Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Melihat Buku Bekerja

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 17 Jan 2019 Dibaca: 1167 kali


Kita pasti mafhum bahwa kertas memiliki peranan penting saat diciptakan, bahwa buku –memiliki – (ke)penting(an) untuk diterbitkan bahkan dicetak berulang, bahwa setiap pembaca akan menemukan kutub-kutub tersendiri tanpa perlu diarahkan.

Pada halaman pertama di paragraf ke dua, Carlos María Domínguez menuliskan, “Buku mengubah takdir hidup orang-orang.” Sedangkan Ananda Badudu berpesan dalam buku Questioning Everything!; Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-baik Saja, “Ada dua cara ampuh untuk memahami isi kepala seseorang. Pertama, sambangi tempat ia tinggal dan lihat koleksi bukunya. kedua, luangkan waktu yang amat panjang dan ngobrol-lah dengan dia.”

Begitu luar biasanya benda bernama buku, dia memiliki proses panjang dalam penerbitannya. Belum lagi setelah terbit, bisa saja akan berakhir menjadi abu apabila buku dianggap menggangu ketertiban umum sebuah rezim.

baca juga: Dimensi Puisi dan Tahun Politik

Membaca La casa de papel yang telah diterjemahkan menjadi Rumah Kertas oleh Ronny Agustinus, Carlos María Domínguez menceritakan bagaimana buku mampu mengubah takdir seseorang hingga orang-orang yang mampu mengubah takdir sebuah buku. Mungkin pelaku-pelaku dunia perbukuan seperti penulis, penerbit, hingga pedagang buku akan sangat merasakan bagaimana sebuah buku akan mengubah takdir perjalanan panjang manusia di dunia.

Buku Mengubah Takdir Manusia

Dalam hemat saya, pembaca buku adalah mereka yang mampu mengubah takdir buku atau juga diubah takdirnya oleh buku. Pembaca buku adalah mereka yang diberkati privilese berupa uang dan waktu yang cukup atau bahkan sedikit berlebih. Dalam Rumah Kertas, Domínguez membuka jalan cerita dengan sebuah kejanggalan atau lebih tepat dikatakan sebagai kecerobohan. Bluma Lennon tewas ditabrak mobil saat membaca Poems karya Emily Dickinson yang dilanjutkan dengan tebaran cerita yang mengukuhkan bahwa buku mampu mengubah takdir manusia, bisa berupa kematian, kecelakaan, atau kebahagiaan.

Ben Anderson mengejawantahkan “...buku merupakan suatu objek yang berjatidiri, selesai-dalam-diri-nya-sendiri, direproduksi secara persis dalam sekala besar...setiap buku memiliki kecukupannya sendiri yang tergantikan.”, paparan ini mengejutkan saya saat menyadari pada kenyataannya peran besar buku tak dapat kita tiadakan. Keterwakilan kita saat membaca adalah kenyataan bahwa kebutuhan individu manusia, dunia yang kita jalani adalah tentang mendengar dan didengar. Sebuah paradoks bahwa manusia telah kehilangan ke-diri-annya, seperti yang disampaikan Carl G. Jung bahwa manusia menjadikan dirinya semacam quantité négligeable yang telah kehilangan pembandingan yang berarti bagi dirinya.

baca juga: Gerak Industri “Penerbit Jogja” pada Dua Zaman

Di masa hidup kita sekarang, bukan kita yang menginginkan adanya keterwakilan, hanyalah persoalan waktu tentang bagaimana kita dapat memastikan apa yang ada di dalam akal budi kita sebagai manusia. Sama seperti murid dan guru, sejatinya keduanya adalah sama sebagai individu, yang membedakan adalah mereka yang disebut sebagai guru sudah terlebih dahulu mempelajari apa yang kemudian dipelajari oleh seorang murid. Maka meniadakan peran penting itu—guru—adalah sebuah hal yang biasa karena memang pengetahuan membutuhkan sebuah medium untuk merambat dan menjalar ke dalam otak kita untuk kemudian menjadi sebuah sistem berpikir yang runut dan taktis.

Sama halnya sebuah buku, ia hanyalah sebuah medium yang membantu pengetahuan merambat dan menjalar menyentuh otak kita.Bukan buku yang mengubah takdir manusia, tapi manusia yang mengubah takdirnya sendiri atas kemauannya, sama seperti Bluma yang memilih mati ditabrak mobil saat membaca Emily Dickinson (p.47).

Manusia Mengubah Takdir Buku

Di halaman ke-57, pada paragraf pertama di kalimat yang terakhir Domínguez menuliskan, “Orang-orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku” setelah perjalan panjang kita mencari asal muasal kedatangan La línea de sombra bersampulkan kotoran berkerak yang pinggiran paginanya berlapis partikel semen. Buku yang datang kepada Bluma membuat gusar pikiran tokoh ‘Aku’ akan pemilik buku itu yang ternyata adalah Carlos Braurer. Bukan buku itu yang akhirnya mempengaruhi pikirannya, tapi rasa penasarannya akan sosok pengirim buku itu.

baca juga: Menggumam Seperti Goenawan Mohamad

Buku adalah salah satu barang yang tidak pernah berhenti membuat resah, entah dicuri, diplagiasi, atau bahkan menebarkan ideologi tertentu. Pantas saja bahwa selalu ada rezim yang anti terhadap buku. Tentu penguasa rezim itu bukan seorang yang bodoh, tapi dengan pengetahuan yang ia miliki, ia ingin memonopoli pengetahuan salah satunya melalui pelarangan dan penghancuran buku.

Di Indonesia, pelarangan dan penghancuran buku hampir tak pernah absen. Di era kepemimpinan Jokowi, Jokowi Undercover menjerumuskan penulisnya pada permasalahan. Era Sukarno juga demikian, ia melibas Hoakiau yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, yang setelahnya ia mengesahkan Undang-Undang No 4/PNPS Tahun 1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Soeharto dengan Orde Barunya pun tak terlewat, ia memberangus banyak media maupun buku yang kebanyakan dianggap ‘kiri’.

Melihat aparat negara bekerja merazia buku akhir-akhir ini membawa saya pada ingatan tentang Orde Baru dari literartur yang saya baca. Mereka merazia buku yang mengandung kiri, merah, Aidit, 1965, dan G30S. Apa yang sedang mereka amankan dari geliatnya? Mengamankan kehormatan hantu tercinta, mungkin. Maaf sekadar mengingatkan, UU No 4/PNPS Tahun 1963 sudah dihapus pada 2010 karena bertentangan dengan UUD 1945.

baca juga: Menengok Papua Lewat Buku

Buku tak pernah berhenti membikin mereka cemas, ketakutan akan ketidaktahuan tampak nyata pada mereka. Mari setelah ini kita membaca kembali dan melihat buku bekerja.

  •  

Judul: Rumah Kertas

Penulis: Carlos María Domínguez

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: vi+76 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: