Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Melihat (Imajinasi) Truk

Oleh: Bandung Mawardi         Diposkan: 17 Sep 2018 Dibaca: 1074 kali


Di Jogjakarta, 8-9 September 2018, puluhan truk cakep memberi pesan dan penghiburan ke publik. Truk  datang dari pelbagai kota mengesahkan Jogjakarta Truck Festival 2018. Truk bernampilan apik dan memuaku. Pelbagai gambar dan warna di truk membuat orang-orang terpesona. Mereka lekas berpotret bersama truk. Kebiasaan melihat truk di jalan berganti kagum. Truk-truk di festival sengaja memamerkan gambar-gambar cakep sambil menebar pesan. Sekian gambar di truk: Iron Man, Hulk, Captain Amerika, Candi Borobudur, Pulau Karimunjawa, Tugu Khatulistiwa, dan lain-lain. Di tiap truk, logo utama pun disajikan: “Pesona Indonesia” Truk itu bertugas jadi pengiklan pariwisata Indonesia (Kompas, 10 September 2018). Pamrih besar melampaui pengenalan publik pada lakon-lakon truk, dari masa ke masa. Festival itu menggoda kita menata lagi ingatan pada truk, sejak puluhan tahun lalu.

Pada masa 1950-an, truk-truk mengisahkan gairah orang desa melakukan urbanisasi. Mereka meninggalkan desa dengan naik truk, bergerak ke kota demi pertarungan nasib. Di kota, truk-truk menjelaskan laju perdagangan dan pembangunan. Truk-truk bercerita nasib kaum miskin sebagai tenaga pembangun kota. Lakon truk juga bergerak ke desa-desa. Pembuatan jalan-jalan mengikutkan kegagahan truk sebagai pengangkut hasil pertanian. Truk juga masuk desa membawa benda-benda menakjubkan agar dikonsumsi warga. Truk mengangkut ide-ide baru dan imajinasi kemodernan.

baca juga: Kuasa Aksara Merajarela

Pada masa 1960-an, truk memiliki cerita-cerita heroik dan ironis. Di mata kaum demonstran, truk adalah pengangkut ribuan mahasiswa dalam aksi-aksi demonstrasi. Taufiq Ismail (1966) memberi pujian melalui “Oda Bagi Seorang Sopir Truk”. Puisi kesaksian: Dalam tidurnja ia bermimpi/ Djalanan telah rata. Ditempuhnja/ Dengan sebuah truk baru/ Dengan klakson jang bisa berlagu/ Dan di sepandjang djalanan/ Beribu anak-anak demonstran/ Tersenjum padanja, mengelu-elukan/ “Hiduplah bapak sopir jang tua/ Jang dulu berdjuang bersama kami/ Selama demonstrasi!” Puisi itu pernah digubah meski kita jarang mengingat.

Puisi tak berlanjut pada kesaksian: truk-truk sebagai pembawa ribuan orang untuk mati atau tak pernah kembali ke rumah. Memori malapetaka 1965 memuat cerita truk. Orang-orang diangkut dengan truk, berdesakan dan berpetaka. Mereka dituduh “merah”. Di truk, nasib tak bisa dijelaskan atau diramalkan. Di perkampung atau desa, suara truk sering menimbulkan ketakutan bagi para ibu dan anak. Suara mengabarkan apes, kematian, airmata, darah, dan derita. Semula, truk adalah alat transportasi. Episode politik berdarah membuat truk memberi trauma. Truk tak cuma mengangkut barang-barang. Truk malah membawa orang-orang ke penjara, tempat tak bertuan, sungai, atau kuburan. 

Pemaknaan truk berlanjut ke masa Orde Baru. Truk-truk sering masuk desa atas perintah birokrat dan kaum politik. Truk mengangkut ribuan orang bergerak ke lapangan, gedung, dan alun-alun. Selama perjalanan, orang-orang di truk mengenakan kaos, baju, dan mengibarkan bendera. Mereka sedang bermain drama politik, menuruti kepentingan penguasa dan organisasi politik berlogo pohon beringin. Mereka berdesakan dalam bak truk. Turun dari truk, mereka menikmati pidato, berteriak, dan bertepuk tangan.

Pada masa Orde Baru, truk menjadi alat transportasi untuk kritik alias melawan. Poster berisi tulisan-tulisan menohok ditempel di bak truk. Kalimat-kalimat berani: “Suharto itu adalah kepala kominis (dalang). Kematian Bapak Sarwedi, demi kepentingan bangsa asing dan membangun negara di dalam negara (pagar makan tanaman).” Suharto itu Soeharto: presiden. Sarwedi itu Sarwo Edhi: komandan RPKAD bertugas memberantas komunis. Siapa penulis dan penempel poster di bak truk? Ia bernama Kasir Nur Simbolon, sopir truk pengangkut semen. Kasir diajukan ke pengadilan dengan dakwaan menghina presiden (Tempo, 1 Agustus 1992). Kasus itu terjadi di Indonesia saat Soeharto sedang berkuasa dan menjadikan komunis adalah musuh besar. Kemunculan poster di bak truk bermula dari obrolan kaum awam, tak bermaksud menghina atau mengganggu stabilitas politik. Iseng itu mengantar Kasir ke pengadilan. Truk sebagai alat transportasi dan sumber mencari nafkah malah menimbulkan petaka. 

baca juga: Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

Episode-episode sejarah truk turut bercerita Indonesia. Truk membawa ingatan-ingatan tentang modernisasi, pembangunan, demonstrasi, kematian, dan kekuasaan. Truk-truk masih terus melintas di jalan-jalan meski jadi sasaran tuduhan kerusakan jalan dan kemacetan. Truk belum mau berhenti menceritakan kita dan Indonesia. Truk diceritakan para sastrawan melalui cerpen, puisi, dan novel dengan pelbagai misi dokumentasi zaman, kritik sosial, atau renungan modernisasi. Truk pun bisa berhadapan kekuasaan saat dijadikan sebagai simbol nasib sopir.    

Di Cina, truk juga pernah menjadi simbol sejarah kekuasaan dan ambisi menggapai kesuksesan hidup. Mo Yan melalui novel autobiografi berjudul Di Bawah Bendera Merah (2013) mengisahkan truk. Mo Yan ingat truk bernama Gaz 51. Truk itu ketakjuban! Mo Yan bercerita: “Kami diberi tahu bahwa Gaz 51 buatan Soviet, sisa dari perang 1950-an melawan agresi Amerika Serikat dan membantu Korea. Lubang peluru dari pesawat Amerika Serikat di bak menjadi bukti bahwa truk itu bermandikan kemenangan. Ketika api perang berkobar, truk itu telah menerjang ke depan dengan heroik di tengah hujan peluru dan, sekarang pada masa damai, kendaraan itu mengepulkan debu saat merobek jalan.” Bagi Mo Yan dan bocah-bocah di desa, truk itu obsesi kecepatan dan keagungan. Mereka selalu takjub saat melihat truk melintasi desa dan kota. Mereka menonton dengan mata terbelalak sambil berangan menjadi sopir, tentara, atau pengusaha.

Truk terus memberi cerita. Kita pantas membandingkan lakon truk di Indonesia dan Cina. Truk sering bersinggungan dengan kekuasaan dan arus modernisasi. Truk melintasi jalan sejarah, bergerak terus ke masa depan. Truk dalam puisi Taufiq Ismail memang jarang teringat oleh pembaca. Truk dalam novel Mo Yan adalah simbol memukau mengacu sejarah Cina. Kita memang jarang melakukan selebrasi imajinasi truk di jagat sastra Indonesia. Sejak awal abad XX, penceritaan cenderung ke kapal, kereta api, dan mobil. Imajinasi truk ada di pinggiran meski masih pantas diceritakan beraroma puitis, mesum, dan politis. Begitu.

  •  

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com 

Penulis buku Ralat: Sastra Bergelimang Makna (2017), Pemetik Cerita (2017), Sepah Sahaja(2018), dan Omelan: Desa, Kampung, Kota (2018)

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: