bangkai, hiu akan mendekat.

Santiago, bisa dibilang, melakukan secara berlawanan hampir setiap petunjuk dijabarkan Hemingway dalam artikel itu. Dan karena itulah ceritanya begitu meyakinkan.

Puncak pencapaian kesusastraan Hemingway adalah akumulasi dari kegemaran dan wawasan terhadap hobinya yang paling purba: ia sudah memancing sejak berusia 5 tahun. Dan bagaimana sebagiannya terekam dalam Memancing, menegaskan bahwa sesusastraan Hemingway juga terbentuk di tengah tegangan benang pancing dan kecipuk ikan.

  •  

Judul: Memancing: Sepilihan Karya Jurnalistik Ernest Hemingway

Penulis: Ernest Hemingway

Penerjemah: An Ismanto

Penerbit: Circa

Tebal buku: vi+78 hlm

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: