Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kita Sama Resahnya

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 23 May 2019 Dibaca: 1820 kali


Tetiba seorang teman bertanya mengenai klasifikasi antar generasi berdasarkan tahun kelahiran. Ia sedang mencermati keadaan, sekaligus mencoba memastikan apa yang selama ini membuatnya cemas. Pertanyaan mengenai keinginan memiliki pasangan, hunian, hingga hal-hal remeh seperti memastikan donasi recehnya sampai pada yang membutuhkan, ternyata cukup merasuki pikiran.

Kekhawatiran macam ini pun tak luput darimu pula. Misalnya setelah membaca novel-novel cinta, ketakutan atas atas rasa sepi memunculkan keinginan memiliki pasangan, lalu hilang setelah kesadaranmu tertimpa alkohol. Atau saat kau membaca Homo Deus karangan Yuval Noah Harari, kekhawatiran akan Artificial Intelegence muncul menghantui.

Bahkan bisa saja setelah membaca, di dalam kepalamu terlintas pertanyaan, “akankah keputusan kita keluar dari rumah untuk membeli rokok di minimarket akan ditentukan oleh kondisi cuaca yang diumumkan oleh Accu Wheater, dan jalan yang kita pilih adalah jalan yang ditentukan oleh nihilnya garis merah dalam Maps?”.

baca juga: Perlawanan Mangir: Jalan Pedang Menentang Mataram

Tampaknya, bentuk ketakutan semacam itu hanya muncul di kepala beberapa orang, sedangkan yang lain merasa bahwa cukup terbantukan dengan teknologi.

Kelompok usia 20-an adalah kelompok yang menentukan. Sisi heroik kelompok ini dalam pemilu 2019, suaranya begitu diributkan berbagai kubu. Dari sisi ekonomi, kelompok usia ini bisa mewujudkan bonus demografi. Tapi dari dirinya sendiri, kelompok ini—termasuk saya—sedang bingung menentukan arah. Quarter life crisis.

*

Kau mungkin terlahir dengan keadaan keluarga yang cukup, lalu suatu saat kau ingin membebaskan dirimu, menolak segala kemapanan yang telah tersedia. Kau menikmati alkohol tiap malam, kau merokok tanpa lagi peduli dengan kondisi paru-parumu, kau mulai menimbang adanya kesepakatan dalam berhubungan badan. Semua itu mungkin terjadi, meskipun tidak seluruhnya.

baca juga: Jalan Terjal Pembangunan Jalan Tol

Dalam rumah, alkohol adalah minuman yang tak boleh kau simpan bahkan sentuh, misalnya. Membawa teman lawan jenis ke rumah hanya akan mengundang komentar tetangga. Kita sedang berada dalam pagar tak kasat mata, yang dinamakan norma dan nilai sosial. Kehidupan kita diatur oleh perspektif mayoritas. Kebebasan kita bersyarat dan sukar untuk ditempuh. Sekali melangkah keluar pagar, amoral adalah nama tengah kita yang belum kering ditulis oleh pena.

Murakami, pada tahun 1979 menuliskannya sebagai novel, yang juga karya pertamanya. Dengarlah Nyanyian Angin, novel ini membahas keresahan anak muda yang hidup dalam arus kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional. Meski ditulis pada tahun dan lokasi yang berbeda, kisah itu masihlah relevan dengan keadaan anak muda, seperti kita.

*

Kita yang resah, kita yang bingung, kita yang takut akan hari depan. Usia 20-an bagi beberapa orang memanglah berat, dan acap kali menimbulkan rasa untuk berhenti. Tapi, bukan berarti pada usia ini kita menyerah. Menikmati hidup adalah hak kita sebagai manusia, dan menghidupi hidup sepenuhnya adalah pusara kebahagiaan kita.

baca juga: Intrik dan Tragisme Manusia

Nezumi, tokoh Murakami yang terlahir kaya, justru membenci orang kaya, “Kukatakan dengan tegas ya, aku membenci orang kaya mereka tidak memikirkan apapun...” kata Nezumi.

Sebagai anak dusun yang sempat belajar di sekolah yang cukup elit di kabupaten, mengerjakan pekerjaan rumah untuk rekan di kelas adalah cara bertahan paling ampuh sampai istirahat makan siang. Lapar, bisa membuat kita tak mampu melakukan apapun, tapi juga bisa membuat kita melakukan apapun untuk menunda lapar datang kembali. Pengalaman lapar kemudian memancing kita untuk menjaga perut-perut lain agar tak kelaparan, atau justru sebaliknya, makin tak peduli.

Resah adalah anugerah. Mampu merasakan keresahan adalah cara paling mudah mengetahui kita masih berebut udara yang tercemar bersama. Menurut sains, otak adalah bagian tubuh paling mutakhir yang mampu memberi tanda kita masih hidup. Kita mati, ketika otak tak lagi berfungsi.

baca juga: Menjadi Seekor Ikan di Pusaran Zaman

Bukan berarti orang-orang kaya telah mati, mereka pasti tetap berpikir menjaga perputaran ekonominya, bahkan mengembangkan bisnis mereka. Tapi mengenai ketidakpeduliaannya akan kelas sosial di bawah mereka, atau peduli karena sedang ingin mendapatkan suara, bahkan peduli saat hendak membuat megaproyek di sekitar masyarakat kelas bawah misalnya, Nezumi memang benar. Orang kaya tak memikirkan apapun.

*

Membaca Dengarlah Nyanyian Angin adalah memahami keresahan. Keresahan anak muda yang berbenturan dengan nilai-nilai tradisional, dan mencoba membebaskan dirinya. Judul-judul novel dan cuplikan lirik-lirik yang ada di sana-sini bukan hanya menandai banyak pustaka dalam otak Murakami. Tapi juga sebagai penegas bahwa apa yang ia sampaikan adalah mengenai kita yang sama resahnya di usia muda ini.

Kita sama resahnya, dan manusia sama-sama ingin didengar dan mendengar. Kita hanya perlu berbagi, meskipun itu keresahan diri sendiri. Keresahan kita adalah pengalaman yang berbeda dari yang lain, dengan saling bercerita dan saling mendengar kita berbagi pengalaman dan solusi atas apa yang kita alami. Kita hanya perlu saling peduli, memutus rantai acuh tak acuh satu sama lain.

baca juga: Orientasi Pendidikan Yang Salah

Seperti kata Murakami, "menulis bukanlah cara untuk menyembuhkan diri, melainkan tidak lebih daripada sekadar percobaan-percobaan kecil dalam upaya menyembuhkan diri." Kita sama resahnya, dan kita perlu saling peduli. Peluk diri.

 

Judul: Dengarlah Nyanyian Angin

Penulis: Haruki Murakami

Penerjemah: Jonjon Johana

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal: iv+119 halaman.

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: