Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membaca Atau Mati!

Oleh: Riduan S.         Diposkan: 13 Jul 2019 Dibaca: 2853 kali


Dulu, pekik yang paling berjiwa dan membakar semangat adalah frasa ini: “merdeka atau mati”. Pengertian dari frasa itu adalah lebih baik mati daripada terjajah. Lebih baik berjuang daripada menikmati penjajahan, entah karena perjuangan itu kita harus mengakhiri hidup. Sebab, hidup adalah perjuangan, bukan kepasrahan. Pengertian yang lebih filosofis adalah bahwa sebaik-baik hidup adalah lepas dari penjajahan. Sebaliknya, seburuk-buruk hidup adalah mereka yang menikmati penjajahan. Dengan pengertian itulah dapat disimpulkan bahwa hidup itu adalah kebebasan.

Kita tak pernah hidup tatkala kita tidak terbebas. Pengertian inilah yang kemudian kita dekatkan dengan sabda pendidikan, yaitu sebuah proses berkesinambungan dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan bersistem untuk memanusiakan manusia. Dengan kata lain, pada hakikatnya, manusia itu belum seutuhnya manusia kalau belum mengecap pendidikan. Manusia hanya akan seutuhnya menjadi manusia setelah menikmati pembelajaran. Manusia harus aktif-produktif (hidup), bukan pasif-konsumtif (mati).

Saat ini, kita sedang semangat-semangatnya menggelorakan gerakan “Ayo Membaca” setidak-tidaknya selama 15 menit (di ruang kelas). Gerakan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi kita yang kian hari kian buram. Keburaman itu, misalnya, dapat kita toleh pada nukilan The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016. Betapa tidak, angka melek literasi kita berada pada posisi ke-60 dari 61 negara yang dikaji. Kita negara terburuk yang kedua. Miris!

baca juga: 1001 Malam Cerita Lisan dan Nama Baru tanpa Selamatan

Bermula dari Membaca

Itulah sebabnya teman-teman pernah mengadakan diskusi terbuka di Taman Edukasi Avros, Medan, dan menginisiasi, salah satu di antaranya, Gerakan Sejuta Buku! Rencananya (semoga segera terkabul) akan segera dikumpul buku-buku, baik itu bekas maupun baru, untuk disalurkan kepada seluruh pelajar miskin di pelosok Sumut, ke komunitas-komunitas baca di pinggiran, dan juga ke sekolah-sekolah dan madrasah. Mengapa harus buku dan mengapa pula harus membaca?

Joko Pinorbo pernah mengatakan begini: masa kecil kau rayakan dengan membaca; (maka) kepalamu berambutkan kata-kata. Kalimat ini dengan lugas meneguhkan bahwa asal-muasal dari kata-kata yang akan berteriak di pikiran kita adalah membaca. Membaca adalah bahan baku untuk menuangkan dan memproduksi ide. Banyak membaca, maka banyak bahan baku. Setelah banyak bahan baku, tentu terserah kita bagaimana mengolahnya ke mana kita berkehendak. Boleh diucap bahwa kalau tak pernah membaca mustahil punya bahan baku, apalagi bisa menulis.

Dan, jujur saja, ketika menjadi pemakalah atau ketika ada diskusi literasi, saya selalu mengatakan bahwa bahan baku utama untuk menulis adalah membaca. Maka itu, gerakan ayo membaca sesungguhnya juga mengandung pesan ayo menulis, ayo produktif, ayo bekerja, bukan bermalas-malasan. Sebab, membaca adalah menanam ideologi. Membaca adalah mempersiapkan diri. Membaca adalah melengkapi rongga-rongga bangunan. Membaca adalah membenihkan. Membaca adalah mematangkan imajinasi. Membaca adalah meneropong dan menikmati masa depan dengan cara dan pemahaman yang berbeda.

Maka itu, seperti kata Muhammadun, bila ingin maju dan bangkit seperti Eropa (renaissance), kita harus mampu membangkitkan motivasi membaca para generasi Indonesia. Pekikan-pekikan lama, seperti “merdeka atau mati” harus kembali hidup dan bergelora di dalam dada kita masing-masing. Memang, kini, kita tak lagi hidup pada zaman penjajahan fisik. Kolonialisme dalam bentuknya yang purba sudah usang. Akan tetapi, bebas dari penjajahan fisik bukan berarti bebas seutuhnya.

baca juga: Bouquet, Nymphea Aquaris, dan Puisi Lainnya

Justru, di sinilah hakikat dari sebuah kemerdekaan itu diuji. Apakah karena kebebasan itu, misalnya, maka kita lalu berleha-leha dan bermalas-malas? Jika bermalas-malas, tentu saja kita tak lebih mulia dari para bapak pendiri bangsa. Mereka (para pendiri bangsa), misalnya, masih menyempatkan diri membaca dan membawa buku. Tan Malaka dalam pergerakannya ketika dikepung musuh lebih menyelamatkan buku-buku daripada harta lainnya. Bung Karno menyibukkan diri di dalam penjara dengan buku-buku. Pramoedya Ananta Toer berkarya justru dari balik penjara.

Bahkan lagi, Amir Syarifuddin dalam perjalanan ketika hendak dihukum mati menyempatkan diri membaca karangan William Shakespeare. Artinya, penjajahan nyata-nyata tak berhasil membuat mereka untuk tidak produktif dan positif. Saat itu, membaca adalah sebuah candu. Tak peduli badan dikekang, asal pikiran bisa bebas. Dalam bahasa lugasnya, para pendiri bangsa hanya terjajah dari segi fisik (eksistensial), bukan jiwa dan pemikiran (substansial).

Masih Awal

Lalu kita? Maaf saja, justru sebaliknya. Padahal, meminjam ungkapan almarhum Muhammad Zuhri (2007), manusia seperti ini, meskipun masih dapat melangsungkan hidup secara fisik, sebagai manusia sebenarnya ia telah mati. Yang mau saya utarakan di sini sebenarnya singkat saja: Ayo membaca! Sebab, membaca itu adalah menabung ide. Membaca itu berkorelasi positif dengan kemajuan sebuah bangsa. Kalau mau diperinci lagi, membaca hal-hal positif yang mengguncang imajinasi akan membuat kita menjadi pribadi bergairah.

baca juga: Aneka Eksperimen Yusi yang Bikin Nagih

Mari saya kutipkan penelitian David C. McClelland di sini! Kebetulan, dia seorang psikolog sosial asal Amerika yang tertarik pada masalah-masalah pembangunan. Dia dalam penelitiannya membandingkan Inggris dan Spanyol. Kita tahu bahwa pada abad ke-16, kedua negara ini merupakan dua negara raksasa. Bedanya, sejak saat itu, Inggris makin jaya, tetapi Spanyol malah melempem. Penyebabnya apa? Sebagaimana dimuat dalam buku Arief Budiman yang berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995), ternyata penyebabnya tak lain bukan ada pada muatan cerita buku.

Kelihatannya, dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit "butuh berprestasi" (need for achievement). Sebaliknya, cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis, dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati dan meninabobokan serasa ada di atas surga.

Lalu saat ini, berkaitan dengan itu, tak usah dulu repot-repot memilih antara Inggris atau Spanyol. Katakanlah ini masih tahap awal. Sebagai awal, marilah dulu membiasakan diri untuk membaca dan membaca. Buku apa pun dan cerita apa pun itu. Pokoknya, mari membiasakan membaca dulu. Dan, jangan merasa rendah kalau tak bisa membaca karya bernuansa ilmiah. Karya ilmiah tak selalu lebih mulia dari karya imajinatif.

baca juga: Trauma Perang, Seruan untuk Perempuan, dan Kemalasan yang Berulang

Albert Einstein pernah bergumam bahwa imajinasi ternyata lebih liat dan liar. Jika logika membawa kita dari A ke B, imajinasi akan membawa kita ke mana-mana. Jadi, jangan takut untuk membaca. Dongeng, sekalipun, silakan Tuan dan Puan baca! Terutama bagi para guru, mari sambut seruan pemerintah negara ini agar membiasakan diri, terutama siswa untuk membaca (paling tidak) selama 15 menit. Singkat saja, pilihan kita untuk menyambung masa depan, terutama menyambung sebagai manusi dalam pola pikir Muhammad Zuhri tadi hanya dua: membaca atau mati tergilas!

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: