Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Melampaui Imajinasi Abad Ini

Oleh: Tyo Mokoagow         Diposkan: 23 Apr 2019 Dibaca: 2045 kali


“Kemarin adalah sejarah, besok adalah misteri, dan hari ini adalah kado berkah...,” ujar Bil Keane, seorang kartunis Amerika. Lalu saya bayangkan sejarah itu telah dibongkar oleh Sapiens, misteri itu berusaha ditelanjangi lewat Homo Deus,  dan hari ini seorang sejarawan Israel, Yuval Noah Harari, memberi kita kado berjudul: 21 Lessons for 21th Century.

Kado itu dibuka dengan fakta bahwa hari ini dunia telah mengalami kemajuan eksponensial lewat revolusi di bidang infotek dan biotek. Namun apakah revolusi kembar itu berkah bagi kita? Harari justru menampilkan kemajuan tersebut dengan wajah ganda: ia bisa berarti kesempatan sekaligus ancaman baru; ia mungkin bermakna keputusasaan juga harapan.

Harari memulai wejangannya dalam dua tema mendesak, tantangan teknologi dan tantangan politik—yang sebenarnya berkelindan satu sama lain. Bagaimanakah wajah pemerintah di seluruh dunia ketika akhir sejarah Fukuyama tertunda? Ketika ideologi liberal berada di titik krisis mengecewakan? Apa kabar dengan kebebasan tatkala algoritma Big Data senantiasa mengintai kita sebagai mata raksasa? Bagaimana dengan privasi? Bagaimana dengan kemerdekaan manusia untuk menentukan nasibnya sendiri? Apakah kita siap tercerabut dari lapangan pekerjaan? Dan apakah para politisi siap menjawab pertanyaan-pertanyaan itu ketika dunia justru disibukkan dengan kemurnian identitas, tubuh kita disandera oleh layar gawai, dan imigrasi masih terbentur oleh dinding besar intoleransi?

baca juga: Sebuah Rumah Bergelimang Waktu

Bagaimanakah nasib anak-anak kita di tahun 2084 kelak? Dalam sub-bab “Kesetaraan”—salah satu bagian yang disukai Bill Gates—kita dihadapkan dengan disparitas sosial yang semakin lebar baik dari ekonomi maupun biologis, dan hal tersebut disebabkan oleh kemajuan eksponensial di bidang infotek dan biotek. Bila di revolusi industri pertama mesin-mesin digunakkan sebagai pengganti otot manusia, hari ini mesin itu punya kemampuan kognitif yang mengalahkan kita nyaris di semua bidang kehidupan. Di masa depan yang jauh, kita mesti menerima kemungkinan bahwa keterampilan hidup manusia akan tampak tak berguna di hadapan kecerdasan buatan (Artificial Intelligences). Belakangan kita mengenal fenomena itu sebagai disrupsi.

Skenario terburuk adalah hadirnya golongan baru yang disebut orang-orang tak berguna (useless people). Sementara itu aliran data mengalir dan berkah teknologi tetap dinikmati segelintir taipan yang jumlahnya cuma 1 persen dari total populasi manusia. Harari menulis: “Pada abad ke-22, orang kaya mungkin benar-benar lebih berbakat, lebih kreatif dan lebih cerdas daripada penghuni permukiman kumuh... Jika orang kaya menggunakan kemampuan superior mereka untuk memperkaya diri lebih jauh, dan jika dengan lebih banyak uang mereka dapat membeli tubuh dan otak yang ditingkatkan, maka seiring waktu kesenjangan akan semakin lebar. Pada abad ke-22, 1 persen orang terkaya mungkin tak hanya memiliki sebagian besar kekayaan dunia, tetapi juga sebagian besar keindahan, kreativitas dan kesehatan dunia.”

Demikianlah, bila revolusi industri beberapa abad silam melahirkan jumlah massif dari kelas sosial proletar, nantinya dunia akan menyaksikan diferensiasi kelas baru: segelintir elit super (Homo Deus?) vis-á-vis manusia-manusia tak berguna. Lebih lanjut Harari menulis: “Sangat berbahaya menjadi orang yang mubazir. Masa depan akan sangat bergantung pada niat baik dari elit kecil. Mungkin ada niat baik selama beberapa dekade. Tetapi di saat krisis—seperti bencana iklim—sangat menggoda untuk melempar orang-orang mubazir itu ke laut.”

baca juga: Kapitalisme, Krisis Ekologis, dan Pemiskinan Imajinasi

Lalu kita kembali bertanya, “Bagaimanakah nasib anak serta cucu kita di 2084 kelak?”

Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan TED Talks, Harari ditanyai soal nasib useless people tadi. Dengan satir ia menjawab,  “Beri saja mereka video game dan narkoba, agar tidak memberontak.” Jawaban itu disambut dengan gelak tawa audiens. Harari memang punya segudang dagelan yang gelap yang bisa membuat kita cemas dan tertawa dalam sekali waktu.

Saya pun bayangkan di masa depan yang jauh itu, Marxisme—yang konon katanya sudah mati dan gentayangan sebagai hantu—akan bangkit dari kuburnya dan bergabung dengan golongan Luddite (kelompok yang alergi dengan teknologi). Mereka akan berbaris dalam pawai akbar yang riuh oleh seruan kesetaraan kelas. Sebab di zaman ketika 99 persen populasi dunia merasa sebagai makhluk paling tidak berguna sepanjang sejarah,  komunisme—bahkan anarkisme—bakal terdengar jauh lebih masuk akal.

Kunci dari permasalahan ini menurut Harari adalah mengatur kepemilikan aliran data  agar kekuasaan dan kekayaan tak terkonsentrasi di tangan segelintir elit. Dengan demikian, polanya masih sama dengan episode sejarah yang lalu. Dahulu, tanah merupakan aset terpenting dunia, politik lantas menjelma sebagai perjuangan mengendalikan tanah. Bila sumber daya itu justru menumpuk pada segelintir elit, muncullah pertentangan antara bangsawan dan rakyat jelata. Era modern ditandai dengan mesin serta pabrik sebagai sumber daya utama. Ketika sumber daya dimonopoli segelintir elit, maka muncul pertentangan kapitalis dan proletar. Abad ke-21, aliran data bakal menyingkirkan tanah dan mesin sebagai sumber daya utama. Tatkala aliran data ini terfokus pada segelintir elit, manusia akan terbagi menjadi spesies yang berbeda.

baca juga: Alangkah Tololnya

Dengan demikian, di masa depan yang jauh itu kita masih bisa menanam harapan. Dan meskipun selain fenomena disrupsi tadi, dunia global masihlah diancam bio-terorisme serta perang nuklir. Tapi Harari menasihati agar tetap merawat kerendahan hati manusia dengan dosis yang tepat. Selama kita memahfumi bahwa keluarga, suku, bangsa dan agama kita bukanlah poros dunia dan semesta tidak berputar mengelilingi kita yang cuma debu kosmik ini, maka tidak akan ada ruang bagi manusia menyelanggarakn perang sia-sia. Dalam bab “Sekularisme” (yang membuat saya terkenang mendiang Cak Nur), Harari menekankan, kita mesti mengakui “sisi gelap” dari setiap ideologi dan agama. Harari menulis, “Ketika hendak membuat keputusan paling genting dalam hidup, saya pribadi akan lebih percaya pada mereka yang mengakui ketidaktahuan daripada yang mengklaim kesempurnaan.”

Tugas paling penting hari ini adalah merekonstruksi kebenaran dan membangun daya tahan kita. Dua bab terakhir menjelaskan tentang lobang besar ketidaktahuan manusia, bahwa rasa keadilan kita barangkali sudah kuno, tentang bagaimana cara spesies pasca-kebenaran memverifikasi kesahihan informasi, dan betapa fiksi ilmiah bertanggung jawab atas rasa takut kita. Karenanya kita perlu mengubah metode pendidikan dengan pedagogi baru, bahwa umat manusia harus memaknai hidup dengan cara berbeda, dan betapa penting meditasi di zaman yang sulit dihindari ini.

Pada akhirnya membaca buku ini adalah proses yang menyenangkan. Ia tak hanya memuaskan kelaparan intelektual, lebih dari itu merangsang imajinasi sampai melampaui tapal batas yang tak pernah saya jangkau sebelumnya. Buku ini juga dihiasi dengan anekdot menarik, ilustrasi yang menghibur, serta lelucon gelap yang bisa bikin kita tertawa sambil gelisah. Saya berterimakasih pada “21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21”, saya pun punya gambaran tentang masa depan yang jauh itu, yang kelak ditinggali anak dan cucu kita.

  •  

Judul : 21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21

Penulis : Yuval Noah Harari

Penerjemah : Haz Algebra

Penerbit :Global Indo Kreatif

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: