Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Malapetaka Demokrasi Pasar

Wishlist
Stock: Out of Stock
Jumlah:

Transisi demokrasi ternyata membawa jejak yang mengenaskan. Di berbagai negara setelah rejim otoriter runtuh, bukan transisi menuju demokrasi yang terciptakan, melainkan transisi menuju neoliberalisme dan demokrasi pasar.

Di sana-sini komplotan para oligarkh dan rejim pro pasar yang akhirnya duduk di tampuk kekuasaan. Kalangan ini lebih suka membawa demokrasi dalam paham yang sedikit mirip dengan fasisme. Dengan menelusuri fakta yang berjalan di Rusia dan Argentina buku ini memberi sinyal yang tajam: demokrasi tak selalu memenangkan kekuasaan rakyat. Tak jarang demokrasi hanya menghasilkan penguasa lama yang berseragam baru dan kehidupan politik tetap berjalan muram. Bahkan demokrasi tak jarang ‘memangsa’ aktivisnya dalam jaring para bandit sekaligus menjerumuskan para pejuangnya dalam dosa sosial. Buku ini mengingatkan kita bahwa paham demokrasi membutuhkan pengawal yang berani dan gesit dalam memahami sistem.

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Berat: gram

Kategori : Gerakan Sosial
ISBN : Dian Yanuardi
Ketebalan : xvi+192 | HVS
Dimensi : 11x19 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Resist Book
Penulis: Coen Husain Pontoh
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by