Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Oleh: Bandung Mawardi         Diposkan: 11 Oct 2018 Dibaca: 1589 kali


Orang komunis adalah manusia jang mempunjai otak dan hati jang terbaik. Oleh karenanja kaum komunis tidak menarik garis pemisah antara kerdja politik dengan kerdja kebudajaan. Kedua-duanja mendjadi bagian dari kehidupan dalam kehangatan revolusioner sekarang maupun dimasa jang akan datang. 
(DN Aidit, 1964)

Pada 1996, Benedict Anderson mengenang PKI pada masa 1950-an dan 1960-an. PKI terlibat perseteruan politik, seni, dan sastra. Ben Anderson menganggap “PKI juga terlalu mencari musuh.” Keputusan mencari musuh itu (kadang) tak perlu. Manikebu (Manifes Kebudajaan) bukan kelompok penting tapi PKI menjadikan sebagai musuh besar. Ben Anderson menjelaskan musuh besar PKI adalah konglomerat dan tentara, “tapi PKI tidak berani langsung menghadapi mereka.” PKI justru repot memusuhi Manikebu, berkonsekuensi muncul kesan “PKI selalu ingin menang sendiri” (Baskara TW, Menuju Demokrasi: Politik Indonesia dalam Perspektif Sejarah, 2001). Kita bisa membandingkan keterangan itu dengan membaca lagi pemikiran-pemikiran Njoto, Aidit, dan Soekarno pada masa 1960-an.

Njoto memberi sambutan dalam penerbitan buku kumpulan cerita berjudul Api ’26 (Jajasan Pembaruan, 1961). Buku memperingati pemberontakan PKI 1926. Lima cerita disajikan oleh Zubir AA, Agam Wispi, S Anantaguna, Sugiarti, dan T Iskandar SA. Njoto menjelaskan: “Orang-orang jang politiko-phobi mungkin akan berkeraskepala berkata, apa ini bukan kesusasteraan perintah? Mana ada kesusasteraan jang bukan karena perintah hati, dan mana ada hati berkata jang bukan karena perintah keadaan, perintah perdjuangan!” Sastra proletar atau sastra revolusioner sedang berhadapan sastra reaksioner. Njoto menugasi diri membesarkan pemikiran-pemikiran sastra revolusioner agar tak diremehkan.

baca juga: Menyimpan dan Mengunci Merah dalam Laci dan Ingatan

Situasi sastra Indonesia pada akhir 1940-an dan awal 1950-an teramat pelik. Para pengarang memiliki anutan ideologi dan estetika berbeda, gampang jadi sengketa. Pengumuman pokok-pokok bersastra di Surat Kepertjajaan Gelanggang dan Mukadimah Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakjat) jadi penentu saling serang-terjang. Njoto menuduh kubu musuh adalah penganut “kesusasteraan nina-bobok” alias “kesusasteraan reaksioner.” Di kubu Lekra, sastra jadi penggugah dan pembangkit. Njoto berseru untuk membela sastra revolusioner melalui penerbitan Api’ 26 dari serangan para kritikus celaka: “Memang kesusasteraan ini kesusasteraan perintah, kesusasteraan politik, kesusasteraan sembojan: perintah, politik dan sembojan Tanah Air, Rakjat dan Revolusi!” Penerbitan dan penjelasan sastra revolusioner dimaksudkan bukti “kemenangan Lekra” berarti “kemenangan suatu azas, kemenangan Rakjat dan Revolusi itu sendiri.”  

Pada 27 Agustus-2 September 1964, CC PKI mengadakan Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta. Ketua CC PKI DN Aidit memberi pidato panjang dan menantang. Aidit berkata: “Kita sekarang berkumpul untuk bertukar fikiran tentang sesuatu jang pelik, tetapi djuga menarik dan penting, tentang sastra dan seni. Mendiskusikan soal ini sekarang adalah amat penting bagi kehidupan bangsa dan bagi peningkatan perdjuangan revolusioner Rakjat kita.” Pembukaan itu mengesankan ambisi membara, menempatkan seni dan sastra sebagai penggerak dan pengisah revolusi. Seni dan sastra di naungan politik. Kabar kemenangan pun lekas diingat lagi: “Ketika Manikebu (Manifes Kebudajaan) muntjul, kaum Komunis seketika itu djuga melawannja dan tidak lama kemudian Manikebu dilarang oleh Presiden Soekarno atasnama pemerintah, dan tuntutan Rakjat supaja Manikebu diritul makin santer dan luas.” Kemenangan sastra revolusioner diperoleh, mendapat restu dari Soekarno. Apakah ekspresi itu ditafsirkan Ben Anderson sebagai “berlebihan” dalam mencari musuh (besar) dan kemenangan agar PKI dianggap penentu revolusi?

Kita menengok sejenak misi Manifes Kebudajaan sebelum dipatahkan oleh PKI. Di majalah Sastra, No 9-10, Tahun III, 1963, Wiratmo Soekito sajikan esai berjudul “Sastra Revolusioner”, berkaitan sejarah dan penjelasan Manifes Kebudajaan: “Dalam waktu belakangan ini banjak dibitjarakan masalah sastra revolusioner sebagai bagian mutlak Revolusi. Tetapi ukuran tentang apakah jang dinamakan sastra revolusioner itu menjadi kabur ketika terlihat suatu ‘alternatif’ antara sastra dan Revolusi, sehingga terdengar suara bahwa djika dipandang perlu maka sastra boleh ditinggalkan.” Perseteruan memang sengit. Pendefinisian dan pemahaman latar politik turut menentukan cara memberi kritik atau pembelaan. Penjelasan Wiratmo Soekito gamblang, representasi penganut humanisme universal. Pemunculan pelbagai pemikiran sastra sulit mengelak dari politik. Sebutan sastra, revolusi, politik, panglima, dan rakyat sering memicu polemik-polemik keras.

baca juga: Puisi-puisi Aditya Ardi N: A Tribute to Dangdut

Tulisan demi tulisan dan gerakan demi gerakan menentukan nasib kubu-buku sastra. Aidit menginginkan kubu sastra revolusioner selalu menang. Penjelasan politis sesuai garis partai: “Sampai tahun 1950 boleh dibilang PKI tidak memberikan pimpinan kepada perkembangan sastra dan seni revolusioner. Baru dalam tahun 1950, djadi sesudah revolusi menurun dan sudah banjak orang jang tadinja ambil bagian dalam revolusi meninggalkan revolusi atau sedang siap-siap untuk meninggalkan revolusi, kaum komunis tampil dengan mendirikan Lekra.” Pendirian Lekra dianggap “kemenangan daripada satu azas, merupakan bukti kesedaran dan kejakinan akan datangnja kemenangan.” Penggunaan ungkapan “kemenangan” mirip capaian memuaskan dalam perang atau permusuhan. Sastra dan seni ada dalam perang!

Pengesahan sastra revolusioner semakin menguat dengan kehadiran dan pidato Soekarno. Aidit ingin sastrawan revolusioner itu “berkepribadian dalam kebudajaan.” Pesan penting Aidit di hadapan para peserta KSSR, 27 Agustus 1964: “Untuk memiliki djiwa massa PKI menekankan pentingnja sastrawan dan seniman revolusioner terus-menerus membadjakan diri dan mendidik diri, sehingga mereka senantiasa berada dalam kehangatan api perdjuangan massa dan selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang teori-teori revolusioner maupun tentang pentjiptaan sastra dan seni.” Di jagat sastra, para pengarang revolusioner tentu dianggap “terbaik”. Aidit berkata: “Sastrawan dan seniman revolusioner adalah pradjurit ideologi dan politik jang bersendjatakan ekspresi sepenuh hati jang artistik.” Aidit atau kaum sastra revolusioner tak ingin bergerak sendirian. Mereka memerlukan restu Soekarno. Aidit pun berseru di ujung pidato: “Hajo bersama Bung Karno kita bina kebudajaan jang berkepribadian nasional!”

Pada 1964-1965, sengketa sastra semakin membara. Penggunaan sebutan “ganjang” atau “pengganjangan” lumrah mengisahkan situasi sastra dan politik Indonesia. Penerbitan majalah dan buku sastra sering “panas”. Diskusi dan konferensi gampang bercap revolusioner atau reaksioner. Tulisan demi tulisan jadi pemicu polemik. Pidato demi pidato jadi sumber meneguhkan atau meruntuhkan ideologi dan estetika. Setahun berlalu dari pidato Aidit, Soekarno memberi pidato berjudul Bangunkan Kebudajaan Rakjat! saat peringatan setahun KSSR di Istana Negara, 26 Agustus 1965. Soekarno berkata: “Dengan saudara-saudara, kita membangun kebudajaan Indonesia baru. Dengan saudara-saudara, kita membangun kebudajaan Rakjat Indonesia, kebudajaan Rakjat Indonesia jang sedjati. Dengan saudara-saudara, kita kikis habis Manikebuisme.” Sekian tahun dengan tulisan dan pidato kita mengerti ada keterhubungan Njoto, Aidit, dan Soekarno dalam mengartikan sastra revolusioner. Mereka berbeda lagak bahasa tapi menjelaskan ada situasi sastra memanas di Indonesia. Tulisan dan pidato tiga tokoh tenar itu telah jadi sejarah.

Kini, kita membaca (lagi) sambil menguji penjelasan Ben Anderson. Barangkali keseriusan Lekra menghajar Manikebu mempengaruhi anggapan “terlalu mencari musuh.” Di lembaran sejarah sastra, kita membaca Lekra dan Manikebu bermusuhan. Kita mungkin agak ragu jika mulai menata lagi rangkaian tulisan, peristiwa, dan pidato pada masa 1950-an dan 1960-an. Sejarah tak cukup ditulis dengan konklusi satu sampai tiga kalimat. Begitu.

  •  

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com 

Penulis buku Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), Sepah Sahaja(2018), dan Omelan: Desa, Kampung, Kota (2018)

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: