Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Masa Depan dan Emosi

Oleh: Afthonul Afif         Diposkan: 07 Sep 2019 Dibaca: 522 kali


Daniel Gilbert, psikolog kenamaan Amerika, penulis buku best-seller dunia, Stumbling on Happiness (2006), mengatakan bahwa prestasi terbesar yang pernah diciptakan otak manusia bukanlah Priramida Agung di Giza, Borobudur, Stasiun Ruang Angkasa Internasional, atau Jembatan Golden Gate, dan masih banyak lainnya, tetapi kemampuannya dalam membayangkan masa depan.

Ya, Prestasi terbesar otak manusia adalah kemampuannya membayangkan benda-benda, kejadian-kejadian yang belum pernah ada di dunia nyata, dan kemampuan inilah yang memungkinkan kita berpikir tentang masa mendatang. Daniel Dennet, filsuf evolusionis nomor wahid, mengatakan bahwa otak manusia adalah sebuah “mesin antisipasi”, dan menciptakan masa depan adalah prestasinya yang paling monumental. Namun perlu diketahui bahwa kemampuan membayangkan masa depan itu lebih dari sekedar kemampuan memprediksi (predicting), tetapi yang lebih penting adalah kemampuan menciptakan kemungkinan-kemungkinan di masa depan (nexting).

Bagi generasi yang hidup di tahun 1930-an, membayangkan manusia mampu mendaratkan kakinya di bulan adalah gagasan yang konyol. Tapi, kita yang sebaliknya akan dianggap betul-betul konyol jika sekarang ini kita masih meragukan kenyataan tersebut, karena berkat kemampuan otak dalam membayangkan masa depan, para ilmuwan avant-garde berhasil mewujudkan gagasan yang nyaris dianggap mimpi itu. Kita juga mungkin masih ingat dengan sang jenius Renaissance, Leonardo da Vinci, yang salah satu sketsanya tentang alat transportasi masa depan menyerupai helikopter telah membuat orang-orang semasanya termangu. Kemampun nexting da Vinci jauh melampaui kemampuan kebanyakan manusia semasanya. Dia seolah-olah mampu memprediksi bahwa kelak akan menyingsing sebuah abad dirgantara. Mimpi da Vinci berujung kenyataan, meskipun dia harus menunggu selama berabad-abad lamanya.

baca juga: Merayakan Peter Carey dan Sejarah Jawa

Kemampuan membayangkan itu khas manusia. Secara neurologis, kemampuan ini ditopang oleh aktivitas saraf di area lobus frontalis, otak bagian depan yang menopang kegiatan kognitif tingkat tinggi: menalar, merencanakan, mengabstraksikan, dan membayangkan. Meskipun tak sedikit hewan memiliki area lobus frontalis di otaknya, tetapi pada kenyataannya hanya lobus frontalis manusialah yang secara evolutif mampu berkembang dengan maksimal, sehingga mampu menopang aktivitas kognitif tingkat tinggi. Fakta ini oleh Gilbert kemudian dijadikan sebagai penguat tesisnya bahwa kemampuan “membayangkan” (nexting) dimiliki oleh semua orang dengan kondisi otak dalam keadaan normal. Bahkan, kemapuan ini sudah menjadi kebutuhan manusia itu sendiri.

Mengapa otak kita begitu keras kepala ketika diminta untuk tidak lagi membayangkan masa depan karena hal yang perlu dipikirkan saat ini begitu banyak?

Jawabannya sederhana, karena berpikir tentang masa depan dapat menimbulkan kepuasan. Secara instingtif, manusia selalu membayangkan hal-hal yang menyenangkan daripada hal-hal yang menyusahkan atau mengalami kegagalan. Berpikir tentang masa depan bisa begitu menyenangkan sampai kadang-kadang kita lebih suka melamunkannya daripada berusaha mewujudkannya. Penelitian yang dilakukan Oettingen dan Mayer, yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology, 83: 1198-1212 (2002),  dengan judul “The Motivating Function of Thinking About the Future: Expectations Versus Fantasies”, telah membuktikan asumsi tersebut. Sejumlah relawan diminta membayangkan diri mereka berkencan dengan seseorang yang pernah bermasalah besar dengan mereka. Mereka yang memiliki fantasi paling rumit, paling dahsyat, tentang pendekatan yang membuat mereka berdebar-debar ternyata paling tidak mungkin melakukannya dalam beberapa bulan berikutnya.

Tentu, fenomena di atas hanyalah satu kemungkinan dari sekian kemungkinan kegiatan nexting. Persoalan utamanya sebenarnya bukan terletak pada apakah proses pembayangan itu kelak akan benar-benar terwujud atau kita sudah merasa cukup puas dengan hanya pembayangkannya, tetapi yang pasti kegiatan tersebut dapat menimbulkan perasaaan bahagia. Otak manusia akan bereaksi secara sama terhadap emosi-emosi positif terjadi, baik yang distimuli oleh kejadian nyata maupun dari kegiatan pembayangan saja. Hal ini mengindikasikan bahwa secara evolutif manusia akan merasa lebih nyaman dalam menghadapi situasi ketidakpastian di masa depan dengan melakukan nexting.

baca juga: Generasi Pasca-Nasionalisme Tradisional

Tapi, kita hendaknya berhati-hati, jika sesuatu yang kita bayangkan itu bersumber dari persoalan yang benar-benar kita kehendaki, dan kita yakini dapat merubah kehidupan kita di masa mendatang. Kebanyakan di antara kita memiliki pengalaman jauh lebih banyak untuk membayangkan kejadian-kejadian yang menyenangkan ketimbang kejadian-kejadian menyedihkan. Kita pun cenderung memberi penilaian berlebihan terhadap kemungkinan bahwa peristiwa menyenangkan itu sungguh terjadi. Bagaimana seandainya peristiwa tersebut tidak terjadi?

Meskipun secara instingtif membayangkan kejadian membahagiakan di masa depan menimbulkan perasaan nyaman. Namun ketika kegiatan ini disertai dengan sekian ekspektasi, ia akan berubah menjadi sebaliknya jika tidak benar-benar terjadi. Mengapa angka bunuh diri di kalangan anak muda Amerika cukup tinggi? Kausalitas sederhana menjelaskan bahwa mereka menyimpan banyak sekali harapan: menikah lebih lama, memiliki anak berbakat, panjang umur, karir cemerlang, gaji besar, dan bertamasya ke Eropa lebih banyak dibanding orang lain. Harapan-harapan yang pada awalnya memicu perasaan bahagia dan optimis itu tiba-tiba berubah menjadi frustasi berkepanjangan—seringkali diikuti dengan bunuh diri—ketika ia tak terwujud dalam kenyataan (Weinstein, “Unrealistic Optimism About Future Life Events”, Journal of Personality and Social Psychology, 39: 806-820 (1980). 

Lantas sikap mental seperti apa yang semestinya kita tempuh agar kita tetap mampu merasakan kebahagiaan atas kegiatan nexting kita sekaligus mampu mengatasi rasa frustasi ketika membayangkan apa yang kita kehendaki tidak terjadi, atau bahkan di masa depan ia memang benar-benar tidak terjadi?

baca juga: Don Quijote dari la Mancha dan Hal-hal yang Belum Selesai

Kita harus memiliki kendali yang sehat atas sesuatu yang kita bayangkan. Artinya, kita mencoba mengetahui sesuatu yang tidak mustahil akan terjadi dan kita dapat berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Kita akan merasakan kepuasan ketika memegang kendali—tidak hanya kita menjadi lebih yakin bahwa kita berkuasa atas masa depan itu—tetapi juga karena kita telah melakukan sesuatu untuk memegang kendali itu. Dengan membayangkan sesuatu, memengaruhinya, membuat sesuatu terjadi, adalah salah satu kebutuhan mendasar kita yang hadir secara alami melalui otak yang kita miliki. Sejak bayi hingga dewasa, kita telah terbiasa berjuang mengatasi ketidakpastian di sekitar kita, mulai dari menangis untuk mengikat perhatian orang-orang sekitar, sampai membuat perencanaan dan prediksi yang matang.

  •  

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: