Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 18 Sep 2018 Dibaca: 1005 kali


Penerbit Kakatua menghadirkan 9 cerita Wilde dari dua antologi dalam 200 pagina yang enak untuk dinikmati. Penerjemahnya adalah Nurul Hanafi, dan tentang terjemahan ini dia mengungkapkan satu patokan dasar: karena Wilde menulis kisah-kisahnya dengan banyak menggunakan diksi arkais maka Hanafi pun menerjemahkannya dengan—sebagaimana dikatakannya dalam pengantar—“mempertahankan selera bahasa ini dan sebisa mungkin mencari padanan yang tak kalah kunonya dalam kosakata Melayu Lama atau Sanskerta”. Mungkin karena itu pula dalam terjemahan ini bisa kita temukan kata “kelulus” (galley) dan “ketimang” (buckle, dalam KBBI: “timang”), misalnya.

Tampak bahwa Hanafi adalah seorang penerjemah yang tahu apa yang dia kerjakan. Seorang penerjemah yang tidak asal dan tahu apa yang dia kerjakan cenderung menghasilkan karya terjemahan yang layak dibaca: itu menjadi pembeda antara hasil kriya manusia penerjemah dengan mesin penerjemah (ataupun dengan manusia penerjemah yang merasa dirinya mesin). Kekurangahlian merangkai cerita dalam bahasa Indonesia, dalam terjemahan karya sastra, adalah hal yang bisa berujung menggelikan, karena—dalam kasus prosa—hal itu berpotensi membuat cerita tidak mengalir lancar.

Dan tidak demikian halnya dengan Pangeran Bahagia & Rumah Delima: cerita terjemahannya mengalir, mungkin karena sang penerjemah sekaligus juga adalah seorang juru kisah—satu novel dan satu kumpulan cerpennya sudah terbit. Sisi puitis Wilde juga bisa tertangkap tanpa mengorbankan cerita. Kita misalnya akan menemukan “Seriti” untuk “Swallow”, diksi yang jelas lebih puitis daripada “Burung layang-layang”, meski kalau kita mau berpegang pada KBBI maka tulisannya adalah “sriti”, tapi hal teknis semacam itu tentu adalah urusan dapur penerbit dengan selingkungnya sendiri-sendiri.

Tak ketinggalan tentu satu ciri khas penerbit Kakatua juga hadir dalam buku ini: ilustrasi-ilustrasi khas buku klasik. Hal tersebut sudah jelas menjadi nilai tambah tersendiri, pertama karena hal itu mengingatkan pada desain naskah-naskah asli Wilde dalam bahasa Inggris dan kedua mari kita mengenang kata-kata Alice dalam maha karya Carroll: “apalah guna buku yang tanpa gambar atau percakapan?”

Tentu kalimat Alice berlebihan—dan terlalu jauh dan adigung kemilsuf jika kita menghubungkannya dengan pragmatisme William James misalnya—dan kita harus ingat sebagaimana Alice in Wonderland, karya Wilde ini pun adalah dongeng untuk anak-anak. Ilustrasi akan menjadi simbol keriuhan dunia anak-anak, tak selalu bahagia dalam jerat makna bahagia yang sama dengan orang dewasa memang, tapi tetap saja dunia anak-anak adalah dunia yang penuh warna-warni, dan ilustrasi adalah bagian dari warna-warni dunia yang riuh itu.

baca juga: Melihat (Imajinasi) Truk

Tulisan ini sengaja diberi judul Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain—dan bukan Wilde dan Sembilan Kisah Lain misalnya—karena dalam versi Kakatua terjemahan Nurul Hanafi ini kita tak hanya menemukan kisah-kisah ciptaan Wilde tapi juga sebuah kisah tentang Wilde yang ditulis oleh penerjemahnya. Dalam hal ini Kakatua telah bergabung dengan tradisi yang sangat bagus di mana penerjemah memiliki ruang untuk bercerita tentang karya yang dia terjemahkan, dan penulisnya. Ruang itu tentu merupakan sebuah tantangan bagi penerjemah, tapi hal itu juga sekaligus sebuah kesempatan: penerjemah akan mendapatkan kredibilitas tambahan dari tulisan pengantar dia untuk kisah yang diterjemahkannya.

Terlepas dari bahwa kisah-kisah Wilde dan kisah-kisah yang ditulis Wilde adalah kisah-kisah yang muram, terjemahan versi penerbit Kakatua ini memang menyenangkan, dan layak baca. Meskipun demikian, ada satu bagian di dalamnya yang terasa sedikit mengganggu. Di bagian menjelang akhir kisah “Si Raksasa Egois”, dalam buku ini tertulis “karena dilihatnya telapak tangan si bocah terkena bekas cakaran, dan bekas kuku itu ada pula di kedua kaki kecilnya.” “Bekas cakaran” dan “bekas kuku” itu dalam naskah aslinya adalah “the prints of two nails”.

Apa yang terasa mengganggu bukan fakta bahwa frasa yang sama itu diterjemahkan ke dalam dua frasa yang tak sama persis (bekas kuku dan bekas cakaran), melainkan ada hubungannya dengan apa yang dijelaskan oleh Hanafi dalam pengantarnya yang sangat bagus tentang “minat dan keterikatan Wilde pada ajaran Kristen” dan bahwa dalam De Profundis Wilde sendiri menyebut ada “hubungan yang intim dan sangat dekat antara kehidupan sehari-hari Kristus dan kehidupan sehari-hari seniman” dan “bahwa Kristus adalah sebenar-benar pendahulu gerakan romantik dalam hidup”.

Tepat berdasar pada apa yang dijelaskan oleh Hanafi itulah kira-kira kisah Raksasa Egois bisa menjadi lebih masuk akal. Ketika “the prints of two nails” itu diterjemahkan sebagai “bekas cakaran” atau “bekas kuku”, lalu apa makna simbolis frasa tersebut? Akan sukar membayangkannya, bahkan hubungannya dengan petunjuk bahwa luka itu adalah “luka Cinta” pun tak memberikan tambahan titik terang. Belum lagi selanjutnya siapakah si anak kecil itu, dan kenapa ia punya taman bernama “Surga”? Si Raksasa kemudian mendadak berlutut?

baca juga: Puisi-Puisi Aditya Ardi N

“Nails” memang bias bermakna “kuku” tapi juga bias bermakna “paku”. Bahwa “bekas nails” itu ada “dua” maka dibandingkan menerjemahkannya sebagai “kuku” rasanya akan lebih pas menerjemahkannya sebagai “paku”. Jarang-jarang ada cakaran yang menggunakan dua kuku saja dan terasa aneh juga bahwa bias ada cakaran pada telapak tangan. Ketika diterjemahkan sebagai paku, “dua bekas paku”, yang artinya bekas satu paku di tiap telapak tangan dan bekas satu paku pada tiap kaki, maka makna simbolis identitas si anak, mengapa si anak menyebut bekas luka itu sebagai luka Cinta, mengapa si raksasa setelah bertanya tentang identitas si anak kemudian “campuran antara perasaan hormat dan bertanya-tanya menguasainya, dan dia berlutut di depan anak kecil itu” (dalam buku ini diterjemahkan “dan anehnya ia tenggelam dalam rasa syahdu, lalu berlutut di hadapan si bocah”) dan bahwa dia mengajak si raksasa ke taman Surga pun jadi masuk akal: si anak kecil adalah simbol Kristus, dua bekas paku pada telapak tangan kanan dan kiri dan dua bekas paku pada “kaki kecil”-nya adalah tanda bekas penyaliban, karena itu pulalah si “anak kecil” itu mengatakan bahwa itu adalah “luka Cinta” yang karenanya tak perlu dibalas, dan tidakkah mungkin bahwa alasan si Raksasa mendadak berlutut itu adalah karena dia baru saja sadar identitas si anak itu?

Tentu saja pilihan menerjemahkan merupakan pilihan prerogatif penerjemah (ditambah sumbangan saran dari editor), dan kita di sini tidak pada posisi membahas benar atau salah: pilihan penerjemah itu sendiri sudah merupakan satu bentuk tafsir, dan terlalu menggebu memaksa orang menerima tafsir kita tentang kebenaran adalah satu aroganisme kenes yang hanya menjadi satu pertanda bahwa kita kurang banyak membaca karya sastra. Mungkin saja dengan membaca versi terjemahan ini akan muncul pemaknaan lain yang tak kalah bagusnya dengan pemaknaan di atas. Bagi saya, itu tentu saja hal yang sangat sah dalam dunia sastra, dalam dunia terjemahan karya sastra.

  •  

Cep Subhan KM ,Lahir di Ciamis dan kini berdomisili di Jogja. Puisinya termuat dalam antologi penyair muda Ciamis Kota Menjadi Kata (Kentja, 2017) dan Hari Tanpa Nama (Tanda Baca, 2018).

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


Tags cep subhan

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: