Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Kuasa Media di Indonesia Kuasa dan Kepentingan Hubungan Gali dan Parpol di Yogyakarta 1977-1982

Catatan sejarah 1965 -1966 menjadi babak penting untuk dilihat kembali. Menarasikan kembali kisah yang sudah `lewat` dengan keterbukaan dan kerendahan hati merupakan langkah menempatkan sejarah pada tempatnya yang pantas. Sejarah tragedi tersebut kini masih tetap begitu membekas. Beban ingatannya melekat bersamaan dengan `kuasa stigma` yang masih ditanggung oleh sekian banyak korban. Sekian waktu `ingatan` tentangnya masih `disandera` begitu kuat dalam tafsir resmi negara. Mereka harus menjalani hidup yang dibedakan. Stigma dan label negatif seakan diterima sebagai beban kolektif turunan dan generasi sesudahnya masih harus rela tinggal dalam struktur dan kultur politik yang masih gemar menyemai diskriminasi. 

Buku `Kuasa Stigma dan Represi Ingatan` ini mengeksplorasi secara cermat tentang berbagai dalih pendasaran mengapa stigmatisasi dan diskursus `anti- Komunis` masih kuat terserap dalam ingatan kolektif masayarakat. Melalui pendekatan `hermeneutika`, buku ini menyumbang analisis dan interpretasi menarik tentang bagaimana modus `politik pelabelan` ini dipraktikkan. Uraiannya berhasil menyentuh dimensi-dimensi penting tentang `produksi`, `reproduksi`, `transmisi` dan `resepsi` berbagai diskursus serta politisasi simbol yang pernah dan saat ini masih mempengaruhi nalar ingatan masyarakat.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sejarah
Ketebalan : xlii + 250 | HVS
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Resist Book
Penulis: St Tri Guntur Narwaya
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by