Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Makan Malam Perpisahan

Oleh: Harrits Rizqi         Diposkan: 21 Sep 2019 Dibaca: 1493 kali


Pada akhirnya, perpisahan melengkapi pertemuan. Ia menjadi ujung, sekaligus menjadi mula bagi kisah selanjutnya. Begitu pula makan malam perpisahan bersama teman-teman sejawat Radio Kota. Makan malam ini menjadi tanda sekaligus pengingat bahwa pernah ada sambut yang kini hanya tinggal kenang. Hadir sudah teman-teman yang berasal dari Bangladesh, Jepang, Sri Lanka, Malaysia, Turki, dan lainnya. Air mata kusimpan-sembunyi dalam diri. Hendak kupandang dan kuingat wajah mereka satu per satu sebelum kutinggalkan tanah yang kutinggali selama delapan belas tahun ini. Kutinggalkan jejak-jejakku di Tiongkok. Pukul 22.30 malam ini, 25 November 1981, aku akan terbang ke Paris bersama dua orang anakku.

Bukan perpisahan yang menjadikan jiwaku tidak berdaya, melainkan potongan-potongan ingatan yang lekas berseliweran, tentang perjalanan panjang yang kumulai sejak 1963. Ingatan ini membuatku berat untuk mengatakan “sampai jumpa”. Akan tetapi, harus kukatakan juga ternyata kata-kata itu kepada teman-teman sejawat, alam dan kebudayaan Tiongkok, perkampungan lama di Xi Gang-san, serta kepada istriku … istriku yang sudah berbaring damai dalam kasih Bumi.

“Kalau nanti aku tak ada, pergilah dari sini, pergi ke mana saja. Carilah tanah lain untuk penghidupan.”

baca juga: Dunia Alika

Itulah permintaan istriku sebelum ia pergi ke sisi Tuhan. Permintaan itu barangkali ada benarnya. Aku dan keluargaku memang sudah bergantung hidup, bahkan nyaris ketergantungan dengan tuan rumah, negara ini. Tiongkok menampung kami bagai menampung dewa. Uang bulanan selalu mereka berikan. Kontrol kesehatan pun tidak pernah luput. Sebulan sekali kami juga diajak mengenal wilayah lain alias jalan-jalan. Lantas, apa yang tidak mereka berikan? Satu-satunya jawaban ialah kebebasan.

Kami tidak pernah dapat bepergian sesuka hati ke luar kota, ke Beijing, atau bahkan ibu kota provinsi. Kami selalu dalam pengawasan. Namun, aku coba untuk mengerti. Mereka semata-mata hanya ingin menjaga keadaan kami, memastikan bahwa semua baik-baik saja, setidaknya secara fisik. Kami tamu. Oleh karena itu, kami harus menuruti tuan rumah.

Lalu, jika kuingat awal kedatanganku sekeluarga ke sini, betapa semua seakan menjadi surga yang tidak pernah putus nikmatnya. Aku menjadi seorang ahli bahasa di salah satu perguruan tinggi. Upah yang kuterima lebih dari cukup. Kami tidak kekurangan sesuatu pun. Tetapi, keadaan banyak berubah pascakejadian 1965 yang terjadi di tanah air kami. Kami harus memilih, menyatakan tunduk terhadap pemerintahan baru atau diputus hak kewarganegaraan kami. Tentu, kami memilih yang terakhir. Kami tidak mau menjadi tahanan di tanah air sendiri, menjadi tahanan politik oleh Pemerintah. Itu ‘kan yang mereka lakukan terhadap abangku dan orang-orang lain yang sebenarnya tidak tahu apa kesalahannya?

baca juga: Mak Sumay

Setelahnya, aku dan keluargaku memilih minggir ke Tiongkok bagian selatan. Kami menetap di sana bersama yang lain, yang senasib. Membangun dan menghidupi perkampungan kecil. Kecil, tetapi membahagiakan. Kulakukan hobiku, menembak burung di hutan-hutan. Aku tidak berangkat sendiri, melainkan bersama teman-teman sehobi. Kami biasanya menghabiskan waktu selama delapan jam dengan hasil empat puluh burung per orang. Di kampung, sudah ada bagian khusus yang menangani masak-memasak. Kami berpesta sepanjang malam.

Memang tidak ada yang tahu soal takdir. Mula-mula istriku mendapat kesempatan belajar kedokteran di kota sehingga kumpul berempat tidak dapat kami lakukan setiap hari, melainkan sebulan sekali. Kemudian anakku yang pertama melanjutkan ke sekolah menengah. Sekolah menengah juga hanya ada di kota. Jaraknya berkilometer jauhnya. Sampailah kemudian aku ditawari bekerja di Radio Kota. Kupertimbangkan terlebih dahulu. Jika pindah, kami dapat kumpul berempat lagi. Selain itu, penduduk kampung juga semakin berkurang; sudah semakin sepi. Mereka pun umumnya pindah ke kota karena beberapa alasan. Jadi, apa yang perlu kupertahankan di kampung?

Aku mendapat kontrak di Radio Kota untuk bekerja selama dua tahun. Tidak perlu khawatir karena sangat jarang kontrak yang tidak diperpanjang. Aku bekerja di bagian berita bahasa asing. Yang kumaksud adalah bahasa Indonesia. Bukankah sedikit aneh menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa asing? Sementara itu, istriku menjadi dokter dan pembaca cerita pendek di Radio Kota untuk sesekali waktu. Kami tinggal di kompleks Radio Kota.

baca juga: Anjelo

Meskipun tahu bahwa tidak dapat bergantung di Tiongkok untuk selamanya, kami mencoba untuk menikmati hari-hari yang ada. Setidaknya, sebelum kami benar-benar harus angkat kaki dari sini. Dalam hal itu, istriku tidak hanya menikmati sendiri hidupnya, tetapi juga membagi kenikmatan yang didapatnya untuk yang lain. Yang lain itu adalah bunga-bunga kesayangannya. Selalu dirawatnya bunga-bunga aneka rupa itu hingga jadi penghias rumah. Terkadang, jika pulang kerja, aku melihatnya masih menyirami bunga. Bunga-bunga tampak bahagia dirawat tangan lembut nan penyayang itu.

Dan ternyata, Tuhan lebih menyayanginya. Ia memanggil istriku dengan jalan memberikannya penyakit bintik-bintik merah. Seorang dokter memberitahuku nama penyakitnya. Ia menyebut L-E atau Lupus erytomatusus. Semakin hari, semakin menurun kondisinya. Aku masih bertanya-tanya waktu itu, akankah ia adalah orang pertama dari kami berempat yang akan dipanggil-Nya? Mengapa bukan aku saja? Lalu kuingat sebuah perpisahan di Bandara Kemayoran sebelum kami berangkat ke Tiongkok. Di sana datang teman-teman kami, termasuk Mas N, seorang petinggi partai yang nantinya diluluhlantakkan pemerintahan baru. Kulihat air mata istriku itu. Ada suatu perasaan bahwa air matanya bukan air mata biasa, melainkan air mata terakhir, seolah tidak akan kembali ke tanah air.

Perasaan tentang air mata istriku itu, sayang sekali, benar. Istriku akhirnya meninggal pada 31 Agustus 1980. Ia tidak sempat kembali ke tanah kelahirannya. Juga tidak sempat menyampaikan salam perjumpaan kepada bunga-bunganya. Awan gelap datang ke hati yang ditinggalkan. Oh, andai kematian tak memisahkan.

baca juga: Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Awan gelap lain datang setahun berikutnya. Petinggi Radio Kota memanggilku. Sebuah firasat tidak baik lagi-lagi datang. Aku disuruh menemuinya di ruang rapat. Telah kuperkirakan kemungkinan terburuk: penghentian kerja. Namun, aku masih berharap itu tidak terjadi. Lagi pula, bukankah sangat jarang pemutusan hubungan kerja untuk sekali masa kontrak?

Ketika aku datang, ruangan itu telah terisi oleh beberapa orang, termasuk petinggi Radio Kota. Tidak ada basa-basi yang lama. Aku lekas diberitahu bahwa Radio Kota sudah tidak memerlukan aku lagi. Bidang berita bahasa asing sudah dapat dikerjakan mereka sendiri. Entah apa maksud “dikerjakan sendiri” itu. Belakangan memang kutahu bahwa pemutusan hubungan kerja ini didasari hubungan politik Tiongkok dan Indonesia. Untuk memperlancar hubungan, mereka harus menyingkirkan “batu yang mengganjal”. Salah satu batu itu adalah aku. Betapa kejam, bahkan tanah air kami tak mau mempererat hubungan dengan rakyatnya sendiri. Ataukah aku dan yang lain sudah menjadi mantan rakyat?

Ketika mereka menanyakan pendapatku, aku menjawab bahwa aku tidak tahu harus berbuat apa. Pengumuman itu terlalu mendadak dan aku tidak sempat mempersiapkan perpindahan—jika memang harus ada perpindahan; pindah dari Tiongkok. Akan tetapi, alangkah baik, mereka memberiku kesempatan untuk mempersiapkan perpindahan itu. Mereka memberi waktu selama tiga bulan. Aku pun masih dipekerjakan, meskipun hanya setengah hari dan digaji setengah dari sebelumnya.

baca juga: Ziarah Maaf

Dalam masa penantian itu, kukirim surat ke teman-teman dan kenalanku di luar negeri. Tujuan utamaku adalah negara-negara yang berbahasa Inggris, seperti Australia, Kanada, Amerika Serikat, atau setidaknya Hong Kong. Tidak pernah terpikir olehku untuk berpindah ke Eropa. Sudah ratusan surat kukirim. Dari ratusan itu, kuterima juga banyak balasan. Akan tetapi, tidak ada yang menyanggupi. Sebagian mengatakan hanya dapat menampung satu orang, sedangkan aku bersama kedua anakku. Kuingat-ingat kemudian seorang teman yang pernah menawariku untuk tinggal bersamanya di Belanda. Kukirimkan surat, tetapi tidak ada balasan. Sementara itu, tenggat penantian terus berjalan.

Bantuan datang pada waktu menjelang tenggat. Seorang teman di Paris, Prancis, menelepon. Ia bilang, ia sanggup menampung aku bersama kedua anakku. Ia mendengar kabar dari seorang teman yang kukabari; kebetulan temanku itu temannya juga.

Kupikir sebentar. Prancis tidak pernah terlintas dalam benakku. Aku pun tahu bahwa Prancis adalah negara yang memiliki kebanggaan tersendiri akan bahasanya. Oleh karena itu, mau tidak mau, jika ke sana, aku harus belajar bahasa Prancis. Aku pernah mendapatkan mata pelajaran bahasa Prancis di sekolah menengah atas, tetapi aku sudah banyak lupa kata-katanya. Tetapi, kupertimbangkan bahwa ini begitu mendesak. Urgensi tidak dapat dikompromi. Jadi, kusetujui tawaran itu. Juga sembari menunggu keberangkatan, aku belajar bahasa Prancis kepada teman-teman sejawatku di Radio Kota yang dapat berbahasa Prancis.

baca juga: Lorong

Kenangan-kenangan, kisah-kisah itu tersaji begitu saja di meja perpisahan ini. Aku harus menelannya. Ada kepiluan yang mesti diterima, meskipun tangan enggan menampa. Kupandangi lagi mata teman-temanku. Kuucapkan salam perjumpaan dan terima kasih kepada tanah Tiongkok yang memberiku kesempatan merasakan keindahannya. Kuucapkan dari hati yang paling lirih. Sebentar lagi aku memenuhi permintaan terakhir istriku, meskipun dengan jalan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Lalu seorang teman yang duduk di kursi sebelah menyenggolku.

“Saya tidak yakin untuk bertanya hal ini, tetapi izinkanlah. Apakah Tuan akan kembali ke Indonesia?”

“Mungkin iya, untuk waktu yang tidak dapat dipastikan … atau tidak sama sekali.”

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: