Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kotak Pandora Orang-orang Malang

Oleh: Deden Hardi         Diposkan: 19 Jan 2019 Dibaca: 654 kali


Setiap malam, sunyi doa kita selalu sama, berilah sedikit keramahan dunia untuk esok hari.

***

Hujan belum juga tandas mengguyur bumi saat Momon dan Sati kebingungan mencari emperan toko lain untuk bermalam. Tidak lebih dari tiga hari, ya tiga hari, jika tak mau ditandai oleh oknum petugas atau preman sekitar. Tanpa duit keamanan, mereka akan terusir. Untuk makan sehari-hari saja mereka harus pintar bersiasat.

Sejak memutuskan cari peruntungan di ibu kota, nasib baik belum juga datang menghampiri. Bermodalkan niat dan badan, mereka nekat kelilingi kolong jembatan, pasar, sudut-sudut kota, terhuyung di tengah tembok-tembok raksasa dan trotoar ingar mengusahakan apa saja untuk sekadar bisa bertahan hidup. Hanya lipatan kardus di tangan untuk nanti alas tidur.

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Sejujurnya mereka ingin kembali pulang ke kampung halaman. Punya warung makan di sepetak jalanan raya pantura adalah cita-cita mula perkawinan. Apa daya modal tak pernah mencukupi bahkan untuk sekadar ongkos perjalanan. Sulit memang jika ijazah hanya sebatas sekolah dasar dan menengah pertama. Pengalaman kerja nihil. Keahlian hanya bercocok tanam. Itu pun menggarap tanah orang.

Belum lagi beberapa tahun belakangan panen sering mengalami kegagalan. Kemarau dan hama selalu jadi kendala. Kata orang pintar ini akibat perubahan iklim. Masyarakat sudah sering dijanjikan pembuatan waduk oleh para pejabat desa sejak beberapa kali pilkada, namun hasilnya nol besar. Tanah mereka sekering raut orang-orang tua.

Pemuda-pemudi akhirnya banyak yang hijrah ke kota. Ada yang berhasil, banyak pula yang menghilang kabarnya. Di kampung, Momon sering mendengar kisah mereka yang telah sukses di ibu kota. Pulang ke kampung halaman dan membangun rumah atau membeli sebidang tanah tentu standar kesuksesan bagi mereka. Di warung Wak Dula, orang-orang kampung yang merantau berkumpul untuk cerita-cerita. Sebagian besar menceritakan pengalaman dan keberhasilannya. Tentu, dengan bumbu-bumbu penyedap omongan. Yang terbayang di benak Momon hanya hasil akhir di depan mata. Sedangkan nagari yang akan dijajal itu hanya ia dengar-dengar saja dari televisi yang memang didominasi pemberitaan tentang ibu kota dengan segala gemerlapnya.

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Ibu kota adalah mantra bagi para pencari nasib. Semacam peta buta berbalut fantasi perburuan harta karun.

Lebih dari itu, Momon sebetulnya panas dengan kondisi Sanif sekarang. Bukan apa-apa. Dulu ketika mereka masih remaja, Sanif adalah saingannya dalam memperebutkan Sati. Ia adalah kembang desa. Semua lelaki jatuh hati pada mata bulatnya. Gara-gara perempuan, mereka beradu jotos babak belur membawa-bawa martabat keluarga. Dua pemuda beda kampung ini menyulut keributan sejawatnya masing-masing. Terjadilah tawuran. Sampai akhirnya Sati memilih Momon, kata-kata Sanif begitu membekas di dadanya:

“Kamu bakal menyesal Sati. Ingatlah ini baik-baik. Hidupmu akan susah!”

Kata-kata serupa dari Mamak Sati menusuknya dua kali meski tak secara langsung. Semua orang mafhum, Sanif anak seorang pembesar di kampungnya. Ayahnya memiliki puluhan hektar tanah dan peternakan sapi. Ia mengetahuinya dari bibir Sati sendiri sebelum kecupan lembut malam itu menguatkan tekad keduanya untuk bersatu. Mamak Sati luluh juga pada keteguhan gadis kesayangan. Ia menitip wejangan keras pada Momon agar bisa membahagiakannya. Tiada sekali pun tumpahan air mata. Momon mengerti.

Tanpa pikir panjang, dua hari setelah ijab kabul mereka—pasangan yatim ini—hijrah dengan modal seadanya. Ratusan kilo jarak harus ditempuh demi masa depan. Sekian rencana dirancang. Tapi belum apa-apa mereka sudah kecopetan di terminal. Gelagat lugu keduanya jadi sasaran empuk kejahatan. Masih untung Momon sempat menyimpan duit cadangan di kaus kakinya. Mereka kebingungan. Kedua kaki melangkah begitu saja di sepanjang pasar, perkantoran, di antara hiruk-pikuk keramaian tanpa tujuan pasti. Alamat kenalan jauh ikut raib bersama dompet. Mereka seperti berada di tanah asing. Banyak orang tapi tak ada yang memperdulikan. Peluh basahi kulit mengikis tujuan. Hingga mentari makin turun ke barat, gontai langkah keduanya berakhir di perempatan lampu merah.

baca juga: REALITAS PARALEL

Para penjaja koran, pedagang asongan, pengamen, dan pengemis menghambur ke jalanan. Menyebar ke segala arah. Mengetuk hati manusia-manusia di balik kemudi.

“Apakah kita akan berakhir seperti mereka?”

Tanya itu tenggelam di pusaran arus lalu lintas. Kesibukan waktu yang tak hendak tandas.

***

Dengan langkah pelan, Momon mendekati Sati yang tercenung sendirian di atas gundukan tanah merah sekitar TPA. Langit menjingga. Sinarnya perlahan jatuh ke atap gedung-gedung bertingkat. Memantulkan kerlip bak gemintang dari kaca-kaca jendela.

Mata keduanya tumpul menatap beton-beton bisu yang terlihat begitu angkuh di seberang sana. Sempat pula mereka berangan jadi orang sukses. Duduk manis di antara ruangan-ruangan besar dan sejuk ibarat kastil. Di antara meja kerja, dasi, dan gawai. Di antara tumpukan kontrak miliaran. Rekanan dan tamu-tamu penting. Kalau ingin sesuatu tinggal tunjuk orang suruhan. Tak perlu buang keringat kesusahan.

Bulan-bulan telah berganti. Dan mereka masih terjebak di kota ini. Di atas bau sisa-sisa ampas manusia.

“Sebentar lagi gelap. Cepat sekali waktu berakhir. Padahal aku masih ingin menikmati senja. Di mana-mana senja itu sama ya, Mas?”

“Apanya yang sama?”

“Iya, senja di kota sama cantiknya dengan senja di pematang dulu. Sewaktu kamu pertama kali curi-curi pandang di tempat lesung. Tapi waktu itu senja seperti awet. Tak seperti sekarang”

“Kenapa Tuhan menciptakan senja hanya untuk kemunculannya yang sesaat?”

Momon seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi bibirnya kelu. Perasaan Momon campur aduk. Tak enak hati pada Sati. Pada janjinya sendiri.

“Maafkan aku, Sati. Hidup kita jadi begini”

“Aku bakal terus di sampingmu, Mas. Kita sama-sama berusaha ya,” ucap Sati menguatkan. Bibirnya menyungging. Seperti malam-malam sebelumnya. Harapan mereka sederhana. Semoga tuan pemilik toko lama bekas bangunan yang terbakar saat kerusuhan ini tak berkeberatan etalasenya dipakai untuk sekadar rebahan. Hari sudah larut. Rinai belum juga memudar. Alas kardus digelar. Cuaca dingin begitu menusuk sampai tulang.

baca juga: Sajak-Sajak Saifa Abidillah

Belum hilang benar menuju lelap, geriap mata Momon seketika menangkap seberkas cahaya lampu menembak sisi jalan lalu berhenti. Dari balik mobil seseorang turun dengan hati-hati.

“Sudah, lemparkan saja kardus sialan itu pada mereka,” ujar seorang lainnya di balik kemudi. Lelaki itu turun menenteng sebuah kardus.

“Apa ini?” tanya Momon keheranan.

Bulan puasa telah lewat untuk bantuan sahur. Lelaki itu terlihat ganjil. Lakunya celingukan sana-sini.

“Udah, kasih saja cepetan. Mau kau subuh ini ada berita OTT?”

Setelah memberikan kardus itu pada Momon dan isterinya yang turut terjaga, kedua lelaki itu melesat dalam gulita. Jalanan kembali lengang. Sunyi. Endusan anjing lapar melewati.

Keduanya terkaget-kaget. Mata mereka terbelalak. Saat dibuka, isi kardus itu tak lain tak bukan adalah bergepok uang dalam jumlah yang tak pernah mereka bayangkan. Momon dan Sati merasa senang bukan kepalang. Namun tak lama kemudian merasa gamang.

“Apakah ini rezeki dari Tuhan atau ujian?”

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: