Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Laut Bercerita dan Unsur Jurnalisme dalam Fiksi

Oleh: Amanatia Junda         Diposkan: 19 Mar 2019 Dibaca: 1800 kali


Menjelang 20 tahun reformasi, Laut Bercerita karya Leila S. Chudori diluncurkan di Jakarta beserta film pendek berdurasi 30 menit dengan judul yang sama. Pritagita Arianegara selaku sutradara mengatakan bahwa film ini berusaha memvisualisasikan intisari novel tersebut untuk mengangkat sisi yang lebih universal seperti yang dialami tokoh utama, Biru Laut, serta bagaimana keluarga dan kekasihnya menghadapi kehilangan orang yang dicintai.

Leila S. Chudori memerlukan waktu lima tahun untuk menulis Laut Bercerita. Seperti yang ia paparkan dalam ucapan terima kasih di bagian belakang novel, ide menuliskan tema aktivisme menjelang keruntuhan rezim Orde Baru tercetus sejak 2008 ketika ia meminta Nezar Patria, mantan Sekjen Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), menulis tentang pengalamannya saat diculik Maret 1998. Selanjutnya, Leila mengucapkan terimakasih kepada sejumlah narasumber yang telah berjasa menitipkan nyawa dalam narasi Laut Bercerita, termasuk beberapa nama aktivis ‘98 lainnya.

Sejujurnya, tanpa membaca halaman Ucapan Terima Kasih pun, saya dan barangkali banyak pembaca lainnya, telah memahami bahwa novel ini terinspirasi dari kisah nyata, sisi kelam dari sejarah penumbangan rezim diktator Soeharto. Penculikan para aktivis adalah salah satu isu paling kuat selain isu perkosaan perempuan etnis Tionghoa, kerusuhan dan penjarahan di kota-kota besar (terutama Jakarta), dan percaturan politik nasional pada waktu itu.

baca juga: Kesusastraan Hemingway di Tengah Tegangan Benang Pancing dan Kecipuk Ikan

Peristiwa 1998 menjadi salah satu tema yang mudah ditemukan dalam narasi kesusastraan Indonesia, meski jumlahnya tidak banyak. Mari kita sebut Clara atawa Wanita yang Diperkosa (1999) karya Seno Gumira Adjidarma, Matinya Seorang Demonstran (2014) karya Agus Noor, 1998 (2012) karya Ratna Indraswari, dan Sekuntum Nozomi jilid 3 (2007) karya Marga T. Yang terbaru, Laut Bercerita (2017) menceritakan tentang kisah hidup sekaligus kematian Biru Laut, sosok mahasiswa Sastra Inggris yang diculik kelompok militer.
 

Gambar terkait
Kepustakaan Populer Gramedia, 2017
 

Novel setebal 373 halaman tersebut terbagi dalam dua sudut pandang yakni Biru Laut dan Asmara Jati, adik Biru Laut. Kedua sudut pandang tersebut menggunakan suara orang pertama sehingga diharapkan pembaca dapat dengan mudah menyelami perasaan yang berkecamuk di dalam dua tokoh utama tersebut. Bagaimana rasanya menjadi aktivis pada masa 1998? Bagaimana rasannya menjadi keluarga yang kehilangan anak atau saudara karena dianggap berbahaya oleh negara?

Menengok susunan daftar isi yang lumayan panjang dan mencermati jumlah halaman di setiap babnya, dapat disimpulkan bahwa narasi yang diceritakan melalui mata Biru Laut jauh lebih tebal, hampir dua kali lipat ketimbang ruang suara untuk Asmara Jati. Mungkin ini bisa diterima sebagai inti dari tema yang ditulis Leila, yakni penggalian secara mendalam terhadap kasus penculikan aktivis melalui kesaksian korban kasus tersebut. Namun perbedaan ketebalan ini tidak semata perkara teknis belaka. Pilihan ini membuat Leila terjatuh dalam kekurangan terbesar karya sastra tersebut. Membaca Laut Bercerita tak ubahnya seperti membaca laporan jurnalisme sastrawi yang kelewat rinci disertai ritme cerita yang lamban.

baca juga: Tidak Menikah, Bukan Tidak Bercinta

Barangkali salah satu profesi Leila sebagai kolumnis Majalah Tempo terlampau mendarah daging sehingga ia merasa perlu menuliskan fiksi dengan kecermatan seorang jurnalis berdasarkan hasil riset dan wawancara selama bertahun-tahun, atau mungkin sederhananya, Leila merasa belum ada sastrawan Indonesia yang menuliskan penculikan aktivis 1998 dengan serius dan kuat. Memang belum ada. Kebanyakan karya sastra yang saya sebutkan di atas berkutat pada isu perkosaan perempuan Tionghoa (cerpen Clara dan novel Sekuntum Nozomi) dan pergolakan aktivis (cerpen Matinya Seorang Demonstran dan novel 1998). Padahal penyelesaian kasus penculikan aktivis hingga saat ini belum tuntas. Oleh karena itu, Laut Bercerita menjadi salah satu karya sastra yang krusial dalam linimasa kesusastraan sekaligus politik Indonesia.

Namun, kembali ke napas jurnalisme yang tak bisa lepas dari fungsi kepengarangan Leila, bagi pembaca yang cukup melek dengan cerita legendaris aktivis 1998, membaca bab-bab narasi Laut sungguh melelahkan. Apa gunanya membaca ulang cerita yang sudah sering diceritakan melalui tulisan non fiksi?

Terdapat dua buku tebal berjudul Menyulut Lahan Kering Perlawanan, Gerakan Mahasiswa 1990-an oleh FX Rudy Gunawan, Nezar Patria, Yayan Sopyan dan Wilson serta Anak-anak Revolusi oleh Budiman Sudjatmiko yang mengulas tema perjuangan para aktivis 1998. Belum lagi ditambah tulisan yang bertebaran di media tiap bulan Mei: liputan singkat, wawancara eksklusif, feature dan softnews mengenai peristiwa 1998. Tambahkan pula esai-esai yang ditulis langsung oleh aktivis ’98, seperti tulisan Nezar Patria yang berjudul Di Kuil Penyiksaan Orde Baru (TEMPO, 2008), sehingga membaca perjalanan hidup Laut tak ubahnya membaca catatan etnografi yang hanya perlu disamarkan nama sejumlah informannya.

baca juga: Kejeniusan Pram di Mata Penerjemah

Apalagi merujuk seluruh judul bab yang disertai tahun dan lokasi kejadian. Contoh: Blangguan 1993; Rumah Susun Klender 1996; dan Di Depan Istana Negara, 2007. Bab  serupa tanpa penyebutan lokasi yang jelas seperti: Di Sebuah Tempat, di Dalam Gelap, 1998 dan Di Sebuah Tempat, di Dalam Khianat, 1998 adalah potongan-potongan peristiwa penculikan, penyanderaan, penyiksaan dan kematian Biru Laut dengan sentuhan unsur surealis yang minimalis yang barangkali berfungsi menghias narasi agar terasa sedemikian puitik dan muram.

Unsur sureal ini tampak dalam Prolog yang terdengar misterius sekaligus indah. Pembaca disambut oleh jiwa seorang tokoh yang berbicara dari kedalaman laut, yang mati karena dilempar ke dalam laut dan bernama Laut. Kematiannya begitu kelam sekaligus (sekali lagi) puitik.

… Kematianku tak lebih seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Atau seperti saat listrik mendadak mati. Hening. Begitu Sunyi. Begitu sepi. Aku tak relevan lagi. (hal. 6).

baca juga: Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Sementara itu, gaya bercerita yang pelan dengan taburan ornamen-ornamen kuliner dan referensi kajian politik dan sastra membuat novel ini terasa begitu dalam dan kaya namun di sisi lain justru terasa menjemukan. Bab pertama setelah Prolog yang berjudul Seyegan, 1991 merupakan bab panjang berisi kemunculan banyak tokoh. Nyaris semuanya perlu diperkenalkan lengkap dengan asal usul dan latar belakang keluarga serta profesi orang tua. Padahal, tak semua nama dalam satu bab setebal 40 halaman tersebut signifikan untuk perkembangan penokohan Biru Laut pada bab-bab selanjutnya. Meski, yah, dengan banyaknya nama yang muncul mengandung pesan bahwa banyak mahasiswa yang berapi-api untuk menggulingkan rezim Soeharto, bahwa pergantian babak baru Indonesia tidak serta merta hanya dipelopori oleh sekelompok kecil aktivis radikal, hanya saja, menempatkan semua nama dalam satu bab awal membuat pembaca kekenyangan sebelum waktunya.

Berbeda dengan bagian kedua yang diambil alih Asmara Jati sebagai narator. Leila mulai dapat melepaskan improvisasi kepengarangannya dengan cukup luwes dan mengalir. Sebagai adik kandung aktivis yang hilang pada 1998, Asmara mewakili anggota keluarga korban yang begitu kehilangan dan terombang-ambing dalam ketidakjelasan nasib anak, keponakan dan saudara yang tak kembali hingga saat ini. Tokoh Asmara dibangun dengan cukup lugas dan rasional sehingga mampu menjadi penyeimbang dari penyangkalan para anggota keluarga yang lain.  Kemuraman tokoh-tokoh yang berada di dalam ruang narasi Asmara ini begitu terasa kuat, sehingga saya berpikir seharusnya porsi suara Asmara lebih banyak lagi. Atau sebaiknya ada pula ruang untuk Anjani sebagai “aku”, sebagai seorang kekasih Biru Laut yang kehilangan cinta sekaligus hasrat hidupnya.

Bagaimana pun, Aksi Kamisan atau aksi diam di depan Istana Negara telah berlangsung selama sepuluh tahun, dan baru di Hari Kamis yang ke-450, pertama kalinya presiden mau menemui para keluarga yang terus berjuang menuntut penanganan pelanggaran HAM kasus 1998. Sayangnya, bab mengenai Aksi Kamisan ini berlangsung singkat dalam Laut Bercerita. Aksi Kamisan menjadi awal-mula dari penerimaan sekaligus perpanjangan harapan dari keluarga korban 1998. Yang menarik, Leila juga menceritakan aksi tersebut terispirasi oleh gerakan serupa yang dipelopori para ibu di Plaza de Mayo Argentina. Adegan Asmara bertemu dengan ibu-ibu Argentina di New York adalah sebuah momen penting  yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih dalam lagi. Sehingga saat pembaca telah sampai pada Epilog, kita dapat memahami tahapan rekonsiliasi selalu dimulai dari proses berdamai dengan diri sendiri yang berlanjut melalui perjuangan panjang sejumlah pihak untuk tetap merawat ingatan, untuk tetap memperluas gerakan.

  •  

Judul : Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori

Penerbit : Kepustakaan Gramedia Populer

Tebal: 378 halaman

  •  


Tags

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: