Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kreativitas Sebagai Perjumpaan Eksistensial

Oleh: Afthonul Afif         Diposkan: 12 Oct 2019 Dibaca: 823 kali


Suatu senja, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Jules Henri Poincare minum secangkir kopi hitam untuk menenangkan diri. Lima belas hari sebelumnya, matematikawan jenius peraih nobel itu berjibaku untuk memecahkan kebuntuan  rumus-rumus matematika. Dia berusaha membuktikan bahwa tidak mungkin ada fungsi apapun seperti fungsi yang sejak semula dia namakan fungsi Fuchsian. Di hari-hari sulit itu dia merasa sangat dungu. Usahanya untuk menemukan beberapa kombinasi yang tepat selalu berujung kebuntuan.

Di tengah keasyikan menyeruput kopinya, tiba-tiba ide muncul berjejalan di kepalanya. Tanpa dia duga, ide-ide itu saling bertubrukan melahirkan pasangan-pasangan yang bertautan, hingga kombinasi stabil yang dia kehendaki menemukan bentuknya. Menjelang pagi hari berikutnya, dia berhasil menetapkan eksistensi suatu kelompok fungsi Fuchsian, fungsi yang terlimpah dari beberapa rangkaian hipergeometris. Anehnya, dia hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk menuliskan hasil lengkapnya. Eureka! Dia merasa momen inilah yang juga dialami oleh Archimedes ribuan tahun silam.

Di kesempatan yang berbeda, barangkali kita juga pernah merasakan pengalaman kreatif serupa dengan yang dilamani oleh Poincare. Kita mungkin pernah menemukan sepenggal kisah dalam sebuah lukisan yang kita lihat. Atau mungkin segugus nilai estetis dari sebuah puisi yang kita baca.  

baca juga: Teringat dan Terbaca

Kita tidak bisa mengantisipasi atau memastikan kapan ide-ide kreatif itu akan muncul, karena kita mesti tidak menyadarinya. Ia ibarat kudeta terhadap kesadaran kita, yang hanya beroperasi dalam batasan-batasan yang dibuatnya sendiri. Namun, ia bukanlah momen yang diperoleh secara percuma. Ia adalah konsekuensi—dari sebuah pergulatan dan keberanian untuk melampaui batasan-batasan yang disusun kesadaran.

Proses menyangsikan batasan-batasan itu bukanlah kondisi yang mudah. Ada kemapanan yang terancam. Kita meragukan sesuatu yang kita percayai kebenarannya. Akibatnya, kita menjadi cemas dan terguncang. Kita menjadi cemas karena hubungan diri dan dunia retak oleh sebuah perjumpaan yang intens.

Berpikir kreatif itu merupakan momen eksistensial, yang lahir dari pergulatan eksistensial yang menguras segenap energi kita. Itulah sebabnya kenapa hal ini lebih mudah dijelaskan daripada dipraktekkan. Meski begitu, para ahli psikologi tetap berupaya menjelaskannya. Melalui tahapan-tahapan di bawah ini, secara umum kira-kira proses kreatif itu berlangsung.

baca juga: Kafka, Ayah, dan Eropa

Pertama, fase orientasi atau fase perumusan masalah melalui identifikasi terhadap seluruh aspek-aspek yang terkait dengannya. Inilah perjumpaan—juga keterbukaan—di mana kita membiarkan kesadaran kita ditawan oleh problem yang membelit. Kedua, preparasi atau upaya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah tersebut. Pada fase ini pikiran kita terkuras untuk menimbang-nimbang setiap kemungkinan jawaban yang muncul.

Ketiga, inkubasi atau proses beristirahatnya pikiran ketika berbagai pemecahan seolah-olah berhadapan dengan jalan buntu. Tanpa kita sadari, sebenranya di tahap ini telah berlangsung proses pemecahan masalah di alam bawah sadar kita. Keempat, iluminasi atau masa berakhirnya inkubasi dan momen di mana seorang pemikir merasa memperoleh ilham seperti yang dialami oleh Poincare di atas. Serangkaian insight yang memecahkan masalah berjejal-jejal muncul dan berlimpah. Dan kelima, verifikasi, tahap untuk menguji secara kritis pemecahan masalah yang muncul di tahap sebelumnya.

Rollo May, seorang psikolog eksistensial dalam The Courage to Create (1976) membedakan dua jenis kreativitas, yaitu kreativitas asli dan kreativitas palsu. Kreativitas palsu biasanya dihubungkan dengan periode penciptaan yang hanya meniru realitas atau suatu usaha yang berhubungan dengan kemiripan semata. Sementara kreativitas asli adalah upaya menghadirkan realitas dalam bentuknya yang baru. Inilah mengapa para kreator sejati yang di dalamnya termasuk para seniman dan ilmuwan sejati harus terlebih dahulu mengalami perjumpaan dengan dunianya sebelum akhirnya mampu menghadirkannya dalam wajah yang baru. 

baca juga: Bangsa yang Malas

Kreativitas asli bukanlah sekedar perluasan wawasan melainkan hasil akhir dari sebuah perjumpaan. Ia adalah perjumpaan yang diniatkan, sebuah momen konfrontasi antara keyakinan lama dengan wawasan baru yang menyembul dari alam bawah sadar. Inilah momen yang melahirkan kecemasan karena struktur keyakinan yang sudah mapan tiba-tiba retak lalu berguguran.

Namun, kecemasan ini bukanlah kecemasan yang bersifat patologis, melainkan sebaliknya, kecemasan yang produktif, kecemasan yang menyingkapkan realitas. Tentu, tidak semua orang berani berhadapan dengan kecemasan ini. Dibutuhkan keberanian eksistensial yang meneguhkan diri.

Keberanian yang dimaksud berbeda dengan keberanian dalam perspektif awam yang biasanya dihubungkan dengan kekasaran, kekerasan, dan kepastian. Proses kreatif meletakkan keberanian sebagai potensi yang paradoks. Keberanian untuk meyakini sesuatu yang belum pasti sekaligus keberanian meragukan suatu dogma. Interaksi dialektik antara keraguan dan keyakinan inilah yang mendorong lahirnya kreativitas.

baca juga: Politik Jalanan Jacques Rancière

Bila diumpamakan, proses kreatif itu seperti pertempuran yang terjadi antara dewa Appolo sebagai simbol keteraturan dan dewa Dyonisius sebagai simbol kekacauan. Dalam perumpamaan ini tersirat maksud bahwa kreativitas selalu memerlukan batas dan bentuk. Pertempuran antara keteraturan dan kekacauan ini oleh Rollo May disebut sebagai proses “meragukan” sekaligus “mengafirmasi”. Nietzsche membahasakannya dengan pergumulan antara “kedalaman” dan “kedangkalan”—atau sebuah sikap untuk meng-iya dan me-nidak sekaligus.

Kreativitas itu ibarat sebuah sungai yang mempunyai batas di tepinya, karena tanpa batas tersebut tentu air akan menyeruah ke mana-mana lalu tidak ada lagi yang disebut sebagai sungai. Kreativitas itu tidak akan berguna jika tidak termanisfestasikan dalam bentuk. Dalam musik misalnya, kita mengenal dangdut, pop, keroncong, jazz, blues, dan sebagainya. Kreativitas membutuhkan kebebasan (untuk menerobos batas) sekaligus pengendalian (untuk tidak tanpa batas).

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa kreativitas yang dimaksud bukanlah produk gagasan dari pribadi-pribadi neurotik sebagaimana dikemukakan oleh Freud—atau bentuk kompensasi dari situasi ketidakberdayaan—inferioritas—seperti yang diyakini Adler. Kreativitas juga bukan hasil yang diperoleh dari sekian banyak pembacaan atas petunjuk-petunjuk praktis untuk menjadi kreatif, karena kreativitas asli tidak diperoleh secara cuma-cuma. Kreativitas adalah buah dari proses yang diniatkan, perjumpaan, pergulatan diri untuk menyelami ceruk-ceruk realitas tanpa batas.

  •  

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: