Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membaca Pikiran Pierre Bourdieu (Edisi Revisi)

Wishlist
Stock: Out of Stock
Terjual : 1
Jumlah:

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:

Info Pengiriman: 
Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: radicalmay
Pembelian : #RadicalMay Book Fair disc up to 50%
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Bisa jadi terdapat sedikit keraguan akan arti penting kontribusi Bourdieu dalam sosiologi dan antropologi sosial. Dengan meninggalnya Althusser, Barthes dan Foucault, melebihi figur lain semisal Bodon atau Touraine, dia tampil untuk menunjukkan nilai dan vitalitas yang terus berlanjut dalam tradisi intelektual ilmu sosial Prancis. Dengan membangun ruang politis dan teoretis di luar Marx, Weber dan Durkheim, strukturalisme dan interaksionisme, determinisme pesimistis dan keyakinan selebratoris dalam meningkatkan potensi kreatif praktis kehidupan manusia, dia muncul sebagai sumber heterodoks dan menarik bagi inspirasi teori sosial pada era 1990-an.

Terdapat sejumlah alasan yang lebih spesifik mengapa pengkajian karya Bourdieu begitu penting. Pertama, dia memberikan kontribusi utama dalam debat tentang hubungan antara struktur dan tindakan sebagai satu pertanyaan kunci bagi teori sosial yang muncul lagi pada akhir era 1970-an dan awal 1980-an. Kedua, dibandingkan dengan Anthony Giddens, misalnya, kontribusi tersebut secara konsisten telah dikerangkakan oleh kombinasi antara kerja empiris sistematis apakah mendasarkan lagi pada etnografi atau pendekatan survei sosial dengan teorisasi reflektif. Tarik-menarik antara kedua aspek karya Bourdieu inilah yang menjadikannya begitu menarik: teori tanpa penelitian empiris adalah hampa, penelitian empiris tanpa teori adalah buta. 

Adapun alasan yang ketiga, mungkin sebagai konsekuensinya dari fakta bahwa Bourdieu telah menjadi seorang peneliti masalah sosial yang begitu aktif. Pertanyaan epistemologinya tentang inti kelayakan ilmu pengetahuan sosial dan syarat memungkinkan hal ini menjadi isu sentral dalam proyeknya. Hal-hal tersebut merupakan pertanyaan yang telah membuat banyak sosiolog dan antropolog apakah mereka menyebut dirinya sebagai teoretikus atau peneliti kehabisan akal.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Berat: gram
Kategori : Agama dan Filsafat
Ketebalan : 298 hlm l Bookpaper
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Kreasi Wacana
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by