Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Koperasi dalam Sistem Perekonomian Indonesia Korupsi Akar Aktor dan Locus

Korporasi dan Politik Perampasan Tanah

Dalam buku ini saya menemukan beberapa problem yang dihadapi oleh masyarakat Papua atas sebuah program yang dianggap sebuah kemajuan kolaborasi perusahaan dengan pemerintah. . Pemerintah menghadirkan MIFEE yang merupakan bagian dan program MP3EI, bukan hanya usaha untuk swasembada beras sahaja melainkan secara progresif pemanfaatan peluang pasar yang dianggap membantu pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kemajuan perkembangan Indonesia itu sendiri.

Konflik berkepanjangan di wilayah Papua mirip seperti di Aceh. Sehingga tidak menutup kemungkinan,konflik-konflik di Papua tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Aceh__politik perang dingin antara GAM dan TNI_ adanya konflik rakyat Papua dan TNI bermuara soal perebutan sumber daya alam. Melalui kekuasaan dan politik dalam bentuk apapun yang terus dimainkan di Aceh, begitu juga dengan Papua. Jika krisis ini masih terus berlanjut tanpa upaya penanganan dan pemahaman dari si pemilik tanah dan lahan. Maka akan sulit bagi rakyat Papua untuk kembali hidup sesuai dengan konteks kehidupan mereka yang sebelumnya dan sangat tergantung dengan tanah dan alam.

Pesan dari penulis buku ini adalah: ”Saudara-saudara, mama-mama, kakak-kakak, adik-adik, bapak-bapak, jangan jual tanah untuk perusahaan. Kasihan, itu milik kalian dan anak cucu dimasa mendatang” yang sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia.

*Pereview: Kasmoini


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sosial dan Politik
ISBN : Lubabun Ni'am
Ketebalan : xiv+110 hm | Softcover
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Insist Press
Penulis: Laksmi A. Savitri
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by