Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kisah Manusia yang Tak Peduli Terhadap Hidup

Oleh: Erwin Setia         Diposkan: 10 Sep 2019 Dibaca: 639 kali


Sabda Armandio membawa delapan belas cerita dalam buku dengan sampul yang amat komikal—bergambar seorang bocah naik sepeda tengah menyeret bangkai tikus—ini. Ia mengawali dengan cerpen “Apa yang Mungkin Terjadi di Kafe Kucing”, sebuah cerpen yang segera mengingatkan saya kepada film Pulp Fiction garapan Quentin Tarantino. Setidaknya karena empat hal: berlatar restoran, penuh obrolan, ada tokoh yang membawa senjata, dan penceritaan menggunakan alur campuran.

Sebagai pembuka, cerpen itu memiliki daya pikat di atas rata-rata. Meskipun dengan gaya penceritaan kurang lazim—ada empat fragmen cerita berbeda yang saling terkait—cerpen itu enak dibaca dengan sindiran-sindiran halus mengenai kehidupan melalui dialog tokoh dan narasinya.

Tujuh belas cerpen berikutnya adalah gerombolan kenikmatan. Kenikmatan dalam membaca. Saya banyak membaca cerpen karya-karya penulis Indonesia, tapi cerpen-cerpen Dio—sapaan akrab Sabda Armandio—berbeda. Ia menolak tunduk kepada gaya cerpen Indonesia kebanyakan yang kerapkali kelewat liris dan berlarat-larat. Sebaliknya cerpen-cerpen Dio tangkas dan lincah. Dalam ketangkasan dan kelincahan itu, banyak terkandung hal-hal menarik, semisal gerutuan atau gagasan mengenai kehidupan yang disisipi oleh penulis.

baca juga: Masa Depan dan Emosi

Dalam cerpen “Hansen”, ada gerutuan menarik soal cinta. “Di dunia ini, barangkali, tak ada satu pun orang yang sungguh-sungguh mampu memahami keinginan orang lain. Pada akhirnya, seperti kata atasanku, semua orang akan terbiasa. Mungkin tak ada orang yang sudi repot-repot mencintai orang lain melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Mencintaimu lebih dalam dari samudera Hindia, katanya. Bah, setengahnya pun kau sudah mampus. Kira-kira, sama seperti tak ada orang yang bisa memaafkan orang lain dengan tulus. Pada akhirnya, orang hanya akan memaklumi saja, lalu perlahan melupakannya. Seperti biasa.” (hlm. 120)

Sementara “Pesan dalam Botol” menyuratkan hal menggelitik yang sangat relevan dengan kehidupan masa kini. “… publik memang mudah sekali lupa. Setiap hari selalu saja ada berita menghebohkan, dan berita yang lalu akan dibiarkan berlalu.” (hlm. 107)

Buku ini berjudul Kisah-Kisah Suri Teladan—yang terdengar seperti tajuk buku kisah para Nabi dan orang-orang saleh. Namun, tidak ada satu pun kisah teladan dalam buku ini. Setidaknya “kisah teladan” dalam makna yang umum kita ketahui, kisah orang-orang yang berbuat baik lantas mendapat berkah atau kisah yang kerap disebut sebagai “kisah inspiratif”. Alih-alih menyuguhkan cerita-cerita inspiratif seperti buku Chicken Soup, cerpen-cerpen dalam kumcer perdana Dio ini hanyalah berisi kisah orang-orang yang tak menanggapi berbagai tragedi dalam hidup dengan kelewat serius. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini adalah orang-orang yang tak terlalu peduli terhadap hidup.

baca juga: Merayakan Peter Carey dan Sejarah Jawa

“Fungsi Minuman Bersoda” menceritakan sepasang lelaki-perempuan yang sedang bercakap-cakap santai di pinggir telaga sambil menyaksikan seseorang yang berusaha menyelamatkan diri dari perahu bebek yang karam. Mereka tidak melihat tragedi di hadapan mereka dengan pikiran gawat. Biasa-biasa saja. Cerpen “Legenda Kaktus yang Lebih Funky dari Yesus Kristus” berisi tentang orang-orang yang diberi karunia kaktus ajaib yang bisa mengabulkan tiga permintaan, tapi orang-orang itu malah meminta hal remeh-temeh. Ada percakapan menarik dalam cerpen itu soal kenapa kaktus ajaib hanya mengabulkan tiga permintaan untuk manusia. “Kenapa tiga? Karena kalau tidak dibatasi manusia maunya banyak. Kenapa manusia? Karena mereka menyedihkan.” (hlm. 45)

“Kisah Ringkas tentang Mayat di Belakang Sofa” mengisahkan seorang penyewa hotel yang bersikap bodoh amat terhadap mayat yang tiba-tiba ada di belakang sofa kamar hotelnya. Sementara “Hari Baru, Harapan Baru” adalah cerita tentang sejarah sebuah lirik lagu dari masa ke masa. Lirik lagu yang mulanya berbunyi O, hari baru… O, harapan baru… Adakah yang lebih celaka dari semua itu, tapi entah kenapa lirik terakhirnya berganti menjadi Adakah yang lebih menyenangkan dari semua itu.

Membaca cerpen demi cerpen dalam buku ini membuat saya heran kepada para tokohnya. Tiap kemalangan dalam hidup seolah-olah mereka sikapi dengan perkataan “Ah, sudah, biarkan saja. Namanya juga hidup.” Tidak ada tokoh yang berusaha melawan nasib buruk dengan semangat menggebu-gebu layaknya pahlawan. Semua tokoh seperti pasrah saja terhadap apa yang terjadi dalam hidupnya. Barangkali pasrah bukan kata yang tepat. Mereka bukan pasrah. Mereka hanya tidak terlalu peduli terhadap hidup.

baca jugaGenerasi Pasca-Nasionalisme Tradisional

Selain perihal tokoh-tokoh yang tidak terlalu peduli terhadap hidup, beberapa cerpen menawarkan gagasan lumayan serius perihal makna hidup dan mati. “Bung Joni” adalah cerita tentang manusia yang hidup abadi, namun tidak dipedulikan oleh orang-orang. “Sembilan Nyawa” adalah cerita tentang orang yang berusaha mati dengan melakukan bunuh diri berkali-kali, tapi malaikat maut tak juga mencabut nyawanya. Dan “Hukuman Mati” adalah cerita tentang orang yang sebentar lagi akan ditembak, tapi sempat-sempatnya membicarakan hal tak penting.

Cerpen-cerpen itu seolah mengatakan bahwa apalah gunanya hidup lama-lama, kalau tak ada orang yang memedulikanmu. Apa pula gunanya kepengin cepat mati, toh, kalau belum waktunya, malaikat maut juga tak akan mencabut nyawamu. Dan soal hukuman mati atau detik-detik terakhir kehidupan, sudahlah, tak perlu diseriusi.

Sehabis membaca cerita-cerita tersebut, saya seolah-olah mendapat bisikan: Mati-mati sajalah. Hidup-hidup sajalah. Apa yang istimewa dari keduanya?

Hal itu membuat kepala saya seperti disiram sebaskom air secara mendadak. Membuat saya kaget, namun di sisi lain tersadar akan apa yang sebetulnya ada dalam hidup ini. Peribahasa kita punya sebutan untuk apa yang terjadi dalam banyak kesempatan dalam hidup yang fana ini: Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

baca juga: Don Quijote dari la Mancha dan Hal-hal yang Belum Selesai

Demikianlah semesta Kisah-Kisah Suri Teladan mengajarkan: Ngapain peduli-peduli amat sih sama hidup. (*)

  •  

Judul: Kisah-Kisah Suri Teladan

Penulis: Sabda Armandio

Penerbit: Gambang Buku Budaya

Tebal: vii+161 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: