Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kisah Persahabatan di antara Kuasa Negara dan Agama

Oleh: Widyanuari EP         Diposkan: 23 Nov 2018 Dibaca: 1157 kali


Setelah pernah menyapa publik pembaca sastra di Indonesia lewat novel Korupsi, novelis Maroko Tahar Ben Jelloun kembali hadir lewat novel Last Friend, terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Sahabat Terakhir yang diterjemahkan oleh Slamat P. Sinambela dan diterbitkan oleh Penerbit Basa Basi, 2018. Novel ini mengangkat kisah tentang persahabatan dua lelaki, sejak masa remaja hingga menua bersama. Kita akan mendapati kebenaran atas apa yang tertulis di sampul belakang, bahwa, “Persahabatan jauh lebih tragis daripada cinta. Ia berlangsung lebih lama.” kata Oscar Wilde. Novel setebal 195 halaman ini mewadahi tiga puluh tahun persahabatan dua lelaki dari dua kota besar di Maroko: Ali dari Fes yang merupakan kota tua jantung Maroko, sedangkan Mamed dari Tangiers yaitu sebuah kota pesisir yang berhadapan dengan selat Gibraltar.

Ali dan Mamed membuat kita takjub perihal cara mereka menjaga keutuhan persahabatan. Perkenalan mereka cukup heroik. Bermula saat Ali hendak dikeroyok oleh teman-teman di sekolah sebab sentimen kedaerahan. Ali adalah seorang pendatang. Ia datang dari Fes, kota yang konon tak tersentuh waktu karena kekunoannya dan tak menghendaki modernitas dan menjadi muasal kelahiran peradaban di Maroko. Di sekolah barunya, diskriminasi dan tatapan sinis biasa diperoleh oleh Ali. Ini disebabkan adanya kesenjangan status sosial di antara keduanya. Julukan kota internasional Tangiers menerbitkan semangat superioritas warganya. Namun, terlalu banyak orang Fes yang datang ke Tangiers dan mendapat pekerjaan yang baik, sekolah yang bagus, serta mengisi jabatan penting. Orang-orang dari Fes adalah kaum Yahudi tapi beragama Islam. Status ini membuat orang Fes punya keunggulan, secara kepandaian mereka seperti Yahudi, namun mereka tak diperlakukan secara Yahudi. Di tataran ini wajar bila banyak warga Tangiers sinis pada orang-orang Fes. Tapi Mamed tak ingin terjebak dalam stigma semacam itu. Mamed merasa perlu menolong Ali hingga pengeroyokan itupun urung terjadi. Sejak itu pertemanan mereka menjalani hari-hari bersama dalam segala kewajaran dua lelaki remaja di Maroko.

Jelloun secara terbuka membentangkan fase demi fase kehidupan mereka. Kenakalan remaja di kota mana pun di dunia, rasanya tak akan pernah jauh dari urusan perempuan, mabuk-mabukan, serta pelbagai hal konyol yang sekiranya mereka lakukan saat dewasa niscaya bakal menerbitkan rasa malu tak berkesudahan. Ali dan Mamed adalah sebuah manifestasi remaja Maroko yang dengan sederet ulah gilanya mencoba menikmati apa saja yang mungkin mereka sukai. Mereka tahu Islam melarang mereka melakukan hal-hal semacam itu, tetapi jiwa muda dan lingkungan mereka menyilakan siapapun menuruti hawa nafsu ketimbang mematuhi Alquran dan hadis.

baca juga: Terjebak di Labirin (Sejarah) Sebuah Kota

Tak sulit bagi remaja berduit di Tangiers untuk mendapatkan sepasang payudara bahenol dan bokong semok untuk melepas keperjakaan mereka. Tak sulit pula bagi mereka mengajak perawan-perawan kota untuk sekadar melepas birahi meski tanpa bersebadan. Dan anehnya, di rumah dan di hadapan orangtua mereka akan berperan sebagai penganut Islam yang taat meski begitu keluar rumah segalanya berubah, segalanya tak terarah.

Jangan tergesa-gesa menuduh mereka macam dua lelaki bajingan yang sehari-harinya melulu menumpuk aib dan dosa. Sedari remaja, mereka berdua adalah pembaca buku. “Kami berdua bertukar majalah dan buku…Tatkala kami tidak membicarakan urusan kelamin, kami mendiskusikan budaya dan politik,” catat Jelloun. Nakal boleh goblok jangan, kata Muhidin M Dahlan – dan tampaknya Jelloun hendak menghadirkan dua remaja macam itu di novelnya ini. Camus, Frantz Fanon, Karl Marx, Sartre: deretan nama besar yang karyanya mereka bincangkan sehari-hari. Hari-hari bersantai sepulang sekolah seringkali mereka habiskan dengan debat-debat panjang. Saling kritik sudah biasa namun dalam misi memberikan penilaian secara jujur, sekaligus mengukur kemampuan otak masing-masing.

Mereka berdua pun lantas tumbuh dewasa dengan saling menghormati dengan segala kecenderungan pemikiran masing-masing. Ali lalu menjadi seorang penikmat film dan Mamed tergoda pada pemikiran Karl Marx dan bergabung dengan Partai Komunis Perancis. Mamed tumbuh menjadi lelaki yang menjunjung tinggi semangat komunisme dengan segala prinsip hidup yang dipegangnya. Ia pun tampil sebagai pribadi berwatak terbuka, tanpa basa-basi, teguh pada ideologi. Bahkan, seperti komunis kebanyakan, Mamed anti terhadap perselingkuhan—satu hal yang berlawanan dengan Ali. Meski mengaku sebagai penganut Islam yang taat, Ali pada akhirnya mengaku gemar pelesiran birahi alias berselingkuh.Tetapi soal pemikiran, Ali kian kokoh sebagai seorang penikmat dan pengkaji film dengan kecenderungannya pada liberalisme.

baca juga: Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Meski keyakinan ideologis mereka berbeda, keduanya tak pernah merasa ada jurang menganga menghalangi persahabatan mereka. Kebosanan itu wajar. Debat keras, apalagi. Kita ingat tokoh pendiri bangsa Indonesia, misalkan saja Soekarno dan Hatta. Meskipun satu sama lain berseberangan dalam caranya memandang ideologi, persahabatan di antara mereka tetaplah kuat terjalin.

Kalaupun ada pertikaian keras sehingga memungkinkan keduanya tak bertegur sapa baik lewat surat maupun telepon, itu masih terjembatani dengan kehadiran sosok Ramon. Dialah penyambung segala miskomunikasi yang mungkin terjadi. Meski Jelloun memberi porsi pengisahan yang sedikit terhadap sosok Ramon ini, perannya di akhir cerita sangat vital. Terutama saat Ali dan Mamed seolah hampir ‘putus’ untuk selamanya, Ramon berhasil meredam segala duga dan prasangka di antara mereka.

Dengan pengisahan yang intim, Jelloun merangkai ikat demi ikat tali menjadi semacam jaring kisah persahabatan yang kuat dan tahan lama. Pola penceritaan dua sudut pandang membikin pembaca menyelusuri masing-masing perasaan dan ketulusan mereka dalam bersahabat. Ali yang gemar memendam segala macam keberatan atas kelakuan Mamed, serta Mamed yang acap melihat anomali dalam sikap dan keyakinan Ali, keduanya ditulis dalam porsi yang adil. Namun, di balik pengisahan tiga puluh tahun perkariban mereka, Jelloun sebenarnya tengah menghadirkan lanskap penting terkait kondisi masyarakat di Maroko. Jelloun menggunakan dua subjek tokoh utama ini sebagai cara menelanjangi apa yang selama ini tak terlihat dari Maroko. Tentang Islam, misalnya. Maroko adalah negara dengan agama resmi Islam. Jelloun mengkritik Islam di Maroko awal tahun 1960-an yang sering dijadikan alat kekuasaan. Sedangkan dalam praktiknya, sistem monarki Islam yang diterapkan di sana justru lemah di tataran akar rumput. Dogma-dogma adat dan tradisi kian menjadikan cara masyarakat Maroko memandang Islam sebatas formalisme.

baca juga: Toko Serba Ada: Puisi-puisi Galeh Pramudianto

Berkaitan dengan itu, negara pun hadir sebagai sebuah sistem yang mengekang kebebasan berpikir warganya. Ini kritik yang telak dari Jelloun, saya kira. Tak boleh ada satu pun orang-orang di Maroko boleh menyinggung komunisme dan sederet variannya. Tak hanya itu, bicara politik sama halnya bicara koreng di bokong Raja Hasan, sang penguasa Maroko kala itu. Aktifitas diskusi, menonton film, hingga debat seputar politik dan kebudayaan yang menjadi kegemaran Ali dan Mamed di masa remaja rupanya sudah lama terdeteksi intel, yang tak lain teman diskusi mereka sendiri. Represi total terjadi, dan pelbagai alasan tentang pentingnya bicara politik bagi anak muda mentah belaka. 

Bagi Jelloun, Tangier secara khusus dan Maroko secara umum selalu menyimpan enigma dan ironinya sendiri. Selalu ada alasan bagi negara untuk memberangus kebebasan warganya. Di sisi lain, ada semacam unsur enigmatis yang menjerat warga Tangier dalam semacam suasana yang sulit terjelaskan namun selalu mendesirkan rindu-dendam. Tangier dibenci sekaligus dirindukan. Ada semacam tali kekang gaib yang membuat orang seperti Ali selalu teringat pada Tangier. Rafael Chirbes, misalnya, lewat novel Mimount menyebut kota-kota di Maroko, terutama Mimoun (kota fiksi yang bertolak dari keadaan di Maroko) dan Fes, sebagai kota yang selalu terbuka dengan orang-orang baru. Mereka membuat para pendatang itu hanyut dalam perasaan yang sukar dijelaskan. Malam-malam di sana selalu merangsang orang-orang bersantai di kafe atau di kedai murahan pinggir jalan, baik menenggak bir sampai teler atau duduk berjam-jam sembari menyeruput teh hingga lupa waktu.

Maroko memang menyimpan beban sejarah yang panjang tentang kolonialisme, baik dari dalam maupun dari luar, baik oleh negara asing seperti Spanyol atau oleh bangsanya sendiri melalui kekuasaan negara yang terus-menerus mengekang penghuninya. Karena itulah terbentuk semacam mentalitas orang-orang yang terjinakkan, namun di sisi lain mereka tetap melawan meski dengan cara yang paling aneh sekalipun. Mereka melawan namun di dalam sebuah kepatuhan—meminjam istilah Ariel Heryanto.

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Bahkan bagi Mamed yang kala itu telah setahun tinggal di Swedia, hal-hal mengganggu di Marokolah pemantik kerinduan itu. Kisah dramatis persahabatan dua lelaki Maroko itu lapis pertama novel ini, lapis keduanya gambaran sosial politik tentang sebuah negara yang sebenarnya tengah terguncang dan tak pernah bisa lepas dari beban sejarah kolonialisme, dan lapis ketiga ialah sebuah upaya untuk mendobrak kemunafikan yang mengakar dalam watak penghuni Maroko. Tiga lapis itulah alasan novel Sahabat Terakhir ini menjanjikan untuk dibaca publik dari pelbagai macam latar belakang keilmuan.[]

  •  

Judul: Sahabat Terakhir

Penulis: Tahar Ben Jelloun

Penerjemah: Slamat P. Sinambela.

Penerbit: Penerbit Basa Basi

Tebal: 195 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: