Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ketika Keindahan Sepakbola Dihancurkan Hooliganisme

Oleh: Khairul Mufid Jr         Diposkan: 18 Oct 2018 Dibaca: 2921 kali


Pada abad ke-13 sampai ke-14 tercatat sebuah peristiwa kekerasan paling purba. Inggris Raya adalah saksi dan lokasi dimana parade kekejian itu dipertontokan secara gamblang dan binal.

Waktu itu, Inggris Raya yang terbelakang dan kolot ketimbang bangsa-bangsa lain di Eropa daratan ternyata memiliki tradisi yang sama kolotnya dengan manusianya. Yakni permainan nyeleneh, macam permainan sepak bola. Tapi lebih sepadan kalau menyebut itu sebagai permainan adu banteng atau semacam Gladiator tapi memakai medium permain sepak bola.

Kamu tak usah terperanjat, dan akan jadi pemandangan biasa, setelah permainan purna, sang pemain akan alami cedera parah, tulang kaki retak, tulang rusuk patah, luka robek sampai darah mengalir, bahkan tak sedikit pemain yang meregang nyawa di atas lapangan maupun setelah dirawat.

Membayangkan para Gladiator di arena, mereka pun tak segan membawa senjata tajam; seperti belati, pedang, dan benda sayat lainnya. Dan jangan bayangkan, mereka punya aturan-aturan resmi seperti aturan FIFA saat ini, semuanya tak ada. Tak ada pelanggaran dan tak ada offside, yang ada hanya kebengisan dibalut kekerasan dan tentu semuanya atas dasar “suka sama suka.”

baca juga: Revolusi Telah Mati (?)

Nah, akibat parade kekerasan di lapangan itu kemudian menggelitik Raja Eddward III (Inggris) dan Raja James I (Skotlandia) untuk membumihanguskan permainan barbar ini. Karena saking banyak kontroversi dan berduyun-duyun orang tetap mendukung permainan ini, akhirnya sepak bola ala Inggris Raya tetap ada, dengan syarat dibumbuinya aturan-aturan baru untuk meminimalisir kekejian. Akhirnya, munculah Cambridge Rules pada abad ke-19, sebagai usaha membuat rambu-rambu permainan lebih damai.

Berkat kemajuan dan semakin ketatnya aturan-aturan baru tersebut, akhirnya sepak bola setelahnya jauh lebih beradab dan kekerasan pun sedikit bisa deredam. Tapi jangan tarik nafas dulu! Berkat kemajuan dan rambu-rambu itu justru membuat kisah berbeda. Karena ketatnya peraturan – yang mewajibkan hanya 11 orang pemain berada di lapangan – kemudian membuat banyak orang yang ingin bermain (terlepas ia handal bermain bola atau tidak) terpaksa harus menepi dan hanya menyaksikan pertandingan sepak bola di pinggir lapangan, atau di tribun penonton.

Berkat keinginan memuncak sang penonton itu kemudian jadi cikal bakal pendukung-pendukung beringas yang tidak lahir dari lapangan. Tidak ada pembunuhan dan belati melayang lagi dari lapangan, tapi semuanya hijrah ke tribun penonton atau ke parkiran kendaran luar stadion, bahkan selamanya kalau mencium bau-bau sang rival pasti diganyang. Inilah kemudian disebut Hooliganisme suporter.

Tak ayal kalau kemudian ada awan gelap menyelimuti Kota Liverpool pada 15 April 1989. Seperti catatan Taufik Bagus (2013), saat tim Liverpool melawan Nottingham Forest telah memakan korban jiwa yang jumlahnya tak sedikit. 96 orang meninggal dunia dan 766 orang mengalami luka-luka akibat suporter kedua tim sama-sama baku hantam, dan kebengisan dipertonton secara telanjang. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan tragedi Hillsborough, dan jadi insiden terburuk dalam sejarah sepak bola di Inggris dan di dunia secara general.

baca juga: Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Hooliganisme Penonton Inggris Raya dan tragedi Hillsborough waktu sejatinya bukan karena tujuan agung prestasi, tapi lebih kepada semangat tawuran dan untuk mempertahankan kekuatan serta alasan batas teritori. Dan makin kesini motifnya semakin kompleks, ketika alasan teritori kian klise dan motif-motif lainnya berhamburan datang.

Parahnya, ketika permainan sepak bola kemudian dibopong Pim Mullier (seorang Belanda) ke Nusantara pada 1897, bangsa kita sebenarnya tidak menyimpan kebencian-kebencian yang serupa bangsa Inggris itu.

Khadafi Ahmad (2018) membenarkan itu, dalam esainya yang berjudul “Memang Mungkin ya Menceraikan Suporter Sepak Bola Indonesia dengan Kekerasan?”. Ia mengatakan kalau konflik sepak bola di Indonesia ini muncul murni karena persoalan sepak bola semata. Tidak ada kaitannya memang, sebelumnya tak ada konflik antara Suku Sunda para Bobotoh dengan Suku Betawi para The Jak Mania. Semua perselisihan suporter sepak bola di negeri kita benar-benar lahir murni dari persoalan di dalam lapangan, bukan sebaliknya.

Maka ketika tersiar kabar kalau Haringga Sirila dikeroyok hingga tewas muncul pertanyaan besar, Kok bisa manusia membunuh sesama manusia sekejam itu, Apa hanya karena sebuah rivalitas, nyawa harus melayang? Apa ada sejarahnya kalau suku Sunda-Betawi pernah perang? Semuanya tertegun, apalagi tiba-tiba beredar video pengeroyokan itu yang disana kemanusiaan sama sekali tidak ada. Haringga dibacok, diinjak, dipukul, ditendang sambil disoraki dengan yel-yel kebanggan, MATI KAU, ANJ***NG!. Akhirnya, Haringga benar-benar tiada setelah dilarikan ke rumah sakit.

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

 

Psikologi Suporter

Seorang pionir ilmu psikoanalisis, Dr. Sigmund Freud pernah berujar panjang lebar tentang kekuatan alam bawah sadar seorang manusia. Kata Freud, sebagai manusia, kita tentu memiliki banyak keinginan yang tertanam baik secara langsung maupun tak langsung. Kebanyakan keinginan kita yang bersumber dari alam bawah sadar kadang tidak dapat dipenuhi ketika kita dalam keadaan sadar atau terjaga. Misalnya, kita berkeinginan dan selalu memikirkan tentang seks, atau ketika anak-anak senang menghisap jempol secara reflek adalah contoh keinginan-keinginan yang lahir dari alam bawah sadar manusia.

Nah, di dalam permainan sepak bola, keinginan alam bawah sadar suporter bisa dipelopori oleh segala yang ditonton dan didengar berulang-ulang, atau nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan dan didengarkan. Misalkan kita sering nonton kehebatan dan selebrasi Dele Alli di televisi, maka di dunia nyata ketika kita bermain sepak bola dan berhasil cetak gol, secara refleks kita cenderung meniru selebrasi Dele Alli. Disadari atau tidak, pikiran kita sudah tercetak di dalam mindset seseorang.

Begitu pun rivalitas tim yang tertanam di dalam alam bawah sadar. Tidak bisa dimungkiri kalau nyanyian-nyaian supporter, yel-yel, atribut-atribut kebencian, bahkan kampanye peperangan di sosial media bisa juga menanamkan pikiran di alam bawah sadar seorang yang mendengarnya, melihatnya, dan menontonnya.

Ambil contoh, ketika Bobotoh Persib Bandung dengan nyanyian satirnya; “The Jak anj**ng, dibunuh saja,” digaungkan terus menerus dan direkam dalam otak maka akibatnya bisa fatal. Nyanyian itu hanya kata-kata biasa yang dikhususkan untuk menekan mental pemain Persija saat di lapangan, tapi ketika itu terus didendangkan maka secara refleks kebencian dan nafsu untuk membunuh benar-benar ada. Ketika Bobotoh melihat gerombolan The Jak atau sebaliknya, meski itu bukan di dalam stadion, maka yang terjadi adalah memori-memori kebencian itu muncul tiba-tiba.      

baca juga: Toko Serba Ada: Puisi-puisi Galeh Pramudianto

Freud membenarkan itu, keinginan ini memang terpendam dan seringnya tidak mendapat kesempatan untuk muncul ke permukaan. Seseorang yang sadar dan rasional tidak akan sembarangan untuk memuaskan keinginan alam bawah sadarnya, karena kokohnya tembok hukum sosial masyarakat. Oleh karenanya, hooliganisme suporter sepak bola kita adalah permasalahan sosial yang sangat mudah dan sudah ditanamkan sedari kecil, yang secara tidak langsung melalui alam bawah sadar mereka.

Tak kalah penting juga adalah suatu pembenaran antar kelompok. Kamu-Aku, Kami-Kalian, tak ada kata-kata “Kita” kemudian. Kita yang saudara digadaikan dengan rivalitas yang semu.

Nah, kembali menurut Freud, yang dikutip dari esai Dex Glenniza (2017), dorongan bawaan yang bersifat naluriah dari manusia pada umunya bersifat destruktif. Hal inilah yang menyebabkan para suporter seperti memiliki hobi bersama ketika mereka bergabung bersama pendukung yang berasal dari kesebelasan yang sama, seoalah apa yang mereka lakukan mendapat pembenaran karena banyak yang melakukannya juga.

Para pembunuh dalam tragedi Hillsborough (15 April 1989) dan pengeroyokan Haringga di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 23 September 2018, sebenarnya melakukan pembunuhan karena tahu jika mereka tidak sendirian. Dalam kasus berkelompok seperti ini, kesadaran bisa menjadi bias karena sudah terakumulasi jadi kebiasaan.

baca juga: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

 

Manusia Serigala  

Melihat Hooliganisme suporter, saya jadi teringat pada esai Prie Ge Es yang berjudul Spesialis Nonton Bareng (2012), Prie kurang lebih bilang benini; fenomena Hooliganisme suporter adalah sebuah fenomena “Fly Social” atau teler kebudayaan. Suporter yang adalah manusia sebenarnya samasekali tak memiliki keterikatan dengan diri sendiri.

Lihat saja, menjadi suporter tak lebih seenak-enaknya hidup. Mereka tak terikat dengan target-target prestasi kecuali halusinasi kefanaan. Kadang senang kadang sedih berlarat-larat ketika tim kesayangan menang-kalah. Memang kalau timnya menang berefek bagi pekerjaan, jodoh, apalagi penghasilan? Pembelaan yang brutal justru berpengaruh pada hal paling hakiki, yakni nyawa.

Lebih dalam lagi, kita masuki pada sifat dasar dari manusia itu sendiri. Seorang suporter adalah manusia, yang memiliki sifat dasar untuk selalu unggul dari manusia lainnya. Benar apa yang dikatan filsuf asal Inggris, Thomas Hobbes (1588-1679), yang mengatakan bahwa manusia serigala bagi manusia sesamanya, ia bukan manusia apabila tidak paham hakikatnya, homo homini lupus est, non homo, quom quails sit non novit.

Manusia serigala ini tentu mengenyahkan nyanyian perdamaian Andrea Bocelli dan Celine Dion; Ognuno dia la mano al suo vicino, simbolo di pace e di fraternita (setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda perdamaian dan persaudaraan), yang tebersit dalam pikirannya hanya beradu, membenci, membunuh, tak ada yang lebih hebat dari kami.

baca juga: Hidup Sehat ala Murakami, Takdir, dan Pramoedya

Maka sampai kapan kita begini, cinta sepak bola berarti cinta kemanusian.

“Sebab Sepak Bola Sejatinya Adalah Keindahan,

Untuk Menikmatinya Justru Dibutuhkan Kehidupan

Bukan Kejayaan Jika Dirayakan di Atas Tangisan

Tak Ada Kebanggaan yang Boleh Tegak di Atas Nisan”

- Najwa Shihab 2018 

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: