Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membaca Anarkisme, Memahami Kebebasan Sepenuhnya

Oleh: A Moriz         Diposkan: 05 Feb 2019 Dibaca: 1384 kali


1/

Introduksi

Bukan buku berisi tata cara membuat molotov cocktail. Bukan pula dokumentasi tentang mimpi-mimpi tumbang di masa lampau. Buku berjudul Mempersenjatai Imajinasi memuat pelbagai hal perihal anarkisme di tengah perubahan dunia yang makin jauh beranjak. Tulisan yang sempat dimuat oleh jurnal-jurnal anarkisme di Indonesia seperti Odyssey, Nihilis, New-Babylon, Amorfati, dan Katalis pada dekade awal 2000-an ini kiranya sebagai gambaran sederhana mengenai orang-orang yang memimpikan kebebasan sepenuhnya.

Dunia Tontonan, begitu ia menyebutnya. Sebagai kata pengganti dari spectacle—tontonan—yang digambarkan Guy Debord dalam tulisan The Society of Spectacle. Dunia Tontonan menjadi kata pengganti perujuk pernyataan hubungan yang dimediasikan oleh imaji. Melalui media massa dan iklan, dunia semacam ini bisa dibentuk. Sebuah lingkungan sosial hasil cekokan pabrik yang pada akhirnya membentuk nilai guna dan fungsi. Menggunakan sudut pandang tersebut penulis dalam buku ini menganalisa kondisi masyarakat era modern.

Dunia Tontonan memegang kencang kontrol sosial dan mudah ditumbangkan, tapi mudah pula disembuhkan. Contoh yang diambil adalah novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang semula dilarang keras, kini dikemas menarik agar dapat dikonsumsi; penjarahan yang merupakan penolakan terhadap komodifikasi dikaburkan dengan kemasan media yang mencampurkannya dengan isu rasisme. Kontrol kuat dan tak kasat membuatnya mudah menuntaskan penentangan cukup dengan sikap membumi atau mengambil tradisi dengan mendorong publik dalam pasar “partisipasi”.

Begitulah.

baca juga: Di Tempat Terbaik Antropolog Bekerja

 

2/

A is for Anarchy

Sebuah kata pengantar membawa saya pada pemahaman bahwa “Anarkis bukan sekadar label bagi seseorang, tapi semangat yang tak dapat dikekang”. Barangkali adalah usaha-usaha mewujudkan mimpi “kanak-kanak”—yang banyak ditinggalkan—dalam sebuah gerakan nyata. Reyhard Rumbayan, penulis buku ini, mengantarkan pemahaman ini dengan apik melalui caranya memandang dunia seperti pada nomor sebelum ini. Buku ini tidak akan memberikan jawaban tentang bagaimana manusia harus menyikapi kenyataan.

Dibuka dengan mempertanyakan “Benarkah Veneigem mengatakan bahwa kekuasaan harus dihancurkan secara total dengan cara-cara aksi terpisah?” (hal. 7). Pasar akan memberikan segalanya yang bukan pemuasan. Ia memunculkan hasrat materilaistis yang berlanjut tanpa ujung. Sehingga, lelaku paling efektif untuk mulai membangun dunia impian—anarkis—adalah dengan bergerak membangunnya. Mengembangkan teori revolusioner adalah dengan mempraktikkannya, dengan sentuhan dari partisipasi publik, keberadaan Dunia Tontonan akan runtuh. Termasuk apa yang ada di dalamnya seperti pasar dan hirarki. Barangkali itulah tujuan dari pernyataan “The revolution of everyday life”.

Revolusi yang berjalan setiap hari adalah sebuah gairah hidup tak terbendung. Bergairah, berhasrat, dan penuh cinta adalah revolusi yang sesusungguhnya. Saya membayangkan, tidak mungkin sebuah insureksi sekali pukul menumbangkan seluruh tatanan dunia. Tetapi, ia adalah kehendak bebas; ia adalah kebebasan total, dalam buku ini diibaratkan seperti seorang dadais di masa lampau, menjalani hidup dengan sepenuh mungkin dan sebergairah mungkin.

baca juga: Produk Gagal Patriarki Itu Pelacur Buas

Masuk pada halaman 35, kita akan dibawa pada sebuah perjalanan tentang moralitas. Ya, tentu, esai pertama berjudul “Moralitas Kebebasan”. Sebuah moralitas yang bermain dalam anekdot “Nietzsche telah membunuh tuhan”. Baiklah, Jose Saramago melalui novel Kain juga berusah membunuh tuhan beserta hukum-hukumnya yang absurd. Banyak pembunuh tuhan yang lebih relijus dari orang beragama. Sungguh, tetapi, di tulisan ini saya tidak akan menuliskan tuhan dengan huruf kapital.

Berbicara tentang Nietzsche kita tidak bisa jauh dengan “nihilisme”. Nihilisme berarti sesuatu yang ideal itu eksis, tapi sangat tidak mungkin bagi seseorang untuk hidup dengan standar idealnya tersebut (hal. 40). Kematian tuhan adalah penampilan pertanyaan nihilistik manusia modern. Bagaimana tidak, setelah tuhan mati, tidak ada lagi yang suci, dan seorang nihilis berada dalam situasi nihil atau kosong nan gelap pun dalam.

Barangkali tulisan ini adalah pijakan awal bagi seorang individualis. Sebab, laki-laki berkumis tebal tersebut menegaskan bahwa bukannya tidak ada kebenaran sama sekali. Tetapi, setiap kebenaran memiliki ruangnya tersendiri. Maksudnya, dalam sudut pandang perspektif, kebenaran membawa tipenya tersendiri yang sangat mungkin berbeda pada setiap manusia.

baca juga: Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Konklusi untuk melihat Nietzsche bukan seorang nihilis karena ia percaya, perspektif katak hanya cocok untuk katak, bukan semua orang. Sedangkan nihilisme akan menolak perspektif katak, bahkan dari katak itu sendiri. Dalam beberapa esai perihal nihilisme, mungkin pembaca yang tidak terbiasa dengan kajian semacam ini—seperti saya—akan sedikit kebingungan dalam mencernanya. Namun, tulisan-tulisan dalam buku ini adalah simpulan yang menarik untuk dipahami dan dikaji.

 

3/

Orwell

Beberapa hari lalu, tanggal 21 Januari, tepat 69 tahun kematian penulis, jurnalis sekaligus pejuang dalam perang sipil di Spanyol. Ia adalah George Orwell, seorang anti-stalinis yang sempat tergabung dalam milisi anti-fasis dan menelurkan memoar masyhur berjudul Homage to Catalonia. Dalam buku bersampul cokelat ini, Reyhard, tidak kurang dari dua esai membicarakan laki-laki bernama asli Eric Arthur Blair tersebut.

Salah satunya dalam tulisan berjudul Orwell dan Pasifitas Masyarakat Modern”. Semacam refleksi dan resensi atas novel 1984 pun karakter tokoh Winston dengan kenyataan masyarakat mutakhir. Sepintas banyak distopia totalitarianisme kisah tersebut bersamaan dengan tumbangnya rezim komunisme Soviet. Namun benarkah ramalan Orwell melenceng jauh? Di mana novel 1984 menyuratkan, Tidakkah kau lihat, bahwa tujuan utama “Newspeak” adalah untuk mempersempit ruang pikiran? Yang membuat pemberontak semacam Winston menjadi target operasi dan intervensi Thought Police.

baca juga: Peristiwa-Peristiwa yang Perlu Diwartakan

Reyhard membandingkannya dengan keadaan dunia modern, di mana 15% dari populasi mendapatkan keuntungan dan kebebasan. Namun, 85% sisanya, barangkali mirip dengan keadaan The Proles dalam karya Orwell. 30% dari mereka hidup di lahan kurang air dengan tingkat kematian bayi tinggi; kekurangan pendidikan dan layanan sosial, hingga tidak terkontrolnya penyebaran penyakit.

Selain hal tersebut, kebebasan yang ditawarkan dunia modern mungkin serupa lelucon menggelikan. “Kau bebas menggunakan uang sesukahatimu. Tetapi  mengapa selalu ingin membelanjakan hal yang didiktekan iklan di sekelilingmu?” (hal. 228). Begitupun sebuah tatanan demokratis dengan pemilu demokratis yang tidak mengentaskan apa-apa. Selain menambah kemiskinan, pengambilan lahan, dan malah memperkaya para birokrat serta pengusaha. 

Patut menggarisbawahi paragraf terakhir dalam esai tersebut, “Kau tak merasakan kebutuhan akan kebebasan atau kekuatan. Bahkan yang lebih buruk, kau tak merasa bahwa kau pernah memiliki kedua hal tersebut” (p. 229).

baca juga: Lubang Hitam Manusia Modern

Selain Orwell, buku ini pun membedah buku berjudul Days of War, Nights of Love: Crimeth Inc for Beginners.

 

4/

Epilog

Kekuatan individu adalah awal dari perubahan yang dahsyat. Saya mengutip pernyataan Emma Goldman dalam buku terjemahan berjudul Ini Bukan Revolusiku terbitan Pustaka Catut, bahwa anarkisme adalah satu-satunya filosofi yang membawa kesadaran manusia atas dirinya sendiri, yang pada akhirnya menyeret masyarakat, negara, hingga tuhan untuk tidak eksis. Ia hadir sebagai guru dari kesatuan hidup, di dalam manusia.

Anarki adalah membebaskan, meronta kekang, dan berkata seperti Max Stiner dalam buku The Ego and His Own, “Liberate yourself as far as you can, and you have done you part; for it is not given to every one to break through all limits, or more expressively: not to every one is that a limit which is a limit for the rest”.

  •  

Judul: Mempersenjatai Imajinasi

Penulis: Reyhard Rumabayan

Penerbit: Octopus

Cetakan: Pertama, 2018

Tebal: 314 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: