Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Konspirasi

Oleh: Anggoro Kasih         Diposkan: 17 Sep 2018 Dibaca: 1323 kali


            “Mending kamu istirahat saja, Mas.”

            “Aku harus menjenguknya, Sayang.”

            “Tapi kamu sedang sakit. Istirahatlah.”

            “Aku sudah sembuh, Sayang. Oh iya, buah apelnya aku ambil sebagian, ya?”

            “Apel itu untuk kamu, agar kesehatanmu lekas membaik. Kamu jangan ngeyel.”

            “Kan aku ambil sebagian.”

            Setelah mengambil seplastik apel di meja, Danu mencium kening Umi yang wajahnya masih ditekuk. Sebelum melangkahkan kaki keluar, tak lupa Danu mengambil sesuatu yang sepertinya sudah disiapkan sebelumnya. Tapi ketika dia mau mengambil yang dia cari, tidak ditemukan. Lalu dia menanyakan hal itu kepada istrinya.

            “Oh itu. Kupindah di balik pintu belakang,” jawab istrinya.

            Danu menuju ke tempat tersebut. Samar-samar, suara istrinya masih terdengar menanyakan tentang benda itu, tetapi Danu tak menggubrisnya.

            Danu menaikkan kancing jaketnya. Sesekali ia menghirup udara dalam-dalam karena ingus mulai dari hidungnya. Ya, belakangan ini, malam memang terasa lebih dingin dari biasanya. Hal itu pula yang membuatnya terserang flu dan meriang beberapa hari terakhir. Namun semua itu tak mengurungkan niatnya untuk tetap pergi.

            Danu menyusuri jalanan yang tampak sepi. Sekilas dia melihat pohon beringin besar yang berdiri kokoh di pinggir jalan itu. Pohon yang daunnya sangat rimbun, bergerak-gerak tertiup angin. Danu terus melanjutkan langkahnya, rumah demi rumah berbaris di kanan dan kiri jalan, semua pintu rumah telah tertutup, diterangi lampu temaram. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul delapan, namun sudah tak nampak orang-orang. Mereka lebih memilih berdiam diri di dalam rumah ketimbang keluar dengan risiko menerima terpaan udara dingin malam.

            Setelah beberapa waktu berjalan, Danu berhenti di depan rumah bercat biru muda. Sebuah rumah berpagar besi, tingginya lebih sedikit dari orang dewasa berdiri. Telunjuk kanan Danu memencet tombol bel berwarna putih yang ada di balik pintu gerbang. Tak berselang lama, keluar perempuan paruh baya.

            “Cari siapa, Tuan?”

            “Pak Wignyonya ada, Bu?”

            “Ada, Tuan. Silakan masuk.”

            Setelah perempuan itu memersilakan Danu duduk, dia kembali masuk rumah. Danu duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati berhiaskan ukiran di beberapa bagian. Sesaat kemudian perempuan paruh baya tadi datang lagi membawa minuman untuknya.

            “Silakan diminum, Tuan.” Perempuan yang dia ketahui bernama Bu Ngadinem, pembantu Pak Wignyo itu menaruh gelas minuman di atas meja.

            “Terima kasih, Bu. Sebenarnya tidak perlu repot-repot.”

            “Oh, ya. Sebentar ya, Tuan. Pak Wignyonya baru selesai makan.”

            Setelah perempuan paruh baya itu pergi, sekilas Danu mengedarkan pandangan. Dilihatnya beberapa lukisan berukuran besar dengan pigura berwarna emas menghiasi dinding ruangan.

            “Ada perlu apa kamu ke sini?” tanya lelaki berkumis dan berjenggot lebat yang baru muncul dan masih dalam posisi berdiri. Raut mukanya tampak menggambarkan kekagetan dan tatapan penuh curiga.

            Tentu saja Pak Wignyo kaget, karena Danu, pemuda yang selama ini dia musuhi, ternyata berani datang di saat dirinya sedang sakit. Pak Wignyo dengan Danu memang berbeda keyakinan. Hal itulah yang mendasari Pak Wignyo membenci Danu. Pak Wignyo merupakan tetua desa sekaligus tim sukses dari partai X. Sementara Danu adalah ketua pemuda desa yang condong mendukung partai Y. Mereka berdua berseberangan.

            Di desa itu, awalnya hampir semua warga simpatisan partai X. Hal itu karena kerja dari Pak Wignyo selaku tim sukses, Dia selalu memakai cara memberi amplop agar waktu pemilihan nanti, warga mau memilih calon dari partai X. Namun semenjak Danu diangkat sebagai ketua pemuda yang getol memberi sosialisasi tentang pemillihan calon atas dasar pemberian amplop adalah menyalahi aturan. Dari situ lambat laun warga mulai sadar.

            Ringin, adalah nama desa itu. Desa yang terletak di atas tanah kering dan tandus. Sejarah nama desa itu diambil dari keberadaan pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah desa. Konon, pohon itu sudah ada di sana jauh sebelum desa itu ada. Maka dari itu, tak ada yang tahu pasti usia pohon beringin itu. Dan lagi pohon beringin itu dianggap sakral oleh warga desa.

            Sebagian besar warga desa Ringin hidup dengan cara berdagang. Termasuk Pak Wignyo dan Danu. Pak Wignyo membuka usaha rumah makan yang selalu ramai. Sementara Danu membuka usaha warung makan kecil-kecilan, tepat di samping rumahnya. Warung Danu belum banyak pembeli karena usaha itu masih tergolong baru. Berbeda dengan  rumah makan Pak Wignyo yang sudah buka lumayan lama.

***

baca juga: Penjara Tak Membuatnya Berhenti Menulis

            Dunia politik bukanlah sekadar dunia biasa. Nyatanya politik bisa berimbas ke hal lain. Rumah makan Pak Wignyo yang dulu selalu ramai, kini mulai ditinggalkan pelanggannya. Dan ironisnya pelanggan dari rumah makan Pak Wignyo itu berpindah ke warung Danu. Perkaranya mungkin bukan masalah rasa masakan atau harga, karena baik rumah makan Pak Wignyo maupun warung Danu, sesunggunhya tidak berbeda jauh. Hal itu lebih karena warga mulai cocok dengan pandangan dan partai pilihan Danu.

            Upaya demi upaya terus dilakukan Pak Wignyo untuk menghentikan langkah Danu. Dari fitnah sampai menebar berita hoax telah dilakukan. Namun semuanya nihil. Nampaknya warga mulai pintar dalam menerima isu dan berita yang menyangkut politik.

***

            Siang itu, saat matahari hampir berada tepat di atas kepala, para warga desa berbondong-bondong lalu berkerumun di depan rumah Pak Wignyo. Mereka sedang mengantri menerima sembako dan beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya. Sembari memberikan sembako, Pak Wignyo beserta anak buahnya menitip pesan kepada mereka agar kelak, sewaktu pemilihan, mereka mau memilih calon dari partai X. Jika kelak calon dari partai X menang, bantuan-bantuan semacam itu dijanjikan akan terus diadakan guna menyejahterakan warga.

            Ada beberapa warga yang merasa yakin lalu berjanji kelak akan memilih partai X. Namun beberapa lainnya masih beranggapan bahwa bantuan itu adalah suap terselubung. Mereka menilai, jika selama kampanye saja calon partai X menggunakan cara suap, bagaimana nanti jika mereka menang dan menjabat. Warga yang berpandangan seperti itu, menerima bantuan tersebut sebatas rezeki semata. Sementara perkara memilih, tetap akan kembali kepada pilihan sendiri.

***

           “Kau ingin meledekku?” tanya Pak Wignyo lagi.

            “Saya mendengar kabar bahwa Bapak sakit. Saya hanya ingin menjenguk, Bapak,” jawab Danu sambil tersenyum.

            “Tak usah bersandiwara. Aku tahu kamu ingin menjatuhkanku!”

            “Saya tidak berbohong.” Danu berdiri menghampiri Pak Wignyo untuk memberikan buah apel yang dibawanya.

            “Saya bawakan buah kesukaan Bapak. Semoga Bapak lekas sembuh,” kata Danu. Setelah itu Ahmah mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak Pak Wignyo berjabat tangan.

             Kini keduanya tengah duduk berhadapan. Mereka larut dalam perbincangan. Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk rencara Danu untuk mengakhiri permusuhan. Masalah pilihan warga diserahkan kepada warga. Pak Wignyo juga sepakat. Tapi tengah  obrolan, jemari Pak Wignyo sibuk dengan layar handphone, Sekarang Danu di rumahku. Sepulang dari sini laksanakan perintahku!

***

            Umi menatap jam dinding. Berulang kali dia melihat jam itu dalam jeda waktu yang singkat. Ia kesal dengan suaminya yang tak mendengarkan nasihatnya, nekat pergi dalam keadaan sakit. Mungkin bukan karena kesal tapi lebih pada perasaan khawatir. Waktu terus berlalu. Perasaan Umi tidak menentu, hatinya resah. Sudah hampir tengah malam dia belum mendengar suara ketukan di pintu.

***

baca juga: Untuk Menghadapi "September Ends"

           Suara kokok ayam terdengar bersahutan. Mentari mulai menampakkan diri di timur. Betapa kagetnya Bu Ngadinem ketika menjumpai tubuh majikannya terbujur kaku di ruang tamu. Mulutnya menganga mengeluarkan busa. Di lantai tergeletak buah apel dengan bekas gigitan. 

  •  

Anggoro Kasih, lahir di Karanganyar, Jawa Tengah. Pernah menuntut ilmu di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS. Sekarang aktif di komunitas sastra Kamar Kata. Sangat menyukai musik metal dan pemandangan alam. Dapat dihubungi di kertaskusam21@yahoo.com. Karya yang pernah dimuat antara lain : Cerita Seorang Barista (Medan Pos), Biru Jingga (Riau Pos), Ibarat Langit, Tak Terbatas (Nusantaranews.co), Rahasia yang Disimpan Ayah (Tabloit Nova)

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: