Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Lubang Hitam Manusia Modern

Oleh: Anindita S T         Diposkan: 22 Jan 2019 Dibaca: 2350 kali


Modernitas memang membawa kemajuan, tapi juga menghasilkan sayap-sayap yang terluka sebagaimana ujar Prof. Driyarkara. Inilah yang ditangkap oleh Karl Marx sebagai alienasi. Manusia menjadi terasing di antara gedung tinggi menjulang, etalase mewah toko barang bermerk, lalu lalang kendaraan terbaru hingga gemerlap pusat-pusat hiburan. Di tengah semua hiruk pikuk itu, manusia seperti berada dalam lubang hitam yang menawannya dalam kesunyian panjang. Gabriel Garcia Marquez bahkan merasa perlu menuliskan Seratus Tahun Kesunyian demi menggambarkan kondisi manusia yang penuh kesunyian.

Jayabaya dan Nostradamus yang terkenal dengan nubuat-nubuat futuristiknya belum sempat memberikan hujah tentang munculnya era milenial. Era di mana manusia tidak harus banyak bergerak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat membuat banyak hal bisa diselesaikan hanya dengan memencet tombol atau menyentuh layar gawainya. Berbelanja, memesan tiket, transaksi perbankan hingga jual beli bisa diselesaikan tanpa banyak gerak. Lewat novelnya, The Hole, Pyun Hye-Young seolah hendak menyindir keadaan ini sekaligus memberikan refleksi atas kondisi manusia modern. Apa yang terjadi ketika manusia benar-benar tidak bisa bergerak?

Refleksi Setelah Koma

Oh Gi  mendapati hidupnya berubah drastis usai tersadar dari koma. Dia ternyata baru saja mengalami kecelakaan yang membuat mobilnya jatuh ke dasar lereng yang gelap. Tidak hanya istrinya yang tewas dalam peristiwa tersebut, kondisi tubuh lelaki itu tidak lagi sama. Oh Gi yang sebelumnya aktif sebagai peneliti dan dosen harus menghadapi kenyataan baru. Kini, dia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur tanpa sanggup bergerak dan berbicara. Oh Gi bak terjatuh dan terjebak dalam sebuah lubang hitam.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Dalam kondisinya yang baru, Oh Gi merasa tidak berarti lagi sebagai manusia. Dia ingin menyerah menghadapi situasi yang mengenaskan itu. Upaya dokter untuk menyembuhkannya tidak memberikan harapan baru. Segala bentuk kegairahan hidup  pupus darinya. Di saat yang sama, dia mulai banyak berpikir tentang kediriannya yang selama ini terabaikan.

Sebelum kecelakan tersebut terjadi, hidup Oh Gi hanya diisi oleh banyak kerja layaknya manusia modern. Kesibukan itu menciptakan jarak antara dia dan istrinya. Oh Gi merasa tidak lagi mengenal sang istri. Dia tidak bisa memahami mengapa istrinya tiba-tiba berhenti menulis. Dia juga tidak tahu mengapa perempuan itu lebih suka menghabiskan waktu mengurus taman atau duduk termangu di kamar kerja. Di mata Oh Gi, istrinya telah berubah menjadi orang asing.

Terbujur kaku di atas ranjang, Oh Gi menghabiskan waktu dengan memikirkan kembali semua itu, termasuk hubungannya dengan orangtua, mertua, dan teman-temannya. Dalam keheningan kamar tidur, Oh Gi mencerap kembali babak demi babak kehidupannya yang telah lewat. Tiap babak memiuh dalam kepalanya sebelum kemudian berujung pada kondisinya yang mengenaskan. Serangkaian pertanyaan pun menyeruak: “Bagaimana hidup bisa berubah dalam sekejap? Runtuh, tumbang menjadi kehampaan?”

baca juga: Melihat Buku Bekerja

Lewat narasi yang pendek-pendek, Pyun Hye-Young mengajak pembaca menyelami pergulatan batin sang tokoh utama. Pergulatan yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang hanya hadir dalam benak seorang manusia yang terjebak dalam ketidakberdayaan seperti Oh Gi. Ironisnya, seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi, dunia di luar sana justru tetap berjalan sebagaimana biasa. Normal dan baik-baik saja.

Tema yang diangkat Pyun Hye-Young mengajak kita melakukan refleksi diri. Di tengah dunia yang berlalu cepat seperti sekarang, diperlukan jeda untuk melihat dimana posisi kita berada agar tidak tersesat di tengah belantara modernitas yang tidak bisa dihindari. Koma yang dialami Oh Gi merupakan alegori dari jeda tersebut, sebagaimana koma dalam sebuah kalimat yang memberikan kesempatan kepada kita untuk berhenti sejenak, mengambil napas, sebelum melanjutkan perjalanan membaca kalimat selanjutnya.

Pertukangan Yang Digarap Kurang Tekun

Banyak pengarang latah meniru jejak pengarang yang dikaguminya, demikian pula salah satu bintang baru sastra Korea Selatan sekaligus pemenang sejumlah penghargaan: Pyun Hye-Young. Adalah Franz Kafka yang pertama kali memperkenalkan adegan “saat terbangun dari tidur” pada pembukaan novel. Jejak adegan ini terdapat pula dalam The Hole. Bila Gregor Samsa, sang tokoh utama dalam Metamorfosa Samsa karya Kafka, menemukan dirinya menjadi kecoa setelah terbangun dari tidur, maka hal serupa juga terjadi dalam novel ini. Bedanya, Oh Gi menemukan dirinya lebih serupa “kecoak telentang” yang tidak bisa bangun sendiri gara-gara suatu kecelakan. Selain itu, isi novel ini juga mengikuti jejak Kafka yang mengulik soal keterasingan manusia di tengah dunia modern. Persoalan semacam ini memang selalu menarik dan tidak pernah habis dijadikan bahan cerita.

baca juga: Dimensi Puisi dan Tahun Politik

Sebagai peraih penghargaan 10 Novel Thriller Terbaik 2017 versi Majalah Time, dari segi pertukangan, apa yang ditawarkan The Hole tidak sesuai harapan. Pengarang kurang berhasil menghadirkan suasana mencekam yang mampu membuat pembaca terseret di dalamnya. Narasi yang pendek-pendek, juga penyebutan nama tokoh utama yang berulang secara membosankan di banyak tempat, menjadi satu-dua penghambat lahirnya suasana ini. Penceritaan yang terasa datar juga membuat The Hole lebih tepat didapuk sebagai novel drama populer, alih-alih novel thriller. Hal ini didukung pula oleh kurangnya daya cengkeram unsur ketegangan dan longgarnya unsur kejutan pada klimaks cerita.

Terlepas dari itu, novel The Hole tetap menarik untuk dibaca karena menghadirkan satu pertanyaan mendasar untuk manusia modern. “[Apakah manusia] menyadari bahwa hidup yang dia pertahankan dengan susah payah itu ternyata hanya sesuatu yang hampa?” Pertanyaan tersebut sangat tepat diajukan kepada manusia yang hidup di era milenial saat ini.  Manusia yang lebih suka berpikir tentang masa depan cerah yang penuh harapan, alih-alih menyadari bahwa hal sebaliknya bisa pula terjadi. Yaitu, saat musibah datang dan merampas semua harapan itu dalam sekejap. ***

  •  

Judul: The Hole

Penulis: Pyun Hye-Young

Penerjemah: Dwita Rizki

Penerbit: Baca

Tebal: 241 halaman

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: