Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ketika Sapiens Tak Lagi Relevan

Oleh: Zaim Yunus         Diposkan: 18 Dec 2018 Dibaca: 2189 kali


“Siapa bilang sejarah itu adil?” Yuval Noah Harari dalam buku sebelumnya Sapiens dan Homo Deus telah memeriksa bagaimana dialektika sejarah memboyong manusia menjadi penguasa bumi pasca revolusi kognitif. Sejarah diceritakaan runtut dari seekor kera yang tidak berarti menuju makhluk yang bermimpi menjadi Tuhan—immortal dan memiliki segalanya. Terbukti, kini Homo sapiens – manusia – sudah jauh beranjak, tidak lagi menjadi pencari dan pemroduksi semata, tapi sejarah telah menyeretnya pada tahap merekayasa dan menciptakan.

Karya Yuval Noah Harari belakangan memang sering diperbincangkan, baik di media sosial maupun surat kabar. Bahkan Sapiens dan Homo Deus sempat menjadi bestseller dunia. Maklum, dengan gaya penulisan pop, Harari menghidangkan wacana sains agar dapat dinikmati siapa saja. 21 Lessons for the 21st Century lahir setelah kesuksesan kedua buku tersebut. Tidak jauh berbeda dengan Homo Deus, Harari mengangkat tiga tema besar: revolusi saintifik, artificial intelligence (AI), dan algoritma buatan.

21 Lessons, memang membahas masa depan lebih mengerucut dari pada dua buku sebelumnya. Namun, naskah setebal 392 halaman ini membahas masa depan lebih general jika disejajarkan dengan buku serupa. Seperti What’s the Future and Why it’s Up to Us, karya Tim O’reilly yang berfokus pada disrupsi ekonomi di dunia modern. Teknologi AI telah dimanfaat pelaku bisnis untuk menciptakan trobosan baru. Di jasa transportasi ada Uber otomatis tanpa sopir. Di dunia ritel terdapat Amazon sebagai market place yang dapat menampung pengunjung lebih dari mal terbesar sekalipun.

baca juga: Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

**

Menarik menggaris-bawahi sepenggal kalimat dalam buku ini, keinginan pada kenyataannya tidak lebih dari algoritma biokimia (p. 23). Kalimat itu digunakan Harari untuk memperkuat hipotesisnya, jika manusia telah mampu memanipulasi algoritma biokimia maka keinginannya dapat dikendalikan. Kondisi ini dalam Homo Deus digambarkan dengan penemuan narkotika dan helm yang dapat mengendalikan neuron otak.

Berbeda dengan buku sebelumnya, buku bersampul putih ini mengupas problematika bioteknologi dan teknologi informasi dalam realitas aktual. Misalnya, populisme yang kerap terjadi di era post-truth, terpilihnya Donald Trump di AS atau referendum Brexit di Britania Raya. Tidak heran, Harari meramal, masa depan manusia berada di tangan algoritma—kumpulan data—dan informasi teknologi yang sangat mungkin memengaruhi tindakan manusia.

Berbeda dengan Noam Chomsky yang gamblang dalam menggambarkan hegemoni media, Harari cenderung lebih implisit dalam memandang “kontrol media”. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai masalah krisis liberalisme. Sebab, media dengan algoritmanya akan terus belajar menjadi thought control (kontrol pikiran), di mana hal tersebut kontradiktif bagi masyarakat demokratis liberal.

baca juga: Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Bagaimana tidak, tradisi humanisme liberal selalu mengatakan, turuti kata hati sebagai landasan kebebasan berpendapat. Mungkin totalitarian ini akan lebih masuk akal jika terjadi di Uni Soviet dan Nazi. Tetapi tidak untuk Amerika, meski dengan Silicon Valley-nya kita akan dibawa pada otokrasi paling mengerikan sepanjang sejarah.

Buku ini memang tidak akan memberitahu kita di mana Harari berdiri, pihak pro atau kontra. Seperti dua buku sebelumnya, Harari hanya bertugas sebagai peramal yang “tidak tegas”. Bahkan dalam artikel berjudul Reduction History of Humankind yang ditulis John Sexton, Harari dianggap hanyalah pemapar abstraksi; mengesampingkan faktor ekstern di luar manusia. Akibatnya, ia hanya berkutat pada subjektifitas internal manusia. Sederhananya, Harari, toh, dalam Sapiens telah banyak mereduksi sejarah manusia yang sebetulnya begitu kompleks.

Tetapi paling tidak, dalam buku ini ia memberi kesan subtil bahwa suatu saat liberalisme akan memasuki masa kedaluwarsanya. Ketergantungan pada hati menjadi bumerang bagi liberalisme. Sebab, ketika teknologi dapat memengaruhi hati manusia, politik demokrasi, dan liberalisme tidak berbeda dengan pertunjukan “boneka emosional” (p. 51).

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Terlepas itu, Harari berspekulasi, jika algoritma dan kecerdasan buatan telah sampai pada taraf memilih, algoritma akan lebih baik dari manusia. Dan akibatnya, demokrasi yang kini dianggap sebagai ideologi paripurna pada waktu itu tidak lagi relevan. Kembali mengutip Chomsky, “Media tidak lebih dari humas bagi orang kaya dan penguasa.” Dalam konteks ini, hanya segelintir elit pemiliki data yang lahir jadi pemenang, pemegang pengaruh dalam masyarakat dan kelak dikuasainya. Puncak dari fenomena tersebut adalah kediktatoran teknologi informasi yang pada akhirnya akan membawa media menjadi lebih berbahaya dari terminator sekalipun.

Dalam buku ini, hal semacam itu disebut algoritma Big Data. Harari mencitrakannya tidak jauh berbeda dengan gambaran Big Brother dalam novel 1984, George Orwell. Semua lapisan sosial di bawah kendali data yang terpusat. Barangkali, Google dan Amazon dapat memahami diri kita lebih dari siapa pun. Dan pada akhirnya, tanpa kita sadari mereka mengendalikan keinginan kita secara penuh dan mengintai pikiran kita melalui data-data yang mereka miliki.

Hal menarik lain adalah kemungkinan bangkitnya oligarki purba. Dan akhirnya, teknologi tidak lagi berangkat dari ruang netral. Lantas, apakah hal ini pertanda baik atau buruk? Buku 21 Lessons memaparkan dua kemungkinan yang ada. Namun, perlu diingat, ada sesuatau yang jauh lebih buruk dari segala kemungkinan-kemungiknan itu. Harari meramalkan, jika liberalisme terancam, maka masa depan akan membawa manusia pada defisit eksistensi dan irelevansi.

  •  

Judul: 21 Lessons, 21 Adab untuk Abad 21  

Penulis: Yuval Noah Harari

Penerjemah: Haz Algebra

Penerbit: CV. Global Indo Kreatif

Cetakan: I, September 2018

Tebal: 392 hlm

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: