Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Matinya Socrates Matinya Tukang Dongeng

Dikritik memang sakit,   jauh lebih sakit jika,   kritik tidak didengar 

Hanya penulis yang mengenal dunia panggung dan selalu membayangkan teater sebagai peristiwa komunikasl sostal, yang bisa menyiapkan teks sebagai ruang bermain seorang aktor karena tugas utama seorang aktor memang memberi nyawa setiap kata-kata. Bersyukur saya bisa berpartener dengan Agus Noor untuk selalu menghidupkan naskah-naskah monolognya. Selain bisa menguji kemampuan seni peran yang saya tekuni, saya juga bisa menyerap  dan mencicipi kecerdasannya. Juga plastisitasnya dalam bersastraria. __Butet Kartaredjasa, Aktor
 
Lucu, cerdas, penuh sentilan menyegarkan. Membaca buku ini seperti menghidupkan pertunjukkan dalam pikiran. __Rieke Dyah Pitaloka, Artis

Tukang Kritik dalam Matinya Toekang Kritik adalah tukang kritik gadungan, dan yang daripada yang asli. __Ayu Utami, Novelis


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit
Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : Bona Bending
Ketebalan : xii+255 hlm | Bookpaper
Dimensi : 12x18 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Lamalera
Penulis: Agus Noor
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by