Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memaknai Kesendirian Ala Thoreau

Oleh: Fadli S. Santosa         Diposkan: 23 Mar 2019 Dibaca: 2364 kali


Thoreau adalah seorang filsuf yang seringkali dilupakan dan (bahkan) tidak sempat kita telisik siapa dia dan apa karyanya. Ketiadaan referensi juga kemauan untuk mencari tahu ialah yang menunda perkenalan dengan Thoreau.

Bagi kalian yang menyukai kesendirian, pengasingan dan momen-momen di mana kalian dapat merefleksikan hidup, sembari tidur di kasur atau berlibur sendiri tanpa peduli rencana liburan dan lebih memilih menyendiri sembari merenungi bab-bab skripsi, atau mengapa hingga sampai saat ini kalian masih enggan untuk memiliki kekasih. Mungkin, Thoreau adalah salah satu manusia yang perlu kalian pahami kisah dan pemikirannya.

Thoreau mungkin lebih dikenal saat ia menjadi inspirasi utama dalam film Into the Wild karya Sean Penn yang dibintangi oleh Emile Hirsch yang memerankan seorang lelaki muda bernama Christopher McCandless, yang mana ia seringkali mengutip perkataan Thoreau dalam buku fenomenalnya yang berjudul Walden.

baca juga: Nietzsche dan Jejak Tradisi Klasik

Walden merupakan salah satu karya terbaik milik Henry David Thoreau yang menceritakan mengenai cerita pengasingan dia selama dua tahun, dua bulan dan dua hari di sebuah pondok kecil yang ia bangun sendiri. Singkat cerita, dalam buku itu seorang Thoreau berusaha untuk menceritakan kehidupannya dalam pengasingannya di tepi danau Walden di sebuah pondok mungil. Dalam bab “Where I Lived and What I Lived for”, ia menjelaskan mengenai mengapa ia melakukan pengasingan tersebut,ia berkata:

I went to the woods because I wished to live deliberately, to front only the essential facts of life, and see if I could not learn what it had to teach, and not, when I came to die, discover that I had not lived. I did not wish to live what was not life, living is so dear; nor did I wish to practice resignation, unless it was quite necessary. I wanted to live deep and suck out all the marrow of life, to live so sturdily and Spartan-like as to put to rout all that was not life, to cut a broad swath and shave close, to drive life into a corner, and reduce it to its lowest terms, and, if it proved to be mean, why then to get the whole and genuine meanness of it, and publish its meanness to the world; or if it were sublime, to know it by experience, and be able to give a true account of it in my next excursion”. (Thoreau, H.D. (1854). Walden. hal 93)

Thoreau sangat memahami bahwasanya dengan menjadi pribadi yang mandiri dan reflektif serta dapat melepaskan diri dari segala ketertarikan dunia, maka ia dapat mengenal dirinya lebih dalam serta dapat menemukan titik spiritualnya sebagai manusia yang menjadi bagian dari alam. Filsafat Thoreau yang bernama Naturalis itu, juga berasal dari proses pengasingan dirinya di alam bebas, serta inspirasi yang ia dapatkan dari Emerson yang menulis esai serta buku, salah satunya berjudul Self Reliance yang menjadi salah satu instrumen yang menarik untuk lebih memahami diri kita.

Walden mungkin merupakan karya terbaik yang dapat menginspirasi kalian untuk menemukan jati diri kalian dalam kehidupan ini. Thoreau telah menjalani hidup yang mungkin bagi sebagian orang adalah kehidupan yang hanya dapat dinikmati ketika memiliki uang dan memiliki akses yang hanya dapat dinikmati oleh orang berjiwa petualang. Sejatinya, setiap manusia merupakan seorang petualang, bedanya kita terjebak dalam sebuah dogma bernama rutinitas.

baca juga: Laut Bercerita dan Unsur Jurnalisme dalam Fiksi

Rutinitas adalah dua mata keping koin kehidupan. Jikalau kalian berada di sebuah rutinitas yang terlalu rumit, maka kalian menjebak diri kalian sendiri di dalamnya. Di sisi lain runitnitas membuat kita dapat memahami siapa kita dan apa saja yang telah kita peroleh di dunia. Dengan melakukan pengasingan diri ke sebuah tempat yang sunyi dan hijau selama beberapa waktu, kita akan dipaksa untuk menerima dan memahami siapa kita dan bagaimana kita hidup.

Sebagai seorang Naturalis, ia mengajak kita untuk memahami bahwasanya manusia tidaklah dapat dipisahkan dengan alam dan bumi. Oleh karena itu, manusia seharusnya dapat memahami bumi dan alam disekitar kita ia berkata bahwa:

 “ We need to witness our own limits transgressed,  and some life pasturing freely where we never wander.” — “I suppose that what in other men is religion is in me love of nature.” (Thoreau, H.D. (1854). Walden. hal 320)

Sebagai manusia yang seringkali oleh beberapa pemikir seperti Machiavelli dan Aristoteles yang mengutamakan pemikiran Realis, manusia sering menganggap ego adalah indikator utama dalam kehidupan sedangkan pemikiran Thoreau menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak terlalu utama. Thoreau memang memiliki “musuh” dalam taraf filosofis yang mana ia sering dicap sebagai pemimpi atau “hippies” atau “pemabuk” dan lain sebagainya. Namun, pemikirannya tidaklah dapat dikesampingkan karena selain mengajarkan pengenalan diri sendiri, ia juga mengajak kita untuk aware dengan rumah kita bernama bumi ini.

baca juga: Ziarah Maaf

Dalam taraf yang lebih spiritual, ia mengajak kita untuk sama-sama berpikir dan lebih reflektif dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak mementingkan identitas agama, ras atau dari budaya apa kamu berasal. Sarannya cukup sederhana, kenali diri kamu, kenali rumahmu (bumi), maka (mungkin) kamu dapat memahami siapa dirimu.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: