Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membaca Foucault dari Ke(sangat)jauhan

Oleh: Udji Kayang         Diposkan: 26 Feb 2019 Dibaca: 858 kali


Pemikiran filsuf sudah tak diragukan lagi bakal sulit dimengerti. Sulit dimengerti bukan ciri khusus seorang filsuf yang menjadikannya lebih ketimbang filsuf lain. Setiap pemikiran filsuf punya kesulitan masing-masing: membentuk labirinnya masing-masing. Filsuf sulit dimengerti itu wajar-wajar saja. Maka, jadi agak aneh bila bahasan tentang seorang filsuf diawali dengan klaim pemikiran filsuf termaksud sulit dimengerti. Ibaratnya, seorang dosen jurusan ilmu kedokteran memulai penjelasan pada mahasiswa dengan menyebut manusia bernapas dengan paru-paru. Kita semua sudah sama-sama tahu!

Kemubaziran itu sayangnya masih gampang kita temui. Kita menyimak pengantar ganda dalam buku berjudul Michel Foucault: Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi (2018), garapan Ketut Wiradnyana. Pengantar pertama oleh penulis, diawali dengan kalimat, “tidak mudah, itulah kata-kata yang tepat untuk memahami pemikiran Michel Foucault.” Klaim, atau lebih mirip keluh kesah itu, diulangi di pengantar kedua, oleh penerbit, yang berkalimat pertama, “sudah cukup banyak yang menyusun ulang pemikiran Michel Foucault dalam berbagai bentuk, tetapi tetap saja muatannya sangat sulit dipahami.”

Kedua pihak sama-sama mengeluhkan susahnya pemikiran Foucault dimengerti, dan betapa teks-teks yang membahas pemikiran filsuf Prancis abad ke-20 itu masih saja menyampaikan sebagaimana adanya: tetap sulit dimengerti. Tidak salah, dalam konteks penerbitan teks kesekian, kita menduga pengantar dari penerbit itu mengandung janji: bahwa banyak buku-buku tentang Foucault yang beredar di Indonesia masih sangat sulit dimengerti, kecuali buku ini. Terang saja, buku Michel Foucault garapan Ketut pantas kita uji kegampangdimengertiannya.

baca juga: 100 Tahun Sair Rempah-Rempah Titik Membara

Dari daftar isi, kita menduga buku ini semacam teks pengantar kepada pemikiran Foucault. Format teks pengantar tentu menjanjikan kegampangdimengertian. Ketut tak melacak Foucault dari pengaruh filsuf terdahulu yang mungkin membentuk pemikiran Foucault, namun langsung mengenalkannya sebagai bagian tradisi pascastrukturalisme. Pada bagian paling penting bukunya, Ketut menjelaskan substansi pemikiran Foucault dalam dua konsep: savoir dan connaissance. Itu agak mengejutkan−untuk tak menyebut berani. Sesuatu yang di awal diklaim sulit dimengerti tiba-tiba semudah itu diekstraksi dalam dua konsep. Memang, kesulitan mengarahkan kita pada dua jalan: menjadikannya gampang, atau menggampangkannya.

Di buku Michel Foucault garapan Ketut, pemikiran Foucault boleh diakui terasa gampang dimengerti. Penjelasannya sederhana, tidak njelimet, sekalipun bahasa-bahasa asing kerap bermunculan, serta inkonsistensi Ketut dalam penggunaan term “teks” dan “tulisan”. Kegampangdimengertian itu mungkin lantaran Ketut memilih berangkat dari teks-teks yang dekat dengan kita: pembaca berbahasa Indonesia. Dari daftar pustaka yang memuat 29 judul buku sebagai referensi penulisan Ketut itu, 27 judul di antaranya buku berbahasa Indonesia, entah buku-buku terjemahan maupun buku-buku pengulas pemikiran Foucault yang digarap penulis Indonesia. Ketut berangkat dari teks kesekian, alih-alih dari mata air pemikiran Foucault sendiri. Jarak Ketut dengan Foucault menjadi jauh, sangat jauh.

Referensi yang lebih dekat ke Foucault Ketut baca dalam format buku elektronik (e-book). Empat dari delapan buku elektronik yang Ketut jadikan referensi ditulis atas nama Michel Foucault. Meski begitu, semua buku Foucault itu sudah dalam terjemahan bahasa Inggris, bukan bahasa aslinya. Itu problematis. Seturut Sapardi Djoko Damono dalam Alih Wahana (2018), “karena bahasa adalah wahana yang memiliki struktur dan kosakata yang khas, yang tergantung pada banyak faktor, maka pengalihan teks dari satu bahasa ke bahasa lain mau tidak mau berakibat terjadinya perubahan.” Terjemahan, kata Sapardi, berisiko menjadikan teks lebih miskin, meski itu nisbi.

baca juga: Dialog Marx dengan Antropologi

Kasus Ketut bukan baru kali ini saja terjadi, sejujurnya. Di Indonesia, penguasan bahasa masih belum diposisikan penting, kecuali sebatas penguasaan bahasa Inggris jadi salah satu syarat menerima beasiswa pendidikan. Padahal, ada begitu banyak teks-teks babon yang bahasa aslinya bukan bahasa Inggris, melainkan Jerman atau Prancis. Bagi kalangan filsafat, kebahasaan bergerak lebih jauh lagi ke Yunani Kuno. Bahasa inilah yang menjadi pembeda jelas kualitas akademisi Indonesia dan asing. Benedict Aderson boleh jadi contoh tepat. Ia seorang akademisi yang kiprah intelektualnya berawal dari kegandrungan pada kamus. Bahasa mengantarkannya pada astronomi pengetahuan yang mahaluas.

Masalah lain di buku Michel Foucault garapan Ketut−yang sudah seharusnya tak perlu ada−adalah pengeditan naskah yang bermasalah, atau jangan-jangan memang tak ada pengeditan? Di kolofon, kita memang hanya menemukan nama penulis dan desainer sampul buku. Tidak ada nama editor. Alhasil, masih ada begitu banyak salah ketik dan pelanggaran kaidah berbahasa yang sebenarnya sangat sepele. Misalnya, penulisan “di” saat menunjukan tempat yang seharusnya dipisah, masih banyak disambung, begitu juga seharusnya. Penulisan judul buku Foucault, Order of Thing, bahkan meleset parah menjadi Other of Thing, dan masih banyak kekeliruan lain. Apakah buku ini dikerjakan terburu-buru tanpa ketelitian untuk, misalkan, diterbitkan bertepatan ulang tahun penulis buku? Sayangnya, itu pun meleset.

  •  

Judul : Michel Foucault: Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi

Penulis : Ketut Wiradnyana

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tebal : xiv + 106 hlm

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: