Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Muhammadanisme Demokrasi dan Budaya Birokrasi

Pembagian Kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta lebih berupa serangkaian proses ketimbang suatu peristiwa. Diawali dari pendakuan wilayah, proses ini berkembang menjadi sengketa bersenjata, perundingan-perundingan politis, upaya-upaya penyatuan melalui perkawinan, hingga akhirnya pengukuhan-pengukuhan identitas.

 

Proses rumit ini hanya mungkin berlangsung secara damai karena ada sosok pemimpin yang andal, Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwana. Dengan kecakapannya memelihara kesetimbangan hubungan dengan Surakarta dan Kompeni, Mangkubumi berhasil menjaga masa damai Jawa yang paling panjang dan menjadi raja yang bertakhta paling lama sepanjang sejarah Mataram hingga zamannya.

 

Dengan saksama menggunakan sumber-sumber kesejarahan Belanda maupun Jawa, Marle C. Ricklefs menyajikan secara hidup sosok Mangkubumi dan tantangan-tantangan yang dihadapinya dalam membentuk Yogyakarta, bukan hanya dalam ranah politis-kemiliteran, tapi juga dalam ranah budaya dengan membangun simbol dan mitos untuk memahami realitas baru: Jawa yang terbagi dan Kompeni yang menetap.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
Hartono Hadikusumo 715 hlm l HVS
Penerjemah : Hartono Hadikusumo
Ketebalan : 715 hlm l HVS
Dimensi : 14x20 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Mata Bangsa
Penulis: M.C. Ricklefs
Berat : 900 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by