Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Makna Hidup Menurut Logoterapi

Oleh: Afthonul Afif         Diposkan: 17 Aug 2019 Dibaca: 2036 kali


Tulisan ini merupakan perkenalan singkat terhadap suatu aliran psikologi yang dipelopori oleh Victor E. Frankl, seorang eksponen psikologi eksistensial-humanistik, yang sumbangan pemikirannya tetap relevan dikaji hingga sekarang, khususnya bagi mereka yang menaruh perhatian besar pada apa yang disebut “makna hidup” dan “kebermaknaan hidup.” Ia menciptakan suatu model psikoterapi yang disebut “Logoterapi,” yang dapat digolongkan ke dalam aliran Psikologi Eksistensial atau Psikologi Humanistik karena dianggap cukup mapan setelah Psikoanalisis Sigmund Freud dan Psikologi Individual Alfred Adler, yang juga lahir dan tumbuh di kota Wina juga

Kata logos diambil dari bahasa Yunani yang berarti “makna” (meaning) dan juga “ruhani” (spirituality). Logoterapi adalah wawasan tentang manusia yang mengakui adanya dimensi spiritual, selain dimensi somatis, dimensi psikologis dan dimensi sosial pada eksistensi manusia, serta menekankan pada makna hidup dan kehendak untuk hidup bermakna sebagai potensi dasar manusia. Logoterapi juga menyertakan kemampuan khas manusia, yaitu self-detachment dan self-trancendence, keduanya menggambarkan adanya kebebasan dan rasa tanggung jawab. Dengan kata lain, sifat dasar eksistensi manusia menurut logoterapi adalah keruhanian (spirituality), kebebasan (freedom), dan tanggung jawab (responsibility).

Victor E. Frankl adalah seorang psikiater kelahiran Wina, Austria sekaligus penyintas dari kamp konsentrasi maut Nazi pada Perang Dunia II, yang berhasil menciptakan suatu model pertahanan diri dengan jalan mengembangkan hidup bermakna (the will to meaning). Harapan untuk hidup bermakna, menurut Frankl, dapat dikembangkan dalam berbagai kondisi, baik dalam keadaan normal maupun dalam penderitaan (suffering), misalnya dalam kondisi sakit (pain), bersalah (guilt), dan bahkan menjelang kematian sekalipun (Frankl, Psychotherapy and Existentialism, 1973, hal. 25).

baca juga: Membincang Patah Hati

Setiap sistem atau metode psikoterapi pada dasarnya mengusung suatu filsafat manusia yang khas, tidak terkecuali Logoterapi. Konsep manusia yang dipromosikan Logoterapi adalah manusia otentik yang sanggup menciptakan kebebasannya sendiri melalui upaya untuk hidup bermakna. Frankl berusaha memulihkan kebebasan sebagai sesuatu yang menentukan hidup manusia, potensi yang oleh dua aliran psikologi arus utama, Psikoanalisis dan Behaviorisme, dicampakkan sedemikian rupa.

Psikoanalisis dan Behaviorisme sangat dipengaruhi oleh iklim materialisme Barat abad sembilan belas yang positivistik. Keduanya melihat perilaku manusia sebagai gejala yang digerakkan oleh situasi deterministik. Misalnya tentang gejala neurosis. Neurosis, bagi psikoanalisis merupakan gejala yang disebabkan oleh permasalahan masa lalu yang belum terselesaikan, yang dapat diatasi hanya dengan melepaskan hasrat-hasrat terpendam atau sublimasi. Sementara bagi behaviorisme, neuriosis muncul karena individu melakukan salah belajar dalam menerima respon eksternal, dan dapat diatasi dengan menerapkan teknik modifikasi perilaku yang dikontrol secara ketat melalui mekanisme stimulus-respon, reward-punishment, dan metode conditioning lainnya. Setiap model psikoterapi yang berusaha mengembalikan kebebasan manusia sebagai sesuatu yang berharga pasti akan bersinggungan dengan dua aliran utama psikologi ini.

 

Filsafat Manusia Logoterapi

 

Logoterapi lahir dari kondisi suram selama Perang Dunia II yang ditandai oleh jatuhnya kemanusiaan hingga dasar terendah. Manusia tidak lagi dihargai sebagai subjek yang berdaulat atas kebebasannya sendiri. Institusi negara dan ideologi-ideologi totaliter waktu itu telah mencampakkan kemanusian ke dalam kondisi yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Kita dapat melihat kesuraman ini dalam karya-karya para filsuf eksistensialis sezaman dengan Frankl, seperti Albert Camus dan Jean-Paul Sartre, yang dipenuhi rasa frustasi akan masa depan umat manusia. Mereka melihat kehidupan sebagai keadaan yang membingungkan dan dipenuhi absurditas.

baca juga: Kerawanan dan Keterasingan

Namun, Frankl menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak ingin terjebak dalam dunia yang absurd. Karena itulah ia mengembangkan suatu filsafat hidup yang disebut Logoterapi. Logoterapi mengangkat kemanusiaan ke level tertinggi dengan menempatkan kebebasan dan tanggungjawab manusia sebagai sesuatu yang berharga. Logoterapi ditegakkan di atas tiga asumsi dasar: pertama, kebebasan bersikap dan berkehendak (the freedom to will); kedua, kehendak untuk hidup bermakna (the will to meaning); dan ketiga, makna hidup (the meaning of life) (Frankl, Psychotearpy and Existentialism, hal. 13-28).

Kebebasan berkehendak merupakan antitesis dari pandangan yang deterministik tentang manusia seperti yang diusung oleh Psikoanalisis dan Behaviorisme. Frankl menyebutnya sebagai “pan-determinisme,” maksudnya adalah suatu pandangan yang tidak menghargai kemampuan diri sendiri untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Manusia yang bebas tidak sepenuhnya dikondisikan oleh lingkungannya, sebab dirinyalah yang lebih menetukan apa yang akan dia lakukan terhadap berbagai kondisi itu. Artinya, manusialah yang menentukan dirinya sendiri (Frankl, Man’s Search for Meaning, 1962, hal. 131).

Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia terkait dengan upaya mencari, menemukan, dan memenuhi tujuan dan makna hidupnya. Kehendak untuk hidup bermakna merupakan merupakan kritik yang dialamatkan Frankl terhadap “kehendak untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan” (the will to pleasure) Freud dan “kehendak untuk mendapatkan kekuasaan” (the will to power) Adler. Bagi Frankl, kesenangan atau kenikmatan bukanlah tujuan utama manusia, melainkan “akibat sampingan” dari sebuah tujuan itu sendiri. Demikian juga dengan kekuasaan yang merupakan saran belaka untuk mencapai tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri. Pada dasarnya, kesenangan dan kekuasaan sudah terkandung di dalam kehendak untuk bermakna.

baca juga: Seni: Nalar Kreatif yang Memberontak

Satu hal yang perlu digarisbawahi, mengapa Frankl memilih the will to meaning dan bukan the drive to meaning? Menurutnya, makna atau nilai eksis di luar manusia dan kebebasan manusialah yang sanggup menjangkaunya. Makna atau nilai adalah hal-hal yang harus dicapai dan bukan suatu dorongan.

Makna hidup merupakan sesuatu yang spesifik, unik dan personal. Setiap orang memiliki cara penghayatan yang khas, satu orang akan berbeda dengan yang lainnya.  Karena itulah seorang logoterapis tidak diperbolehkan memberikan apalagi memaksakan makna hidupnya kepada klien-kliennya. Tugasnya hanya membantu klien mengembangkan wawasan yang sudah mereka miliki agar mampu menemukan makna hidup, menyadari tanggungjawab serta tujuan hidup mereka. Memilih dan menentukan makna hidup sepenuhnya menjadi hak dan tanggungjawab klien.

Tugas utama seorang logoterapis, seperti yang Frankl kemukakan dalam The Doctor and the Soul (1964), adalah mendampingi klien menemukan makna dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Adapun kegiatan yang dimaksud antara lain: Pertama, sesuatu yang sudah seharusnya dilimpahkan dalam kehidupan, maksudnya berkarya dan melakukan tugas hidup sebaik-baiknya. Kegiatan ini biasa disebut sebagai creative values (nilai-nilai kreatif). Kedua, sesuatu yang bisa diperoleh dalam kehidupan, yakni berusaha mengalami dan menghayati setiap nilai yang ada dalam kehidupan itu sendiri, seperti keindahan, kebahagiaan, kebenaran, dan sebagainya. Proses mengalami ini biasa disebut sebagai experiental values (nilai-nilai penghayatan). Ketiga, menerima berbagai bentuk penderitaan yang tidak mungkin terelakkan, seperti kedukaan, sakit yang sulit disembuhkan, kematian, setelah segala upaya telah dilakukan secara maksimal. Sikap tabah terhadap realitas seperti ini biasa disebut sebagai attitude values (nilai-nilai bersikap).

baca juga: Filsafat Mencintai

 

Sketsa Self-disoder Manusia Modern

 

Dalam rangka mendapatkan pemahaman yang komprehenasif perihal Logoterapi, terapis harus mengenali sejumlah problem eksistensial yang umum terjadi dalam kehidupan manusia modern, antara lain frustasi eksistensial, kehampaan eksistensial dan neurosis noogenik. Pertama, frustasi eksistensial. Gangguan ini muncul ketika dorongan untuk hidup bermakna mengalami hambatan. Gejala-gejala dalam frustasi eksistensial tidak mewujud secara nyata, karena pada umumnya bersifat laten dan terselubung. Perilaku yang menandai frustasi eksistensial biasanya terungkap dalam berbagai usaha untuk memperoleh kompensasi besar melalui penyaluran hasrat untuk berkuasa atau bersenang-senang mencari kenikmatan. Di negara-negara Barat hasrat untuk berkuasa dan bersenang-senang tercermin dalam perilaku yang obsesif untuk mengumpulkan uang, untuk bekerja, dan pelampiasan hasrat seksual (Frankl, Psychoyherapy and Existentialism, hal. 120-121).

Frustasi eksistensial sering ditemukan dalam gejala neurosis. Berbeda dengan neurosis yang bersifat psikogenik, neurosis yang disertai oleh frustasi eksistenial disebut neurosis noogenik. Neurosis noogenik tidak bersumber dari dimensi psikologis, namun dari dimensi “noological” (dari bahasa Yunani “noos” yang berarti pikiran atau spirit). Istilah ini mewakili gangguan yang mengakar dalam dimensi spiritual manusia. Namun demikian, istilah “spiritual” tidak memiliki konotasi apapun pada agama, namun kembali secara khusus pada eksistensi manusia (Frankl, Man’s Search to Meaning, hal. 112).

Kedua, kehampaan eksistensial. Ciri-ciri perilaku yang menunjukkan terjadinya kehampaan eksistensial antara lain perasaan serba hampa, gersang, dan kebosanan yang berlebihan. Faktor-faktor yang menyebabkan semakin meluasanya gejala ini adalah karena dianutnya ideologi-ideologi yang bercorak reduksionistik, pan-determinisme, serta teori-teori homeostatis. Wawasan-wawasan tersebut menganggap eksistensi manusia sebagai sistem yang tertutup, atau memandang manusia dari sudut pandang kemanusiaan yang sub-human, kemudian mengembangkan berbagai model manusia yang berpola “rat-model,” “machine model,” “computer model,” dan sebagainya. Wawasan-wawasan ini mengingkari karaktersitik khas manusia seperti kemampuan mentransendensikan diri, kemampuan mengambil jarak dengan lingkungan dan diri sendiri, kebebasan berkehendak, rasa tannggung jawab, dan spiritualitas.

baca juga: Genderuwo di Siang Bolong

Ketiga, tentang neurosis noogenik. Neurosis noogenik tidak disebabkan oleh konflik berkepanjangan antara Id-Ego-Superego, konflik instingtif, trauma psikis, dan berbagai kompleks psikis lainnya, melainkan muncul dari problematika spiritual. Neurosis noogenik bersumber pada dimensi spiritual, dan frustasi eksistensial dan kehampaan eksistensial yang menyebabkannya terjadi. Bukan psikoterapi yang cocok untuk jenis neurosis ini, melainkan Logoterapi, terapi yang sanggup menjangkau dimensi spiritual dan eksistensial manusia.

Keberhasilan proses Logoterapi terwujud dalam kepribadian sehat atau dalam istilah Frankl “pribadi yang mengatasi diri,” yaitu pribadi yang sangggup melihat hidupnya yang tidak semata diorientasikan untuk mengejar kekuasaan dan kenikmatan, melainkan lebih berhubungan pada kemampuan untuk hidup bermakna dalam berbagai kondisi, baik senang maupun susah. Tujuan hidup tidak hanya untuk mencapai kondisi keseimbangan (equilibrium), yang menihilkan ketegangan, namun senantiasa berada dalam tegangan yang produktif dan kreatif antara apa yang kita hayati sekarang, dengan prediksi dan pengandaian tentang apa yang akan kita hayati di masa mendatang.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: