Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Masih Manusia Biasa

Oleh: Ahmad S. Riady         Diposkan: 04 Jan 2019 Dibaca: 1173 kali


Menjadi manusia memang bukan perkara yang mudah. Meskipun secara fisik sering dianggap sempurna jika dibanding dengan makhluk lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa yang tidak tertangkap pancaindra justru malah banyak kekurangan. Nafsu, amarah, iri, dengki, prasangka buruk, niat untuk menjahili, niat menghakimi, dan seabrek sisi negatif yang terkandung dalam diri manusia menjadi kelemahan sekaligus kekurangan. Dan lucunya lagi, seringkali manusia luput untuk menginsyafi hal-hal semacam itu.

Oleh sebab itulah, orang-orang terdahulu seperti filosof dan juga ahli sufi beramai-ramai membuat konsep tentang manusia yang utuh. Manusia yang benar-benar menjadi manusia. Bukan hanya sebutan dan fisiknya saja, melainkan unsur fisik dan unsur di luar fisik juga harus manusia, bukan hewan. Bahkan dalam memperlakukan sesama manusia dan alam sekitar juga harus manusiawi. Tapi ya itu tadi, ini bukan perkara yang mudah.

Dalam bukunya Lintang Noer Jati, dkk yang bertajuk Manusia Langit, kita bisa sedikit belajar tentang menjadi manusia yang seutuhnya. Buku ini merekam perjalanan manusia utuh yang diambil dari berbagai tempat peradaban manusia. Dan besar kemungkinan, manusia-manusia yang diangkat dalam buku ini tidak saling bersua dan belajar bersama, namun orientasinya bisa searah, yakni mendakwahkan ajaran-ajaran kebaikan.

baca juga: Panduan Menulis Cerita Cinta

Semar misalnya. Tokoh yang akrab di telinga orang Jawa, khususnya dalam dunia pewayangan ini menjadi topik mukadimah yang diperbincangkan dalam buku tersebut. Meskipun masih menuai perdebatan, apakah Semar ini memang benar-benar ada dalam kehidupan nyata? Atau Semar ini hanya tokoh imajinasi orang-orang Jawa? Itu tidak perlu dipermasalahkan lebih lanjut. Toh, keberadaan Semar yang samar justru mengundang keingintahuan manusia yang datang belakangan untuk terus mengkaji ajaran dan hikmahnya, baik tersirat maupun tersurat.

Semar mengingatkan manusia agar aja dumeh, eling, lan waspadha (p. 19). Sebagai manusia harus pantang untuk bersikap mentang-mentang, ita-itu, merasa dirinya paling kuat. Dan saya rasa, di tiap-tiap ajaran agama, norma dan nilai sosial di masyarakat, tidak mengajarkan untuk berbuat seperti itu. Justru sebaliknya, manusia diajarkan untuk selalu ingat bahwa sedigdaya-digdayanya manusia, sifatnya tetap tidak kekal. Maka dari itu, manusia dianjurkan untuk tetap waspada dan berhati-hati. Orientasi akhirnya supaya bisa selamat.

Selain Semar, Krishna juga diangkat dalam buku tersebut. Tokoh yang menjadi kunci dalam cerita Mahabharata ini mempunyai beribu-ribu wejangan yang tertulis rapi dalam kitab Bhagavad Gita. Krishna mengajarkan manusia untuk menyelaraskan hidupnya. Tidak hanya tersenyum dan bersikap ramah saat berdoa pada Tuhannya, tapi juga ringan untuk mengulurkan bantuan pada sesama, sekaligus merawat alam sekitar yang menyokong keberlangsungan hidup manusia (p. 48).

baca juga: 10 Buku Paling Dicari di Tahun 2018

Untuk menuju kesana, manusia harus menyelaraskan terlebih dahulu internal di dalam dirinya. Sebab jika dirinya sendiri belum beres, maka akan kesulitan untuk menjalin relasi yang baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekiar. Zarathustra memberi metode melalui berfikir, berkata, dan bertindak baik (p. 82) dimanapun dan kapanpun. Ketiganya saling terkait. Sederhananya, jika ada manusia yang memiliki tindakan dan ucapan yang baik, bisa dipastikan pikirannya juga baik. Begitu pun sebaliknya.

Lantas bagaimana jika semua itu sudah dilakukan tapi tetap saja ada yang bermasalah? Ada anomali-anomali, konflik, pertikaian sesama umat manusia? Ada eksploitasi alam dari perusahan yang tidak mempertimbangkan kehidupan jangka panjang? Ada pihak-pihak yang mempolitisasi agama? Apa yang kurang? Manusia harus bagaimana lagi menyikapi problem semacam itu?

Isa a.s hadir memberi solusi melalui cinta kasihnya (p. 104). Esensinya, tiap manusia memiliki cinta dan kasih yang harus didarmakan pada tiap-tiap insan yang menempati jagat raya ini. Tanpa perhitungan dan tanpa mempertanyakan kecenderungan afiliasinya. Bahkan kepada musuh sekalipun, Isa a.s tetap menganjurkan untuk memberinya cinta dan kasih. Jika ada yang menampar pipi kirimu, berilah pipi kananmu.

baca juga: Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Saya rasa, ajaran-ajaran yang dahulu pernah menjadi laku bagi orang-orang terdahulu sekarang telah bergeser menjadi utopia untuk orang-orang yang datang belakangan. Bahwa tiap ajaran yang baik selalu didakwahkan, itu iya. Tapi apakah kebaikan yang didakwahkan telah berhasil merubah tindakan orang yang mendakwahkan dan orang yang mendengarkan dakwah kebaikan? Saya rasa untuk konteks hari ini masih belum berhasil.

Kenapa belum berhasil? Mungkin ajaran-ajaran tersebut dianggap telah usang untuk dipelajari dan didalami lebih lanjut oleh orang yang datang belakangan. Saya sendiri misalnya. Perjumpaan perdana saya dengan Zarathustra berkat adanya buku ini, ‘Manusia Langit’. Jika buku ini gagal terbit, bisa dipastikan saya tidak akan tahu menahu bahwa Zarathustra punya ajaran tentang berfikir, berkata, dan berbuat baik.

Tapi ada yang lebih gawat lagi. Sumber-sumber buku sudah ada, beragam ceramah sudah tersedia, namun fanatisme afiliasi justru mendominasi pribadi manusia. Jika tidak seideologi, tidak perlu dipelajari. Jika tidak menguntungkan kepentingan, tidak perlu didalami. Padahal mencari ilmu pengetahuan, terlebih hikmah dari sebuah ajaran, sifatnya tidak terikat. Siapapun orangnya, dimanapun tempatnya, jika memproduksi ilmu pengetahuan, ya saya rasa boleh untuk menyelam di dalam samudera ilmu pengetahuannya.

baca juga: Oligarki Media yang (Tetap) Menggurita

Momen seperti ini yang mungkin disebut dengan degradasi literasi. Banyak orang yang tidak mempelajari khazanah orang-orang dahulu. Banyak orang yang enggan untuk membuka buku, membaca walau hanya lima menit. Mungkin ada beberapa orang yang masih tekun memetik satu per satu buah hikmah, kemudian menanam kembali ilmu pengetahuan untuk menyuburkan kehidupan manusia. Tapi kuantitasnya tetap kalah jika dibanding orang yang tidak peduli dan gemar merusak kehidupan manusia.

Jangan terlalu berbaik sangka pada buku ini, Manusia Langit. Buku ini tidak akan mengubah manusia yang bermasalah menjadi baik tak pernah bersalah. Buku ini hanya menjadi bacaan pengantar bagi siapa-siapa yang ingin sekedar tahu, syukur-syukur ingin mendalami ajaran dari orang-orang terdahulu. Sebab, uraian yang dimunculkan dari tiap topik hanya membidik satu sisi, kurang mendalam, dan tentunya kurang komprehensif.

Terakhir, saya teringat pada salah satu ucapan guru saya yang mungkin bisa dijadikan indikasi, sebenarnya kita ini sudah menjadi manusia yang baik atau belum. Kata beliau, Orang yang baik bukanlah orang-orang yang kesana kemari menceramahkan kebaikan. Tapi orang baik adalah orang yang berbuat baik kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Demikian.

  •  

Judul: Manusia Langit

Penulis: Lintang Noer Jati, dkk

Penerbit: MJS Press

Tebal: xxiv +136 Halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: