Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kisah-kisah Keturunan Arab Betawi

Oleh: Udji Kayang         Diposkan: 08 Sep 2020 Dibaca: 435 kali


Kepustakaan sastra Indonesia dibanjiri cerpen-cerpen dengan gagasan kuat, tokoh unik, plot mengejutkan, dan berbagai teknik ampuh sebagai ejawantah keterampilan menulis yang mumpuni. Semua itu lazim diakui sebagai penentu mutu sebuah cerpen—atau karya sastra pada umumnya. Namun, kenikmatan membaca seringkali tidak begitu diperhitungkan karena dianggap intuitif, tidak punya ukuran jelas, dan sangat subjektif. Padahal, perkara itulah yang kerap dipertimbangkan pembaca buku pada umumnya.

Sebetulnya ada kriteria umum bagi suatu karya sastra supaya dapat dinikmati oleh khalayak pembaca: ringan. Cerpen-cerpen Ben Sohib yang terhimpun dan terbit dalam Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang (2020), memenuhi kriteria tersebut. Semua cerpen Ben ringan dan jenaka, hampir semua dengan tokoh dan latar sosial keturunan Arab Betawi. Bagi yang pernah membaca karya-karya Ben terdahulu, tentu itu bukan ihwal baru. Nama Ben menggemilang berkat The Da Peci Code (2006) dan Rosid dan Delia (2008), dua novelnya yang kental akan humor segar dan berlatar sosial keturunan Arab Betawi.

Pembaca dijamin tidak kehilangan dua elemen khas Ben itu dalam Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang. Lokomotif kereta kisah Ben adalah cerpen berjudul “Para Penjual Rumah Ustazah Nung”. Nama, percakapan, dan laku keseharian dalam cerpen ini kental sekali nuansa Arab Betawi, yang menjadi fondasi kisah jenaka tetapi getir tentang tokoh bernama Dulah, lelaki tua bodoh yang tidak memberikan apa pun kecuali masalah bagi keluarganya:

“Kau harus melihat sendiri bagaimana si bungsu itu memainkan drama di hadapan ibunya. Ia tahu ibunya selalu merasa iba kepadanya dan lekas terharu pada apa pun yang dikeluhkannya. Lelaki itu memang bebal dalam banyak hal, tapi tidak untuk urusan yang satu ini. Ketiga kakaknya, dua perempuan dan satu laki-laki, dibuat tak berkutik dan hanya bisa pasrah saat sang ibu akhirnya menuruti keinginannya: menjual rumah pusaka.”

Buku kumpulan cerpen memang relatif fleksibel lantaran pembaca dapat memulai pembacaan dari cerpen keenam, lalu ke cerpen kedua, lanjut ke cerpen kesembilan, dan seterusnya—alias tidak mesti sesuai urutan. Namun, saya merasa urutan cerpen dalam Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang sudah dipertimbangkan baik-baik oleh Ben dan penerbit, sehingga menyimak kisah-kisah dalam buku ini secara urut menjanjikan perjalanan fiksional yang asyik.

baca juga: Pergulatan Wacana dan Pesan Pencarian Pangeran

Setelah cerpen pertama yang sangat representatif, yang menunjukkan ke pembaca corak kisah-kisah Ben dalam buku ini, pembaca dipertemukan kembali dengan Dulah beserta kebodohannya pada cerpen kedua. Kemudian, pada cerpen-cerpen selanjutnya, pembaca bertemu tokoh-tokoh lain yang kebanyakan bernama Arab, di antaranya adalah Abdurrahman Baswir, Asikin Sahlan, Hisam Tasir, Fahira binti Mail Basuri, dan Nasrul Marhaban.

Nama yang disebut terakhir, Nasrul Marhaban, adalah salah satu tokoh yang saya gemari kisahnya dalam buku ini. Nasrul menjadi legenda di kampungnya. Ia meninggal gara-gara hanyut terseret arus ketika hendak menyelamatkan Alquran terbungkus plastik yang jatuh ke sungai. “Sikap dan keberanian Nasrul Marhaban hendaknya menjadi suri teladan bagi kita semua, ia rela mengorbankan dunianya demi akhiratnya,” kenang Haji Mahfudi, tokoh lain dalam cerpen “Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang”.

Penilaian orang-orang terhadap Nasrul setelah kematiannya berkebalikan dari saat ia masih hidup. “Sebagai orang yang dikenal sangat jarang pergi ke masjid, pilihan Nasrul Marhaban mengungsi ke Masjid Assalam setiap kali rumahnya terendam banjir itu sempat menjadi bahan pembicaraan warga.” Nasrul bukan orang saleh semasa hidup, tetapi satu kejadian menjadikannya syahid. Ben menyibak peristiwa di balik itu semua secara ringan tetapi tajam.

baca juga: BERDIKARI: Berkarya Demi Kebahagiaan Sendiri

Setelah berhambur tokoh Arab Betawi, saya terkejut ketika di cerpen keenam Ben menggunakan Don Quixote—tokoh fiksi bikinan Miguel de Cervantes—sebagai tokoh utama berikut semestanya sebagai latar dalam cerpen berjudul “Don Quixote Tak Lagi Memerangi Kincir Angin”. Dalam cerpen itu, Ben mengajak pembaca mempertanyakan kewarasan Don Quixote, sekaligus membayangkan bagaimana seandainya Don Quixote mempertanyakan keputusannya memerangi kincir angin. Tentu, kesimpulannya sudah dibocorkan judul cerpen. Namun, apa yang lantas terjadi? Tidak perlu dibocorkan dong.

Selain “Don Quixote Tak Lagi Memerangi Kincir Angin”, “Kafe Rossana” adalah cerpen Ben yang berbeda secara ketokohan dan latar sosial dibandingkan cerpen-cerpen lain dalam Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang. Misalkan penerbit—atau malah Ben sendiri—menaruh dua cerpen itu paling belakang, sudah pasti terasa seperti cerpen susulan, yang ditambahkan untuk mempertebal buku. Namun, selain corak yang masih selaras cerpen-cerpen lain, dua cerpen itu ditaruh di urutan yang tepat, disusul cerpen “Dakocan” sebagai transisi kembali ke kehidupan Arab Betawi.

Ben terlihat sudah matang sebagai pengisah. Ia terampil membangun pertanyaan-pertanyaan di kepala pembaca melalui premis cerita yang rapi, yang nantinya terjawab secara mengejutkan pada akhir kisah—kendati tidak mesti gamblang. Ben, tampaknya, bukan seperti pengarang kontemporer Indonesia yang gemar membiarkan pertanyaan-pertanyaan tidak beranjak dari kepala pembaca, hingga cerpen tuntas terbaca, hingga buku telah tertutup, hingga akhir zaman mungkin saja.

baca juga: Inilah Sepuluh Fakta Marxisme yang Jarang Diketahui!

Kisah-kisah Ben selalu tuntas, selalu selesai, dan selalu terang benderang. Cerpen-cerpen Ben—kendati dengan corak yang berbeda—bisa dicerna sebagaimana dongeng-dongeng yang dituturkan juru cerita, yang bagian terpentingnya bukan kehebohan cerita, karisma tokoh, atau akhir cerita, melainkan hikmah. Dalam cerpen-cerpen getir-jenaka Ben, ada gagasan-gagasan penting yang dilarutkannya di sekujur cerita. Jika umumnya pengarang menempuh jalan gampang dengan menjadikan tokoh fiksinya sebagai corong gagasan, penyambung lidah Ben tidak lain tidak bukan adalah kisah-kisah itu sendiri. []

Judul: Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang

Pengarang: Ben Sohib

Penerbit: Banana

Cetakan: Pertama, Februari 2020

Ukuran: 124 halaman; 12 x 18 cm

 

 


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: