Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Marx: Makam dan Esai

Oleh: Bandung M         Diposkan: 28 Feb 2019 Dibaca: 813 kali


“Baru ketika saya duduk di SMP kelas III, saya mulai membaca buku-buku komunis. Buku pertama yang saya baca adalah biografi Karl Marx. Anehnya, buku ini juga sebuah komik. Kemudian saya membaca Manifesto Komunis, sastra dari negera-negera komunis dan segala macam buku. Melalui bacaan-bacaan inilah, saya kemudian melihat bahwa dunia ini tidak hitam-putih, tetapi kelabu,” pengakuan Soe Hok Gie di buku berjudul Zaman Peralihan (1995). Pada saat remaja, ia sudah mengenali Karl Marx. Ia mengerti Karl Marx dan komunisme meski memliki permufakatan berbeda di hasrat memuliakan Indonesia pada masa 1960-an. Soe Hok Gie mengajari kita menjadi pembaca, bukan penghujat atau pembenci sembarangan.

Pada masa berbeda, Soe Hok Gie tak lagi simak berita-berita mutakhir berkaitan Karl Marx di abad XXI. Karl Marx  sudah mati. Di kuburan, ia masih jadi sasaran benci. Nama besar mengubah sejarah dunia. Jutaan orang menjuluki “nabi”. Di hadapan jutaan orang, ia mendapatkan benci tak mati-mati. Makam membuktikan ia telah mati meski ia sulit mati di buku-buku dan percakapan-percakapan.

Di Tribun Jateng, 18 Februari 2019, berita kecil bersanding foto besar. Makam Karl Marx di London (Inggris) dikabarkan mengalami sial. Pada makam, ada tulisan-tulisan berwarna merah. Tatanan kata mengandung kebencian pada penghuni makam. Karl Marx disahkan sebagai sumber salah terbesar di dunia gara-gara petaka kematian dan doktrin kebencian. Pembuat tulisan tentu pembenci telat dan kehilangan kewarasan. Ia anggaplah “bodoh” dan gegabah. Tindakan itu lanjutan dari peristiwa terdahulu: pemukulan palu ke makam-patung Karl Marx. Tindakan-tindakan kaum pengecut. Biadab!

baca juga: Membaca Foucault dari Ke(sangat)jauhan

Pemuatan berita itu di koran berbahasa Indonesia terasa aneh. Pada hari-hari berpolitik sesak isu dan fitnah berkaitan PKI, pembaca diajak mengetahui nasib “leluhur komunisme” di London, Inggris. Warisan buku-buku terus dibaca dengan puluhan bahasa. Gambar-gambar Karl Marx masih dipajang di dinding atau disablon di kaus. Di makam, ia “dihajar” kaum pengecut. Ia tak lagi bisa melawan atau sejenak memberi khotbah bijak pada orang-orang mengalami hidup amburadul di abad XXI.

Pembaca berita boleh melanjutkan memikirkan Karl Marx dengan menekuni esai-esai garapan Mario Vargas Llosa di buku berjudul Matinya Seorang Penulis Besar. Pengarang besar asal Amerika Latin dan peraih Nobel Sastra itu memberi (per)ingatan ke pembaca agar memberi penghormatan pada Karl Marx. Sejak abad XX, Karl Marx itu referensi bagi pembesaran gerakan-gerakan sastra di pelbagai negara. Ia menjadi leluhur sastra-ideologis.

Pada 1966, Indonesia masih berlakon malapetaka. Para pembaca, pengikut, dan penggerak pemikiran-pemikiran Karl Marx sedang dihabisi oleh persekongkolan politik. Pada 1965-1966, Indonesia “terlarang” merah. Di negeri jauh, Llosa malah menulis esai mengharukan berjudul “Menjenguk Karl Marx.” Ia peziarah dan pemungut cerita-cerita berkaitan Karl Marx masa lalu. Peristiwa demi peristiwa dan perasaan-perasaan ditulis dalam esai bergelimang pikat.

baca juga: 100 Tahun Sair Rempah-Rempah Titik Membara

Llosa menelusuri tempat-tempat mengenang dan mengartikan Karl Marx di London. Dean Street pernah tercatat menjadi “jalan paling murahan dan terparah di London” pada akhir abad XIX. Di jalan, Llosa terharu mengingat Karl Marx dan keluarga hidup di situ “terperangkap kemiskinan.” Tahun-tahun buruk ditanggungkan Karl Marx di jalan terkutuk. Ia emoh putus asa atau kalah. Di situ, ia terus saja berpikir dan menulis untuk semburan ide bagi dunia.

Kunjungan Llosa ke Dean Street dipenuhi murka. Ia khatam buku-buku biografi dan pemikiran Karl Marx. Di jalan sama tapi tahun berbeda, Llosa melihat perubahan drastis. Kemustahilan di sejarah diledek. Di jalan pernah membentuk biografi Karl Marx, berubah menjadi tempat penuh kepalsuan, “tempat borjuis lokal dan turis-turis berduit datang untuk menikmati panganan-panganan asing, minum-minum, dan membeli seks.” Karl Marx tak pernah tahu. Ia lama menghuni makam biasa dikunjungi pemuja atau kaum berlagak turis dari pelbagai negeri. Makam itu pula dikunjungi para pembenci-pengecut.

Situasi di masa 1960-an, berbeda telak dengan akhir abad XXI. Llosa mengingat bahwa di rumah di Dean Street, selama enam tahun Karl Marx belajar pelbagai bahasa, mengerjakan esai dan buku, melahap perpustakaan, dan diselingi membuat cerita anak. Llosa berhak murka tapi tak mengalami kesialan makam Karl Marx pada 2019. Di tempat berbeda, makam itu sasaran bagi orang-orang terjangkiti ketololan dan kebiadaban. Llosa menulis kunjungan ke Dean Street, bukan ziarah ke makam Marx. Kita turut mengingat dua tempat mengalami “pemburukan” mengacu ke biografi dan ketenaran Marx di dunia, dari masa ke masa.

baca juga: Dialog Marx dengan Antropologi

Pada 1976, Llosa menulis esai sinis berjudul “Sastra Itu Api.” Kini, kita membaca dengan pengalaman negeri hampir sama pernah “ketularan” gagasan-gagasan Karl Marx tapi lekas ditampar musuh-musuh besar. Di Indonesia, perdebatan sastra masih berlangsung berbarengan nasib para penulis kiri dihabisi dan dipenjarakan. Llosa tak sedang berada di Indonesia. Ia masih mengartikan sastra itu api berlatar situasi keaksaraan dan politik di Amerika Latin.

Keadaan di Amerika Latin mulai berubah. Penulis mendapat pengakuan. Buku-buku sastra masuk ke pasar. Jumlah pembaca meningkat. Konon, kaum borjuis telat sadar bahwa buku memiliki faedah. Keadaan itu belum memastikan nasib penulis di keberuntungan. Llosa menulis: “Ingatkan mereka bahwa sastra itu api, berarti perbedaan pendapat dan pemberontakan, bahwa alas an keberadaan seorang penulis adalah protes, konfrontasi, serta kritik.” Llosa masih dalam keterpengaruhan membaca dan mengagumi Karl Marx untuk menunaikan kerja sastra berisiko.

Tahun demi tahun terus berlalu, Llosa dikenal sebagai pengarang kesohor. Ia belum berpaling. Sekian teks sastra masih dipastikan berurusan dengan protes, konfrontasi, kritik. Penerjemahan buku-buku Llosa ke pelbagai bahasa semakin mengingatkan deret sejarah ideologi dan sastra. Di situ, ada Karl Marx. Tokoh bukan di makam tapi tokoh memberi kecamuk di kesusastraan dunia. Di esai berjudul “Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan”, Llosa (1997) tetap mengenangkan Karl Marx di pengembaraan intelektual dan sastra.

baca juga: Mesin Produksi Manusia Itu Bernama Sekolah

Ia mengenang puluhan tahun lalu menekuni buku-buku di British Museum (London). Pada masa 1990-an, situasi terlalu berubah. Llosa di jelang sesalan. Ia lekas teringat episode Karl Marx mendekam di British Museum. “Di sinilah Karl Marx tua menghabiskan sebagian besar hidupnya, menurut Edmund Wilson, dan mejanya masih disimpan pada 1960-an, terlihat di sisi kanan pintu masuk, yang pada pertengahan 1980-an lenyap dengan bangku-bangku sebarisnya karena diperuntukkan buat komputer.” Kenangan itu tersingkir. Pengimajinasian Karl Marx duduk membaca buku-buku dan membuat catatan tergantikan benda ajaib.

Berita dari London dan kemauan kita membaca esai-esai Llosa diterjemahkan Ronny Agustinus ke bahasa Indonesia seperti “pembenaran” bahwa peziarahan ke Karl Marx di buku dan makam belum jua selesai. Khatam berita dan buku bisa kita genapi dengan mengutip perkara-perkara berkaitan Marx dan biografi penulis di dua novel berjudul Blues Merbabu (2011) dan 65 (2012) gubahan Gitanyali. Di Indonesia, acuan ke kiri dihancurkan oleh rezim Orde Baru. Keturunan dari keluarga dicap PKI menempuhi tahun-tahun represif dan diskriminatif. Di novel sering mengisahkan berahi ketimbang gejolakn ideology, kita masih mungkin mengutip sikap si tokoh: “Dari segi pandangan hidup pun, adakah jejak Marxisme-Leninisme pada diriku? Kalau aku paham ideologi tersebut, aku akan melamar jadi dosen atau setidaknya menjadi manggala P4. Pengetahuan itu boleh jadi dibutuhkan orang.”

Kita terkesima di esai-esai, belum tentu betah dan menganggap dua novel gubahan pengarang Indonesia itu penting dalam kemauan mengenang Marx di halaman-halaman sastra. Llosa terlalu sulit ditandingi pengarang-pengarang Indonesia pernah mengalami babak berlumuran pemikiran Kar Marx meski segera “dibersihkan” oleh kaum mengaku “baru”. Begitu.

  •  

Judul : Matinya Seorang Penulis Besar

Penulis : Mario Vargas Llosa

Penerjemah : Ronny Agustinus

Penerbit : Immortal Publishing dan Octopus

Tebal : 142 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: