Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Matinya Socrates

Wishlist
Rating : ( 1 reviews )     Write Review
Stock: Out of Stock
Terjual :
Jumlah:

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:

Info Pengiriman: 
Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: radicalmay
Pembelian : #RadicalMay Book Fair disc up to 50%
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Dihadapkan pada hukuman mati karena tuduhan "telah meracuni pikiran orang-orang muda", Socrates dengan tenang dan tetap bermartabat terus bertanya jawab dengan sahabat-sahabatnya, memburu dan berbagi pengetahuan. Maka terangkatlah bermacam persoalan hakiki dan ultima dalam kehidupan: jiwa, raga, kebenaran, kebajikan, keindahan, dan terutama kematian.

Dialog ini mengungkap pandangan radikal Socrates tentang apakah makna kematian dan apa pula maknanya menempuh jalan filsafat. Dialog ini adalah bacaan wajib bagi mereka yang bergelut dalam dunia filsafat, atau dunia pemikiran secara umum, serta mereka yang mau menegakkan pikiran mereka.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
A. Asnawi vi + 110 hlm | Bookpaper
ISBN : Imam Risdiyanto
Penerjemah : A. Asnawi
Ketebalan : vi + 110 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Narasi
Penulis: Plato
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by