Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kuasa Politik Media: Pertarungan Para Ahli dan Kawanan Pandir

Oleh: Bintang W. Putra         Diposkan: 21 Sep 2018 Dibaca: 1417 kali


Politik Kuasa Media adalah buku terjemahan dari filsuf Amerika modern, Noam Chomsky. Buku yang judul aslinya The Spectacular Achievments of Propaganda ini merupakan respon Chomsky terhadap media yang kerapkali dipandang bersih dari kepentingan dan dianggap menginformasikan kebenaran. Padahal fakta yang disuguhkan media itu bukanlah fakta yang sebenarnya, melainkan sebuah rekonstruksi dari para awak media. Meski awak media telah bekerja banting tulang selalu saja ada bagian yang tidak diberitakan, yang tidak diambil dari fakta peristiwa.  Latar wilayah yang dikaji Chomsky secara teritorial adalah Amerika, tapi jika melihat kasus-kasus yang ditulisnya, Indonesia juga bisa termasuk di dalamnya.

Propaganda adalah kata kunci dari buku ini. Jika merujuk pada KBBI, terma Propaganda memiliki arti penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Dari sini dapat dilihat bahwa ide dasar dari propaganda adalah menggiring persepsi orang ke arah yang diinginkan.

Sejarah mencatat, propaganda tersukses yang pernah terjadi adalah propaganda yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat ke 28, Wodrow Wilson. Pada tahun 1916, Wilson yang baru saja memenangkan Pilpres, langsung mengeluarkan kebijakan yang tidak pernah dibayangkan warga Amerika, bahkan partainya sekalipun. Di masa awal kekuasaannya, Wilson membawa negeri Paman Sam ke dalam medan perang yang tidak diinginkan warganya. Warga Amerika kala itu berpandangan bahwa tidak ada alasan untuk ambil bagian dalam perang yang berkecamuk di Eropa. Mereka juga merasa tidak ada waktu buat perang. Mereka cukup bersyukur dengan kondisi hidupnya.

Mengetahui kebijakannya ditolak dan ditentang sebagian besar warganya, Wilson tidak tinggal diam. Dia kemudian membentuk sebuah lembaga propaganda yang bertujuan merubah pandangan warga Amerika terhadap perang. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam kurun waktu enam bulan saja, lembaga propaganda Crell Committee sudah berhasil meraih simpati anak muda Amerika. Hanya dalam setengah tahun pemuda Amerika yang dulunya menentang perang, berubah menjadi pemuda yang haus darah dan merasa bertanggung jawab untuk membasmi Nazi agar tercipta dunia yang damai.

baca juga: Merekam Tuhan dalam Pemikiran Filsuf-Filsuf Yunani

Keberhasilan Wilson dan Crell Committee dalam mencuci otak warga Amerika ini tidak terlepas dari peran para intelektual. Wilson paham betul siapa orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mencapai tujuannya. Intelektual tersebut berasal dari golongan politisi, jurnalis, pebisnis, dan peneliti. Salah satu tokoh di balik kesuksesan Crell Committee ini adalah Walter Lippman, wartawan senior Amerika.

Selain sebagai wartawan, Lippman juga dikenal sebagai sosok yang kritis menyikapi kebijakan dalam dan luar negeri pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari salah satu tulisannya yang berjudul Sebuah Teori Progresif Tentang Pemikiran Demokrasi Liberal. Wilson tidak salah memasukkan Lippman dalam komisi propaganda. Di antara anggota Crell Committee, Lippman adalah anggota yang dikenal dengan keberhasilannya dalam mencuci otak warga Amerika. Lippman menggunakan sebuah taktik yang disebutnya sebagai Revolusi Seni Berdemokrasi. Taktik tersebut bisa digunakan untuk membuat sebuah ‘persetujuan buatan’, yaitu sebuah persetujuan yang sebenarnya tidak diridhoi oleh publik luas. Hal inilah yang dibanggakan Lippman karena bisa mengecoh pemikiran publik dan hanya mereka para kelompok intelektual yang bisa memahaminya.

Upaya mengecoh perhatian publik seperti ini juga pernah dilakukan oleh Lenin dan pengikutnya. Ketika kelompok mereka berhasil memasuki kekuasaan negara melalui pintu revolusi, mereka juga menggunakan kelompok intelektual revolusioner untuk tetap mengontrol persepsi publik dan mengecoh perhatiannya.

Dari kedua kasus di atas, Chomsky menilai bahwa tidak ada beda antara pemerintahan Demokrasi-Liberal dan Marxisme-Leninisme. Keduanya sama-sama menggunakan propaganda yang dilakukan oleh tokoh intelektualnya.

baca juga: Kumpulan Quote Noam Chomsky

Masyarakat atau publik yang disebut sebagai kawanan pandir oleh pelaku propaganda harus bisa memetakan letak dan posisi kekuasaan. Chomsky memandang kurang pekanya masyarakat terkait letak kekuasaan akan membuatnya terus terombang-ambing. Tidak peduli siapapun yang berkuasa, karena siapapun penguasanya agen intelektualnya akan tetap mengecoh fokus publik supaya kekuasaanya berjalan mulus.

Kita barangkali sudah tidak asing dengan tokoh atau publik figur di tanah air yang saat ini merapat ke pemerintah. Mereka ini adalah kelompok yang seiya-sekata dengan setiap kebijakan, sekalipun kebijakan tersebut merugikan bagi masyarakat luas. Kita juga sudah pasti akrab dengan buzzer politik yang menyebarkan pengaruh lewat akun-akun media sosial. Terlebih para politisi sekaligus pemilik media juga ramai-ramai mendukung pemerintah. Mereka, seperti kata Chomsky, dipelihara penguasa untuk mengecoh perhatian publik.

Di tengah situasi seperti sekarang ini, menjadi individu yang netral dan kritis terhadap setiap kebijakan pemerintah adalah barang langka. Kita seperti tidak bisa lepas dari jangkauan para agen intelektual penguasa. Akan tetapi, untuk terhindar dari ‘serangan cuci otak’ tersebut, Chomsky punya alternatif.

Di dalam sebuah negara demokrasi selalu terdapat dua jenis masyarakat. Pertama, kelas para ahli. Merekalah yang menganalisa, melaksanakan, mengambil keputusan, dan melaksanakan segala hal di bidang politik, ekonomi dan sistem ideologi. Jumlah mereka sangat kecil.

Kedua, kawanan Pandir. Mereka ini adalah masyarakat luas yang tidak termasuk kelompok kecil tadi. Sama seperti para ahli, kawanan Pandir ini juga punya peran dalam demokrasi. Tapi perannya jelas bukan peran yang prestisius, melainkan hanya sebagai pemirsa atau penonton dalam demokrasi. Kelompok kedua ini dipandang sebagai kelompok yang bodoh dan tidak bisa menentukan sendiri jalan hidupnya. Segala tetek-bengek hidupnya perlu diatur oleh sekelompok kecil para ahli.

Sebagai kawanan Pandir, kita perlu belajar menganalisa, dan membuat kontra wacana dengan narasi yang didengungkan oleh sebagian kecil kelompok ahli. Dewasa ini, bersikap kritis adalah kunci untuk terlepas dari ‘serangan cuci otak’.

  •  

Bintang W. Putra, Sarjana Muda

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: