Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 21 Nov 2018 Dibaca: 4220 kali


Saya tidak suka Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Kalau anda suka, itulah yang menarik minat saya.

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat pertama kali terbit pada pertengahan September 2016. Februari 2018, HarperCollins, penerbit yang menerbitkan buku ini dan berbasis di Canada, merilis laporan dalam profil produknya bahwa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat telah terjual lebih dari 2 juta eksemplar (kini tertulis “3 juta”). Sebelumnya, terhitung sejak dua minggu setelah terbit sampai satu tahun ke depan, berturut-turut, New York Times mencantumkan judul buku ini (The Subtle Art of Not Giving a F*ck) dalam daftar BestSeller-nya. Susul-menyusul kemudian Washington Post, Amazon, Barnes & Noble – dan entah siapa lagi. Di Indonesia, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat sudah mencapai angka cetak yang ke-8 (khusus bulan Agustus saja, Grasindo melakukan 3 kali cetak ulang).

Diterjemahkan ke dalam 33 bahasa, buku kedua Mark Manson ini, sebagaimana yang dimetaforakan Brooke Murphy di laman Independent Austaralia, datang bak “kutukan” – berlenggak-lenggok dengan ajaib akibat judul dan warna pada sampul. Kehadiran buku ini dengan sendirinya seolah hendak menyingkirkan buku-buku lain yang ada di rak-rak pertokoan atau di pojok-pojok perpus yang pepak.

baca juga: 10 Buku Terlaris Berdikari Book Bulan Oktober 2018

Dalam banyak ulasan mengenai buku ini, orang-orang percaya, Mark Manson telah berhasil menampilkan wajah “Buddhisme modern”. “Rasa sakit dan penderitaan” kata Mark Manson, “secara biologis bermanfaat.” Mark Manson memandang, manusia memiliki semacam sistem neurotik yang membuat setiap penderitaan dan rasa sakit berfungsi “untuk perubahan yang menginspirasi,” yang oleh karenanya tak perlu jadi soal. Hidup itu sarat derita. Hidup itu soal menerima penderitaan. Hidup itu tentang bagaimana menjadi tabah. Hidup itu bla bla bla….

Buku-buku bergenre self-help adalah sebuah kompleks yang tak lekas jadi detail. Sangat mudah menebak alur dari buku-buku jenis ini; dibuka dengan nestapa yang akut, hidup yang busuk, ditutup dengan optimisme yang menyala-nyala atau harapan yang dibuat-buat. Namun, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah pengecualian – ia sepenuhnya berbeda.

Melalui pendekatan “kontra-intuitif”, Mark Manson pada dasarnya hendak menyentuh domain negativitas dalam gerak acak psikis manusia. Itulah mengapa idenya tak lazim, terutama untuk buku-buku bergenre serupa – dan maka itu laku. Tatkala hampir semua penulis buku-buku dengan tema ini membahas bagaimana kesuksesan dapat diraih, bagaimana menggapai hidup yang gilang-gemilang, bagaimana masalah seharusnya diatasi, Mark Manson justru mengajukan tanya yang dapat membuat semua orang takjub, “masalah apa yang ingin anda miliki?” Dengan pendekatan ini Mark Manson ingin menguji positivitas dalam, ia mengutip Alan Wilson Watts, “hukum kebalikan”. Maka, manakala semua orang terarah pada pencarian kebahagiaan, pada positivitas, keseluruhan ide Mark Manson dalam buku ini hampir sekata: di hadapan penderitaan, semua orang adalah sama. “Persetan dengan positivitas.”

baca juga: Peristiwa yang Terekam, Sejarah yang Tak Pernah Mati

Tapi Amerika bukan Indonesia. Dan sekali saja kita tegas akan hal ini, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat bukan saja tampak seperti igauan seorang mabuk, tapi sekaligus mereformasi mentalitas kita yang sebelumnya telah dikondisikan oleh relasi kuasa yang tak berimbang antara Timur dan Barat sebagai apa yang diistilahkan Edward Said dengan “dreadful secondariness” (kekelasduaan yang mengecutkan). Dengan kata lain, Mark Manson tidak bicara kepada semua orang. Mark Manson bicara kepada dirinya sendiri – sebagai “Barat”.

Sebab Mark Manson lahir dan tumbuh di sebuah negeri yang, seraya mengikuti kata-kata Simone de Beauvoir ketika melukiskan negeri ini dalam America Day by Day, bekerja tak ubah “kotak ajaib besar”. Sebuah negeri di mana hidup adalah kejut, dan kebudayaan bergerak tergopoh-gopoh, fluktuatif, seirama dengan angka-angka di bursa saham. Mark Manson sebenarnya sudah mengatakan hal senada, setidaknya di Amerika, bahwa ramai ditemukan kini orang-orang mengalami “krisis spiritual”.

Tapi analisa Mark Manson tak menerawang jauh. Penjelasannya tak secemerlang ketika ia mengawali buku ini dengan kisah Bukowski. Di satu sisi, ia menginsyafi, kini semua manusia hidup di tengah-tengah zaman di mana “kehidupan yang lebih baik berarti… beli lebih banyak, dapatkan lebih banyak, buat lebih banyak…, jadi lebih dan lebih” – ia tahu ini sia-sia; ia tahu ini omong kosong. Dalam sebuah wawancara dengan Erica Rivera beberapa waktu setelah bukunya terbit, Mark Manson dengan teramat meyakinkan menyatakan bahwa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat berangkat dari (dan berada di sisi) “individualisme”. Mark Manson agaknya sadar bahwa argumen ini berpotensi melemahkan keseluruhan ide dari bukunya. Dengan agak terburu-buru (dan awut-awutan juga sebenarnya), Mark Manson menerangkan, “Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda.”

baca juga: Dua Skenario Masa Depan dan Sains yang Tidak Sendirian

Tak jelas apa yang dimaksudkan Mark Manson dengan “menjadi berbeda”. Terutama sekali jika kita refleksikan di dalam kehidupan Timur, yang mana menjadi berbeda berarti menjadi Barat, kesediaan menjadi yang berlainan di tengah-tengah masyarakat yang memiliki basis kultural dan komunalitas yang mengakar. Atau, menjadi berbeda berarti menjadi inovatif, kesediaan menjadi mesin pencetak uang untuk segala hal dan ihwal – budaya jadi komoditas; relasi interpersonal jadi model hitung-menghitung; politik jadi adegan permusuhan. Ashis Nandy, dalam analisisnya mengenai “representasi ganda” dari sifat yang melekat dalam superioritas Barat, mengatakan bahwa perbedaan adalah “generalisasi konsep tentang Barat [yang pada awalnya bertransformasi] dari sebuah entitas geografis dan temporal ke sebuah kategori psikologis.” Ia hadir sebagai claustrophobic; untuk menegaskan kedaulatannya, Barat menyindir superioritasnya sendiri baik dari dalam maupun dari luar batas kekuasaannya. Dengan nada was-was Nandy menyimpulkan, “Barat saat ini ada di mana-mana, di Barat dan di luar Barat, dalam pelbagai struktur dan dalam seluruh pikiran.”

Ada komentar menarik dari Zakia Pathak tentang argumen Said soal dreadful secondariness, juga kaitannya dengan karya-karya yang menarasikan kehidupan Barat seperti buku Mark Manson. Teks-teks yang memuat “mitos-mitos imperialisme” yang lahir di Barat dan kemudian kita terima dengan suka cita di Timur, kata Pathak, ialah buah dari upaya ideologi Barat dalam “mempercepat teks tersebut hidup di dalam dunia kita.” Jarak Timur dan Barat membentang, batas-batas teritori antar Negara ditegakkan, sementara prinsip transaksional dan liberalisasi di segala sendi-sendi kehidupan turut mencair di dalam “pasar”. Hybrid? Mungkin, ya; kendati tetap tak menghilangkan kesan bahwa semua itu dipaksakan, dikondisikan. Tak heran kalau Spivak, orang yang melahirkan teori tentang realitas hybrid dan menjadi pemikir arus utama dalam diskursus poskolonialisme, menutup “Can the Subaltern Speak?” yang terkenal itu dengan kepastian yang memang mengecutkan orang-orang yang ada di Timur: subaltern tidak dapat berbicara.

Benarkah Spivak? Saya tak tahu pasti jawabnya. Yang saya tahu: di negeri saya, Indonesia, rasionalitas yang diagungkan dunia modern seperti dunia Mark Manson merupakan sesuatu yang memberat di belakang spiritualitas. (Mark Manson dan Barat tahu pasti bahwa ini tetap merupakan keutamaan).

baca juga: Puisi dalam Pandangan Remaja Masa Kini

Dalam hemat saya, larisnya Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat di Indonesia membawa kita pada pengertian bahwa, di tengah-tengah kaburnya batas antara Timur dan Barat, orang-orang tampaknya sedang kehilangan dorongan ke dirinya sendiri. Setiap hari.

  •  

Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis: Mark Manson

Penerbit: Grasindo

Tebal: 256 hlm 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: