Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Konsumerisme: Setan Hijrah yang Harus Diwaspadai

Oleh: Fitriana Hadi         Diposkan: 24 Sep 2019 Dibaca: 2284 kali


Pada 2015, tahun kedua saya menjadi mahasiswa di Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, ISI Yogyakarta saya memperhatikan perubahan penampilan beberapa mahasiswi sekelas yang jumlahnya memang tidak begitu banyak. Beberapa dari mereka memakai jilbab. Hal itu juga terjadi di kelas sebelah. Suatu hari, salah seorang teman akhirnya bertanya:

“Kamu kapan pakai jilbab? Enak lho. Di kelas, tinggal kamu sama si A yang belum berjilbab.”

Saya bisa saja melemparkan argumen soal perbedaan pendapat banyak ulama tentang kewajiban berjilbab seperti yang dituliskan dalam Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah oleh M. Quraish Shihab. Saya tersinggung, tetapi demi kesopanan saya cuma cengengesan. Ini bisa saja karena sentimen belaka, tetapi saat itu saya merasa dipandang rendah dan dipertanyakan identitas keislamannya oleh mereka yang baru “hijrah”.

Kejadian semacam ini tidak terjadi sekali itu saja. Masih di tahun 2015, seorang teman yang berkuliah di kampus lain dan baru hijrah pernah mengirimi direct message yang isinya cibiran karena tahu saya berpacaran. Pesannya itu diembel-embeli hinaan halus kalau saya sudah berkubang dosa dan “tidak suci” lagi. Pilihan saya untuk tidak berhijab pun dipermasalahkannya. Saat itu juga, saya memutuskan hubungan pertemanan kami.

baca juga: Makan Malam Perpisahan

Di masa-masa itu, saya mencibir tren hijrah yang makin marak. Tren yang kemudian diikuti dengan gerakan tanpa pacaran, menikah muda untuk menghindari zinah, hingga begitu mudahnya seseorang dilabeli kafir sebab praktik keagamaannya dianggap tidak cukup kaffah. Kesinisan saya terutama pada dampak tren tersebut, yakni prilaku konsumtif yang makin lama makin ekslusif: jilbab dengan embel-embel halal, perumahan khusus muslim, penitipan anak khusus muslim, dan produk “islami” lain yang seolah-olah ingin mengisolasi kaum muslim dari kelompok lain yang berbeda.

Tetapi, setelah membaca buku Wanita yang Merindukan Surga, saya jadi sedikit memahami mengapa dulu teman dan mantan teman saya tega merendahkan kami-kami yang “berkubang dosa” ini. Lewat buku ini, Esty Dyah Imaniar “curhat” tentang keresahannya seputaran fenomena hijrah. Bedanya dengan saya, Esty adalah “orang dalam” yang sudah berhijrah sejak sebelum praktik tersebut ngetren dan memang sehari-hari berinteraksi dengan “ukhti-ukhti” yang baru hijrah.

Sebelumnya, dalam buku ini, Esty membagi aspek hijrahnya menjadi lima bab: 1) Hijrah Penampilan; 2) Hijrah Pergaulan; 3) Hijrah Perasaan; 4) Hijrah Pekerjaan; 5) Hijrah Pengajian. Akan tetapi, dalam resensi ini saya hanya akan menitik-beratkan pembahasan seputaran hubungan hijrah dengan praktik konsumsi yang bagi saya pribadi penting untuk diangkat. Sebab, motif ekonomi, selain motif keagamaan yang telah banyak dibahas, dapat memengaruhi perilaku individu yang berhijrah dan berdampak pada permasalahan genting yang kerap kurang disadari.

baca juga: Wajah Ganda Sang Pemimpin

 

Hijrah atau Taubat?

Dalam pengantarnya, Esty meluruskan kekeliruan penggunaan kata “hijrah” yang kini sudah tidak asing kita dengar. Menurut Esty, jika ‘hijrah’ adalah ‘perpindahan seorang individu dari perilaku buruk menuju perilaku baik’, maka istilah yang lebih tepat digunakan adalah taubat.

“Sebab, secara historis orang-orang yang melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah sudah berperilaku baik …. Hijrah Rasulullah dan para sahabat adalah perpindahan tempat berkelakuan baik, bukannya perpindahan tabiat menjadi baik [sebab hal itu] sudah dilakukan para sahabat saat memutuskan bertaubat dan masuk Islam jauh-jauh hari sebelum berhijrah ke Madinah.” (Hal. xviii)

Meski KBBI sendiri mengartikan hijrah sebagaimana pengertian yang beredar, tetapi jika memang praktik ini diambil dari apa yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat, tentunya penggunaan istilah “hijrah” memang kurang tepat. Kekeliruan istilah ini kemudian berujung pada kesalahpahaman konsep sehingga yang terjadi adalah kampanye “hijrah superfisial” yang hanya fokus pada perubahan gaya hidup. Padahal, konsep taubat sendiri dalam Islam meliputi pemikiran, nilai, aktivitas, lalu yang terakhir barulah gaya hidup (hal. xix). Meski begitu, istilah “hijrah” tetap dipertahankan sebagai penunjuk fenomena perubahan prilaku yang lebih “islami” di kalangan muslim saat ini.

baca juga: Dalam Pembajakan Buku, Apa Peran Lembaga Pendidikan?

Masalahnya, perubahan hijrah yang menitikberatkan pada perubahan gaya hidup ini justru menyemai fenomena arabisasi. Hal-hal yang berbau Arab kemudian dianggap mencerminkan Islam sehingga diadopsi dalam kehidupan. Dalam taraf bahasa, Esty menggambarkan bagaimana orang yang berhijrah akan menggunakan kosakata Arab dalam percakapan sehari-hari.

Dalam hal berpakaian muslimah, busana yang dianggap syar’i kemudian menjurus pada model yang jamak dijumpai di Arab: abaya panjang, jilbab lebar, dan warna solid. (hal. 6) Kita bisa berpanjang-lebar tentang konteks Islam diturunkan di wilayah padang pasir, tempat orang-orang memakai baju serba lebar untuk melindungi diri dari sengatan matahari dan debu, tetapi apakah dengan memeluk Islam, kita serta merta harus pula “memeluk” budaya tempat di mana ia mula-mula tumbuh? Atau, mengutip seperti yang ada di buku: “ … apakah standar syar’i itu akan berubah menjadi kebaya, bukannya abaya, jika Islam diturunkan di Indonesia?” (hal. 6)

 

Yang Lebih Darurat dari Riba

Poin yang menurut saya cukup penting dari buku ini adalah kegelisahan Esty terhadap “hijrah pekerjaan” yang hanya menitikberatkan pada “berpindah dari pekerjaan haram ke pekerjaan yang halal tapi belum tentu thayyib (baik).” (hal. 102) Bekerja di bank dianggap haram karena tempat itu menghasilkan riba. Padahal, menurut Esty, status bank sebagai lembaga ribawi sampai saat ini masih berbeda-beda oleh ulama lintas negara. (hal.102)

baca juga: Penyair Tanpa Judul Buku

Sementara itu, ada banyak perusahaan yang jelas-jelas memberi dampak buruk ke bumi, sebut saja pertambangan dan fast-fashion. Dilansir dari website Ellen Macarthur Foundation, industri fesyen menghasilkan emisi gas yang lebih merusak dibandingkan gabungan industri pelayaran dan penerbangan. Belum lagi limbah yang dibuang ke sungai dan mencemari air, tanah, dan flora-fauna di sekelilingnya. Selain itu, industri fesyen juga sering bermasalah dalam menjamin kesejahteraan para buruhnya.

Mirisnya, pola konsumsi yang besar seiring tren hijrah yang semakin marak adalah elemen terbesar yang mendorong industri fast-fashion. Orang-orang bersorak ketika Dolce & Gabbana merilis koleksi hijab mereka, padahal brand ini menjadi salah satu perusahaan yang tidak transparan dalam rantai pasokan industrinya sehingga memiliki potensi untuk menyembunyikan eksploitasi pekerja. Esty menegaskan, tugas para influencer hijrah adalah menyadari permasalahan ini dan tidak mendorong praktik konsumerisme lewat media sosial, terutama dari merk yang jelas-jelas merusak lingkungan yang mengeksplotasi buruh. Apalagi jika propaganda konsumsi itu dibalut kutipan-kutipan islami.

Tetapi, pada kenyataannya bisnis bisnis jilbab, gamis, dan abaya kini berkembang pesat. Bahkan berbagai perusahaan berlomba-lomba menciptakan “versi” islami dari produk-produknya. Coba saja lihat merk susu, shampo, hinga deodoran yang meluncurkan produk khusus hijabers. Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan sebelum media sosial tumbuh pesat dan mempermudah akses terhadap konten-konten agamis.

baca juga: Kisah Manusia yang Tak Peduli Terhadap Hidup

 

Konsumersime dalam Balutan Islami

Sayangnya, di hadapan pasar yang tumbuh perkasa, kesakralan Islam justru dikomodifikasi demi keuntungan kapital yang akhirnya merusak esensi ajarannya sendiri. Di bukunya, Esty memberi highlight pada praktik dagang yang menjual produk dengan memanfaatkan ayat-ayat Alquran dan sunah dari Rasulullah saw.

“Sampai saat ini saya belum menemukan hadis perihal keutamaan menggunakan gamis atau abaya sebagai pakaian takwa. Petunjuknya kan hanya menutup aurat …” (hal. 8). Tidak berhenti sampai di sana, penjual minyak rambut dan terompah bahkan tidak sungkan menggunakan nama Nabi sebagai trik marketing.

Arjun Appadurai pernah menuliskan bahwa barang adalah “kehidupan sosial” dan nilainya berubah menyesuaikan dengan “rezim nilai” yang berlaku. Dalam hal hijab misalnya, nilai perubahannya dapat dilihat saat Orde Baru berusaha mengamputasi gerakan-gerakan Islam demi kestabilan politik. Simbol identitas keislaman, termasuk jilbab, terlarang digunakan masa itu. Mendunianya kabar Revolusi Iran pada 1979 memberikan semangat dan gairah bagi mahasiswa-mahasiswi Islam di kampus. Penggunaan jilbab kemudian menjadi simbol perlawanan atas kediktatoran rezim.

baca juga: Masa Depan dan Emosi

Pada 1990, kepentingan politik Orde Baru yang membutuhkan dukungan dari “kanan” membuat jilbab tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “membahayakan stabilitas”. Sebaliknya, pemerintah kemudian menetapkan SK. No. 100/C/Kep/D/1991 yang isinya membolehkan pelajar untuk menggunakan pakaian berdasarkan keyakinannya.

Pasca-Reformasi, kegiatan dan simbol-simbol agama mendapat ruang bebas hingga sekarang, saat hijab tidak dikaitkan sebagai simbol perlawanan, tetapi lebih pada bentuk kesalehan personal. Bagi yang baru berhijrah, hijab menjadi simbol perubahan ke arah yang lebih baik. Orang membeli printilan-printilan barang yang dijual dengan kata-kata islami sebab barang itu membuatnya merasa menjadi “lebih baik”, “lebih islami”, dan “lebih sesuai dengan perilaku Rasulullah”.

Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang yang baru berhijrah memiliki kecenderungan untuk “menilai” kesalehan seseorang berdasarkan pakaian yang dikenakannya. Dalam bukunya, Esty dengan gamblang menuliskan ia dan teman-temannya pernah memiliki kebiasaan men-screening kondisi keimanan seseorang berdasarkan ukuran busananya. Jika seorang teman muslimah tidak menggunakan kaus kaki atau menggunakan hijab yang ukurannya lebih kecil, serta-merta dia akan dicap sedang “sakit” keimanannya. (hal. 12)

baca juga: Merayakan Peter Carey dan Sejarah Jawa

Screening kesehatan iman itu adalah satu dari banyak hal yang disesali Esty. Lewat bukunya ini, ia ingin para pelaku hijrah dapat menghindari “dosa-dosa” yang ia lakukan selama berproses menuju kebaikan.

Sayangnya, banyak sekali istilah-istilah berbahasa asing dalam buku ini yang tidak diberi catatan kaki. Padahal di pengantar, penulis sempat menjelaskan arti murabbiyah, yakni sebutan untuk pendamping halaqoh (liqo), pengajian yang terdiri dari tiga sampai sepuluh orang (hal. xiv) dan beberapa istilah lain diberi tanda kurung.

Sangat mengganggu ketika sedang asyik membaca, kita harus menyambar handphone untuk mencari arti kata-kata seperti istidraj, mutarabbi, ana uhibbukum fillah, munaffirin, dll. Kecuali kalau buku ini hanya ditujukan untuk kalangan sendiri, ya enggak masalah, sih (eh).

  •  

Judul : Wanita yang Merindukan Surga: Lima Jalan Hijrah yang Tak perlu Kau Takutkan, Ukhti.

Penulis : Esty Dyah Imaniar

Penerbit : Buku Mojok

Tebal : xxvi + 184 hlm

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: