Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Makelar Politik

Wishlist
Stock: Tersedia
Jumlah:

 Pembelian : Diskon 25% min beli 2 buku. Kode kupon: dirumahaja 

 Limited Offer: Beli 1 Gratis 1 

 Special Offer: Diskon 20% + Bonus Notes 


“Makelar politik seperti ular, jenisnya beraneka ragam. Ada yang seperti ular air dan ular tanah, ada juga yang seperti ular piton dan ular kobra…”
 

Karya yang sedang Anda genggam saat ini, berisi 50 tulisan seorang Puthut EA “muda” dalam memandang kehidupan di sekitarnya. Bagaimana penulis yang juga dikenal sebagai seorang peneliti dan terlibat dalam pergerakan mahasiswa di tahun 1998, melihat fenomena para makelar politik yang justru dijadikan profesi bagi para eks-aktivis gerakan kemahasiswaan yang awalnya mengusung kemurnian demokrasi. Pun bagaimana dirinya memandang secara jenaka pertanyaan seputar kelangsungan kehidupannya.
Banyak tulisan yang mengulas hal-hal kecil, sehingga membuat pembacanya merasa disadarkan tentang suatu hal. Gaya khas tulisan-tulisan Puthut EA ini seringkali diceritakan secara dramatis. Misalnya saat penulis mengomentari polisi tidur, upacara bendera, kawan lama, kacamata, dan sebagainya.

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Berat: gram

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : 9786237284048
Ketebalan : 278 hlm l Bookpaper
Dimensi : 14 x 21 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Buku Mojok
Penulis: Puthut EA
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by