Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Mazhab Adiluhung, Kritik Sastra Supersonik, Putri Marino

Oleh: Cep Subhan KM         Diposkan: 22 Jan 2020 Dibaca: 1947 kali


JANUARI 2020, Putri Marino memublikasikan buku puisi berjudul Poempm. Proses publikasi buku disertai pro dan kontra, penulis dan bukunya menjadi topik terkini di Twitter. Ulasan Buku: Poem PM dalam blog Ough, My Books!, dipublikasikan 4 Januari, merekam sebagian keriuhan itu. Tulisan Kevin NG, Tenang Saja, Pasar Bisa Diciptakan di Toko Buku, dipublikasikan 6 Januari di Terminal Mojok, menyinggungnya juga. Kevin menulis:

Baru-baru ini Putri Marino juga menulis sebuah kumpulan puisi. Saya akui ia cukup berani dalam menerbitkan bukunya. Banyak pembaca yang merasa puisinya bukanlah puisi. Ada pula yang menyatakan bahwa setiap orang dapat menulis dan berkarya.

“Ia cukup berani dalam menerbitkan bukunya” menyiratkan Putri Marino belum pantas menerbitkan puisi. Alasannya? Mungkin karena “puisi [Putri Marino] bukanlah puisi”. Salah satu argumen yang dikemukakan pihak yang menganggap karya Putri Marino bukan-puisi adalah konten Poempm yang kadang minimalis:

 

Tapi percayalah … semesta

tidak sebaik itu. (hal. 20)

 

Aku ingin segera pulang

dan memeluk diri sendiri. (hal. 97)

Faktanya, beberapa penyair kita juga menulis puisi dengan baris minimalis. Dalam Wekwekwek: Sajak-sajak Bumilangit (1996), Gus Mus menulis puisi seperti ini:

 

                        NEGERIKU

negeriku telah menguning

 

Dan dalam Tadarus (1993):

 

KEADILAN

Hampir tertangkap mimpi

 

Contoh lebih ke belakang lagi ditulis Sitor Situmorang tahun 1955:

 

MALAM LEBARAN

Bulan

di atas kuburan

 

Minimalisnya 3 puisi itu selama ini tak dipermasalahkan. Dengan demikian, menolak mengakui puisi Putri Marino sebagai puisi dengan alasan barisnya minimalis hanya dimungkinkan dengan dasar semena-mena bahwa 3 contoh puisi Gus Mus dan Sitor di atas adalah puisi karena ditulis oleh figur yang sudah diakui sebagai penyair. Puisi pendek Putri Marino bukan puisi karena ia, entah dengan cara apa dan oleh siapa, belum ditahbiskan menjadi penyair, yang bukan penyair tidak ambil bagian.

baca juga: Estetika; dari dalam Sangkar ke Kamar Gelap

Argumen lain perihal puisi dan bukan-puisi adalah “ini bukan puisi karena baris-barisnya terlalu sederhana, tidak menggunakan majas apa pun, baris-barisnya hanya kalimat yang dipotong-potong”. Argumen ini yang menyiratkan “puisi harus menggunakan diksi rumit dan bermain-main dengan majas” atau “per baris puisi harus merupakan kalimat utuh” sama tanpa dasarnya dengan argumen di atas.

Dari argumen perihal puisi dan bukan-puisi, pihak yang sama mudah terjerumus menilai puisi berdasarkan rumus gampangan “konten puisi harus …”, misal:

(takaran 1) Konten puisi harus edukatif.

(takaran 2) Konten puisi harus revolusioner.  

Praktiknya, ketika konten puisi a adalah “romantisme khas kawula muda” sementara yang dianut takaran 1 maka puisi a dinilai puisi buruk, ketika konten puisi b adalah “kisah percintaan seorang gadis dan pria borjuis” maka berdasarkan takaran 2 puisi b dinilai buruk. Praktik semacam ini adalah kritik sastra adiluhung tanpa teori sastra dengan konklusi yang ajaibnya biasa dipandang absolut.

“Kritik sastra” supersonik semacam itu adalah pseudo-kritik sastra. Ia tak berguna kecuali jika keriuhan ruwet dan gagap yang ditimbulkannya dan mendapatkan tempat dalam lintas lekas dunia medsos tercakup dalam definisi “guna”. Hasil penilaiannya tentu saja tak bisa dijadikan landasan penilaian puisi siapapun termasuk puisi Putri Marino.

*

Tahun 1969, dalam “Tentang Keterpencilan Kesusastraan”, Goenawan Mohamad menulis perihal keterpencilan kesusastraan kita dari masyarakat, bahwa “Kesusastraan Indonesia adalah kesusastraan yang terpencil di sekeliling wilayahnya sendiri”. Keriuhan pro dan kontra Poempm menunjukkan kekuatan argumen itu bahkan setengah abad setelah ia ditulis: jangan-jangan selama ini para penyair adiluhung tidak dekat-dekat amat dengan khalayak, jangan-jangan buku puisi adiluhung selama ini hanya dibeli para mahasiswa sastra, kritikus, kawan dekat, penyair lain, atau orang yang ingin menjadi penyair.

baca juga: Seneca, Kawan Lama yang Hadir Kembali

Sebagian mungkin menganggap kondisi itu normal, tetapi heroisme “saya tak peduli puisi saya tak dibaca orang, yang penting saya terus mencipta” lebih terdengar sebagai egoisme yang menciptakan potensi macetnya 3 hal: relasi penyair dengan penerbit, publikasi puisi, dan relasi penyair dan puisi dengan audiensnya. Salahkah? Tidak jika kita memandang puisi ditulis bukan untuk manusia, melainkan untuk pohon-pohon.

Dalam “Seks, Sastra, Kita” yang ditulis pada tahun yang sama, Goenawan menyinggung bahwa:

 

Di mana seorang pengarang begitu sibuk mengembangkan impiannya tentang kekuatan pengaruh karya-karya sastra di masyarakat, di situlah ia bisa kehilangan kebebasannya. Ia terperangkap oleh perkiraan yang pongah tentang dirinya sendiri: merasa bahwa ia punya peran yang begitu menentukan dalam kehidupan sosial (suatu hal yang amat meragukan, khususnya buat kesusastraan Indonesia), ia dikekang oleh kekhawatiran-kekhawatiran. Ia ngeri untuk salah langkah dengan perannya sendiri yang disangkanya besar itu.

 

“Perkiraan yang pongah” tentang peran besar itu merupakan mimpi ketika di sisi lain mereka lebih suka menjaga jarak atau bahkan tak peduli dengan khalayak. Jarak mereka kian jauh saat frasa “pasar” direduksi maknanya menjadi “kapitalisme” yang dipandang melulu buruk dan berujung konklusi janggal: karya laris adalah kits, karya tak laris adalah karya adiluhung.

Konsekuensinya, ketika buku puisi Putri Marino terbit dan disambut khalayak, predikat langsung disematkan: karya ini kits, puisi ini buruk. Nalar semacam itu menganggap Putri Marino “salah langkah” dalam dua poin. Pertama, bukannya menulis puisi edukatif-religius-revolusioner, baris-baris pepat majas dan diksi canggih yang membuatnya adiluhung, ia menulis puisi dengan baris-baris minimalis, diksi sederhana, dan desain serta tata letak yang mengingatkan kita pada puisi-puisi Rupi Kaur; kedua, buku puisi dia—sebagaimana Milk and Honey Rupi Kaur yang terjemahannya diterbitkan Mei 2018—laris.

baca juga: Perempuan, Cinta dan Belenggunya

Walter Benjamin, dalam “The Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility” (1936), membagi fase resepsi karya seni menjadi dua: fase ketika yang dipertimbangkan adalah nilai kultus dan fase ketika yang dipertimbangkan adalah nilai ekshibisi. Kelahiran karya seni sebagai bagian dari tindak ritual masuk ke fase pertama, perkembangan teknologi yang memperluas cakupan penyebaran karya seni sehingga karya seni tidak lagi eksklusif dinikmati orang-orang tertentu mempengaruhi gerak menuju fase kedua.

Oleh karena itu, mengabaikan aspek resepsi khalayak terhadap Poempm sama dengan menganggap 2020 sebagai zaman produksi kakawin. Pandangan itu gagal memahami publikasi buku puisi Poempm dalam wujud fisik dan desain seperti sekarang sebagai cara wajar mendekatkan buku puisi itu kepada khalayak tahun 2020. Putri Marino mungkin tidak pongah menganggap puisi-puisinya akan memiliki peran agung dalam masyarakat, tetapi ia bertolak dari argumen yang logis: tujuan agung apa pun yang disematkan pada dasar produksi puisi tak akan tercapai jika buku puisi itu tidak “sampai” pada khalayak.

Sah-sah saja menuduh wujud fisik dan desain visual Poempm ditujukan menutupi kekurangan kualitas puisi. Jacob Sumardjo dalam “Novel-novel Populer Indonesia” (1977) menulis bahwa “kulit buku novel populer selalu eksotis, berkesan mewah. Ilustrasinya ‘naturalis’ sehingga mudah dicerna oleh rata-rata pembaca.” Meskipun demikian, jika kita ingat kembali Benjamin yang memandang karya seni sebagai satu bentuk produksi serta seniman sebagai produsen dan bukan kreator maka kita akan melihat relasi manuskrip puisi dengan publikasinya sebagai buku tidak sesederhana konklusi “ketika buku dipublikasikan dengan kulit buku eksotis, berkesan mewah, dan ilustrasinya naturalis maka buku itu kits”.

Setiap puisi sebagai bentuk produksi tergantung pada teknik produksi tertentu. Teknik Sutardji menulis puisi berbeda dengan teknik Putri Marino dan Alfin Rizal. Teknik ini bagian dari kekuatan produktif puisi, sementara kekuatan produktif ini, menurut kritikus sastra Marxis Terry Eagleton, melibatkan seperangkat relasi sosial antara produsen artistik dan audiensnya. Buku puisi mereka hadir dengan wujud berbeda akibat perbedaan mode produksi (penerbit dan percetakan) yang mengubah barang mentah (manuskrip) menjadi produk jadi (buku puisi).

baca juga: Pendidikan Yang Menjajah

Ketika pada tahun 1977 Sumardjo melekatkan ciri spesifik pada wujud fisik dan tampilan visual novel populer maka ciri itu bisa dipandang kelaziman mode produksi novel populer era tersebut demi mengincar audiens. Demikian juga Bentang Belia yang memublikasikan Poempm tahun 2020 dalam wujud buku kecil hardback dengan tata letak penuh ilustrasi karya Fransisca Ayu Hapsari pada kertas warna-warni. Karena teknik puisi Putri Marino (yakni, kekuatan produktifnya) dilakukan dengan mempertimbangkan audiensnya, publikasinya sebagai buku yang disambut khalayak membuktikan dua hal: pertama, relasi sosial antara Putri Marino dengan audiensnya bagus, kedua, mode produksi buku puisinya bagus.        

*

Tahun 2020, adanya pihak kontra publikasi buku Poempm menunjukkan ketidakterimaan sebagian khalayak terhadap Putri Marino yang hadir dengan karya berbeda dari karya-karya pihak yang dianggap—atau menganggap diri—lebih cempiang. Ketika karya pendatang baru ini disambut sebagian khalayak lain, pihak-pihak itu cemas “akan tercabut dari lingkungan”.

Kecemasan itu beralasan. Penulis membutuhkan pembaca, penyair membutuhkan pendengar, sastrawan membutuhkan penggemar, kecuali jika karya mereka dibuat untuk dibacakan sendiri di hadapan pohon-pohon. Ketika “lingkungan” beralih pada karya yang bukan tipikal karya mereka, muncul perasaan cemas akan terasingnya mereka dari “lingkungan” itu. Penolakan mereka atas puisi Putri Marino yang disertai statemen-statemen perihal kualitas puisi tampak sebagai upaya merebut kembali posisi goyah, mengukuhkan ulang kredo bahwa “karya adiluhung kami” inilah “kesusastraan yang menemukan harmoni dengan lingkungan asalnya”.

Pandangan banal ini mengandaikan dunia sastra sebagai dunia statis tak terpengaruh gerak waktu, seolah masa kini dan masa depan dunia sastra adalah masa lalu. Kesusastraan kita kini sudah pergi dari zaman kakawin ke zaman pemuja nilai ekshibisi. Pada masa kini, buku puisi Instagram dengan desain dan tampilan visual menawan lebih berpotensi “menemukan harmoni dengan lingkungan” daripada buku puisi adiluhung yang diproduksi sekadarnya.

baca juga: Jejak Madilog dalam Ilmu Sosial Indonesia

Membahas “kualitas puisi” tidak sia-sia ketika dilakukan tanpa malapraktik, tetapi menganggap itu satu-satunya kerja kritik sastra dan mengabaikan proses produksi karya sastra serta relasinya dengan pasar adalah tindakan gegabah. Dalam keriuhan kini, alih-alih melakukan pembahasan kualitas puisi seenaknya, satu eksperimen proses produksi buku puisi idealnya dicoba: menerbitkan buku puisi adiluhung dengan desain dan tata letak yang konsepnya senada buku puisi Putri Marino.

Ada dua alasan untuk itu. Pertama, membandingkan “kualitas puisi” Putri Marino dengan puisi-puisi penyair adiluhung sambil mengabaikan media yang digunakan keduanya adalah perbandingan timpang. Puisi Putri Marino, berbeda dengan puisi mazhab adiluhung, adalah tipe puisi yang belum diperbincangkan serius dalam kritik sastra kita. Menyasar langsung “kualitas puisi” akan menempatkan puisi-puisi mazhab adiluhung di atas angin semata karena landasan historis mereka yang lebih tua.

Kedua, perbandingan itu mengabaikan kelebihan elemen dasar buku puisi Putri Marino: desain fisik buku dan tampilan visualnya. Poin ini tampak dihindari pembahasannya oleh para pengikut mazhab puisi adiluhung kontra puisi Putri Marino karena membandingkan kualitas poin tersebut jelas membuat buku puisi Putri Marino di atas angin.

Baru setelah eksperimen ini, resepsi khalayak terhadap keduanya bisa dibandingkan dengan adil. Ada tiga kemungkinan hasil perbandingan: Pertama, dalam wujud fisik dan tampilan visual sama puisi-puisi adiluhung lebih disambut khalayak masa kini daripada puisi Putri Marino. Kedua, dalam wujud fisik dan tampilan visual sama puisi-puisi Putri Marino lebih disambut khalayak masa kini daripada puisi adiluhung. Ketiga, dalam wujud fisik dan tampilan visual sama puisi-puisi adiluhung dan puisi Putri Marino sama-sama disambut khalayak masa kini.

Hasil mana pun yang dibuktikan eksperimen ini akan memberikan landasan sikap lebih konstruktif untuk kesusastraan kita daripada tergesa-gesa menolak puisi Putri Marino dan menghakiminya sebagai kits. Hasil pertama misalnya akan membuat publikasi puisi-puisi adiluhung lebih memperhatikan aspek desain. Hasil kedua akan membuat puisi Putri Marino diperlakukan semestinya sebagai bagian baru kesusastraan kita. Hasil ketiga menampakkan khalayak sudah dewasa dan kedua “jenis” puisi itu bisa hidup berdampingan secara damai, keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

baca juga: Kafka, Absurditas dan Alienasi Sisifus

Kecuali terhadap hasil nomor 1, para pengikut mazhab adiluhung sangat mungkin menolak. Mereka bisa menuduh hasil nomor 2 dan 3 dipengaruhi faktor lain, misalnya status Putri Marino sebagai figur terkenal dan aktif di medsos. Kalaupun memang ada pengaruh faktor itu maka tak berarti seorang penulis puisi tak boleh figur terkenal dan tak boleh aktif di medsos. Tahun 2020 bukan zaman penyair bertapa dalam gua terpencil dan menunggu Tuhan memberi wangsit kepada pemilik penerbitan sejarak 666 kilometer yang lantas datang melintasi tujuh lembah rintangan untuk meminta naskah puisinya. Jika interaksi penulis dan pembaca bisa mempermudah buku puisi berjumpa khalayak, popularitas dan keaktifan penulis di medsos harusnya dianggap positif.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada alasan para pengikut mazhab adiluhung menolak eksperimen itu. Satu-satunya alasan mereka menolak adalah jika mereka tidak yakin perbandingan tersebut akan menghasilkan nomor pertama sementara mereka ingin memaksa khalayak hanya menyukai jenis puisi mereka. Sikap semacam itu mengindikasikan egoisme penulis yang menulis bagi dirinya sendiri lalu dengan absurdnya memaksa khalayak menjadi umatnya.

Jika pada akhirnya mereka tetap menolak dan memilih menghakimi puisi Putri Marino menggunakan kritik sastra supersonik, sikap itu layak disesalkan. Kita boleh curiga jangan-jangan aspek pasar dan wujud visual buku puisi Poempm mereka abaikan sambil menunjuk kambing hitam abstrak kapitalisme yang terdengar kian klise dan kukuh memilih laku kritik sastra supersonik karena mereka diam-diam mengakui bahwa keterasingan mereka dari lingkungan bukan lagi merupakan kecemasan, melainkan memang terbukti; jangan-jangan para pengikut mazhab puisi adiluhung-lah, dan bukan Putri Marino, yang sebenarnya terasing dari lingkungan.  

  •  

Judul Buku    : Poempm

Penulis          : Putri Marino

Penerbit        : Bentang Belia

Ketebalan     : viii + 104 hlm.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: