Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Lorong

Oleh: Yuditeha         Diposkan: 02 Feb 2019 Dibaca: 1154 kali


Dari teman-teman kecilkulah pertama kali aku melihat sebuah lubang di leher. Bukan hanya itu, bahkan kamilah yang bersama-sama membuat lubang itu. Dulu kami sering berburu ikan lele di got selepas banjir surut. Kami mematikan ikan lele yang dapat kami tangkap itu dengan cara melubangi leher ikan lele dengan sebuah pisau kecil. Kata mereka cara itu hampir sama dengan cara orang primitif membunuh lawan-lawannya. Dan kata mereka juga, jika aku tidak percaya, aku bisa menanyakan hal itu kepada bapakku.

Menurut mereka bapakku bukan orang sembarangan, tapi tidak demikian saat mereka melihat diriku. Maksudku begini, mereka melihatku sebagai orang yang sewajarnya, seperti orang kebanyakan. Seumumnya, termasuk dalam hal sifat dan perilaku. Kurasa memang begitulah adanya diriku selama ini. Mungkin karena bapakku dipandang bukan orang sembarangan itulah mengapa yang kualami selama ini bukan perkara mudah bagiku untuk berteman dengan sembarang orang. Tapi meski begitu, aku tidak mau menyerah, aku tetap berusaha mencari teman dan akhirnya punya kisah dengan mereka, meski seringkali aku harus bermain di belakang bapak.

Sewaktu kecil dulu, saat teman-temanku suka layang-layang, aku pun juga suka. Seketika kami bisa menjadi bersemangat jika melihat ada layang-layang putus. Biasanya kami langsung serempak mengejar layang-layang itu. Menurutku, lariku tidak terlalu kencang, juga tidak terlalu lambat tapi beberapa kali aku berhasil yang lebih dulu mendapatkannya. Meski begitu aku tidak pernah menganggap hal itu menjadi ukuran kalau aku paling gesit dalam upaya meraih layang-layang itu. Semua kuanggap sebagai keberuntungan saja.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Pada saat teman-teman sebayaku gandrung dengan ponsel, aku pun juga demikian. Kami sering main game bersama-sama. Maksudku, meski pada saat itu kami berkumpul bersama, tetapi kami main game sendiri-sendiri di ponsel kami masing-masing. Bercakap hanya sepatah dua patah kata sekedar merespon permainan kami sendiri. Atau sering kami hanya melempar umpatan kesal karena kalah dalam permainan itu. Kalau sudah begitu teman-teman yang lain menanggapinya dengan tertawa atau memberi kata-kata ejekan. Jika hati kami sedang tidak tegang, tawa dan ejekan teman hanya dianggap angin lalu, bisa jadi justru akan dianggap sebagai salah satu tantangan. Tapi jika hati kami sedang ada yang panas, tawa dan ejekan teman bisa menjadi perkelahian hingga berujung bubarnya kebersamaan itu dalam waktu beberapa saat. Hal seperti itu telah menjadi dinamika kami.

Entah kenapa meski aku merasa bahwa sikap dan perilakuku wajar tapi terkadang aku menganggap bahwa ada sesuatu di dalam diriku yang berbeda dari teman-temanku. Dan apakah itu, aku sendiri tidak tahu. Perasaan yang seperti itu anehnya tidak bisa hilang meski aku berusaha untuk tidak menggubrisnya. Aku merasa perasaan itu tetap mendekam dalam bawah sadarku. Yang kupikirkan pada saat perasaan seperti itu muncul, ada semacam dorongan di dalam diriku untuk bersikap semauku, meski pada akhirnya aku berusaha untuk menahan dan akhirnya dapat bersikap yang wajar. Pada saat kondisi seperti itu aku sering merasakan bahwa waktu berjalan begitu pelan dan setelahnya tiba-tiba aku merasa badanku teramat penat.

Masih jelas kuingat, aku pernah merasa sangat jengkel pada teman-temanku yang bersekongkol untuk mengerjaiku pada waktu bermain malingan, sebuah permainan sembunyi-sembunyian. Mereka bekerja sama untuk mengelabuhiku agar akulah yang terus-menerus menjadi orang yang kalah. Hampir sepanjang permainan waktu itu aku yang selalu mendapat jatah untuk mencari keberadaan mereka. Pada mulanya aku tidak menyadari bahwa kekalahan-kekalahanku itu adalah rekayasa mereka. Aku menganggap hal itu adalah hari sialku. Pada akhirnya rekayasa mereka kuketahui dan saat itulah aku sangat jengkel dan ingin marah, tapi yang kulakukan saat itu, aku hanya menangis lalu pergi begitu saja. Meski pada waktu itu mereka merajuk dan meminta maaf, tapi aku tetap nekat berlalu dan tak memedulikannya.

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Sebenarnya peristiwa seperti itu menurutku bukan termasuk dalam kategori bully. Kejadian mengerjai dan dikerjai sudah lumrah terjadi pada kami. Dan yang dikerjai bukan berhenti pada salah satu orang saja. Bergantian. Hari itu aku yang dikerjai, tapi di hari berikutnya aku bersama teman-teman bisa gantian mengerjai teman yang lainnya. Pada saat aku berada pada posisi yang dikerjai, rasa-rasanya seperti tak tahan menanggung malu dan terbersit keinginan untuk membalas kejengkelan itu, dan selama ini aku bisa menahannya. Tapi yang menjadi masalah karena rasa jengkel itu tak mau pergi dari tubuhku, masih bercokol di ragaku, meski entah bersembunyi di mana. Dan jika aku mengamati sikap teman-teman, sepertinya rasa jengkel itu hanya berlaku pada saat dikerjai saja.

Hidup terus bergulir, usia bertambah dan kami tumbuh menjadi remaja. Sekolah kami mulai berbeda, bahkan tempat tinggal kami ada yang jauh terpisah. Teman semasa kecil satu-demi satu tergantikan dengan teman-teman yang baru. Dan aku merasa diriku mulai belajar tentang kehilangan. Sekarang, aku sendiri masuk di sekolah favorit di kota. Di sekolah itu aku punya teman-teman baru. Teman sekolah yang otomatis juga menjadi teman bermain, karena kami sama-sama tinggal di satu asrama. Pikirku bersahabat dengan mereka akan sama halnya bersahabat dengan teman-teman kecilku dulu. Suka duka akan berlalu serupa. Dan bukankah memang semestinya begitu perjalanan sebuah persahabatan? Tentu di dalamnya juga akan tertoreh sebuah kenakalan-kenakalan yang menurut kakak temanku dulu dianggap sebagai kenangan yang menyenangkan.

“Jadi, jangan pernah menyesalkan apa yang terjadi di masa silam,” lanjutnya.

“Tapi bagaimana jika yang dilakukan di masa lalu itu sebuah kesalahan besar?” tanyaku waktu itu.

“Yang itu kau akan menyesal.”

“Maksudnya?”

“Di dalam sanubarimu sendiri, sesungguhnya sudah tahu betul kesalahan macam apa yang bisa membuatmu menyesal. Jadi sesungguhnya kau sudah tahu bahwa pada saat itu seharusnya kau tidak boleh melakukan kesalahan itu.”

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Sudah sekian lama aku tidak bisa memahami perkataan kakak temanku itu. Dan kurasa memang tak ada hal yang memaksa aku harus mengerti hal itu. Jadi kupikir santai saja.

Setelah beberapa lamanya aku masuk di sekolah ini dan tinggal di asramanya, sedikit demi sedikit celah pengertian kata-kata kakak temanku itu mulai terkuak. Tapi sepertinya aku terlalu lamban untuk menangkapnya. Mungkin bisa dikatakan terlambat, karena aku merasa mendapatkannya penuh pengertian itu di saat aku baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.

Kisah itu bermula dari sebuah obrolan bersama. Perkataan dari Jendro-lah yang mulai memancing emosi. Dia adalah teman sekamarku di asrama. Pada saat itu jadwal agak santai dan kami berkumpul ngobrol. Ketika perbincangan kami sedang membahas pengetahuan umum, aku sendirilah yang kebetulan tidak memahaminya. Mungkin karena hal itu tiba-tiba Jendro berbicara.

“Aku heran, anak sebego kamu bisa masuk di sekolah ini!” Perkataan itu ditujukan kepadaku.

“Kalian yang punya nama hampir sama tidak boleh saling menyakiti!” salah satu temanku yang lain menyahut.

Ah, nama kami kenapa hampir sama. Dia Jendro dan aku Jendra. Usut punya usut, alasan pemberian nama dari orang tua kami masing-masing pun juga sama. Kupikir ini kebetulan yang teramat menjengkelkan. Orang tua kami sama-sama Jendral-lah alasannya. Mungkinkah karena hal itu, teman-teman kecilku dulu bilang bapakku bukan orang sembarangan. Sebenarnya sikap Jendro yang merendahkanku itu bukan hanya kali itu, tapi dia telah sering menghinaku dengan memberi label kepadaku dengan nama-nama yang membuat aku malu.

baca juga: Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kupikir, rasa jengkel itu sama dengan rasa jengkel yang sering kualami saat bersama teman-temanku dulu. Rasa jengkel yang dulu dapat kutekan sampai ke tempat yang paling dasar. Agar aku tidak sampai melakukan kesalahan yang seharusnya tak kulakukan. Pada saat ini sesungguhnya aku telah mendapatkan pengertiannya penuh.

Entah kenapa meski pada saat itu aku merasa bisa menyembunyikan kejengkelan di tempat yang paling aman tapi aku merasa tidak bersungguh-sungguh melakukannya. Dan tiba-tiba aku  merasakan waktu berjalan sangat lamban dan badanku agak panas.

Aku bermaksud istirahat, menidurkan pikiran dan perasaan agar tak berlarut-larut. Saat rehat itu, sembari aku melihat televisi. Televisi sedang menyiarkan acara dunia kuliner. Televisi sedang menampilkan sebuah penjelasan tentang bagaimana caranya menyembelih ayam yang benar. Pada saat aku melihat adegan itu serasa aku dibawa ke daerah yang begitu sunyi dan hampa. Lalu yang tampak di mataku waktu itu aku sedang melihat ada seseorang yang sedang menancapkan sebatang besi tepat ke leher temannya sedalam 8 centi. Sejenak kemudian temannya itu mati.

Dan saat aku sadar, aku telah berhasil membuat lobang di leher Jendro. Pada saat itulah aku melihat sebuah lorong kehampaan di sana. Bersamaan itu pula sebuah penyesalan seperti merambat di sekujur ragaku.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: