Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membaca untuk Menertawakan Dunia

Oleh: Aristayanu Bagus K         Diposkan: 02 Jun 2018 Dibaca: 1471 kali


Seorang Esais Muhidin M. Dahlan pernah menulis dan mengandaikan adanya perpustakaan yang buka hingga pukul 12 malam. Apakah berlebihan? Sangat berlebihan, pasalnya meskipun perpustakaan beroperasi hingga larut malam, keengganan datang kesana masih akan menjadi masalah lanjutan yang mengekor. Tapi memang, bolehlah kita sebut ia adalah penjaga gawang keberlangsungan seni membaca dan berliterasi dengan radiobuku yang ia ampu saat ini, perpustakaan sekaligus gudang arsip yang berjubel.

Namun apa yang menjadi keistimewaan dari membaca? Apakah bau kertas-kertas memancing seseorang menjadi gila membaca, atau hanya untuk mencari sumber-sumber skripsi? Ah, Sepúlveda menggambarkan keajaiban dari membaca yang sering diremehkan banyak orang, membaca adalah menciptakan sebuah semesta lain dari peliknya dunia. Seorang tokoh yang ia beri nama Antonio José Bolívar Proaño, seorang lelaki tua berkulit kasap yang gila dengan novel cinta di masa tuanya.

Un viejo que leía novelas de amor karya Luis Sepúlveda yang kemudian diterjemahkan oleh Ronny Agustinus menjadi Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, adalah sebuah novel yang dari judulnya saja kita akan bertanya apa menariknya seorang lelaki tua yang membaca kisah cinta, bahkan berpikir bahwa sudahlah sangat wajar apabila seorang yang telah tua menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kesukaannya. Tapi, biarkanah Bolívar, Pak Tua itu mengajarkan kita untuk mengetahui apa arti membaca buku baginya.

baca juga: Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Bolívar suami dari Dolores Encarnación del Santísimo Sacramento Estupiñán Otávalo yang ia kenal sejak kanak-kanak dan ia nikahi di usia kelima belas. Hingga akhir hayat ayah mertuanya yang meninggal di usia pernikahan mereka yang kesembilan belas, Bolívar dan Dolores belum dikaruniai anak. Sebagai sepasang suami istri, tak lengkap kebahagian mereka tanpa dikaruniai anak, hal itu yang akhirnya menjadi cacian para tetangga. Mereka menganjurkan Dolores untuk menjadi penari di Festival bulan Juni, Festival yang menjadi ajang mabuk hingga tergelatak di lantai dan mereka berhak menyetubuhi satu sama lain. Tentu saja Bolívar tak ingin mendapatkan anak hasil arisan dari Festival itu dan memilih untuk keluar dari desa bersama istrinya. Mereka tinggal di daerah dekat hutan yang bernama El Idilio.

Kenahasan tak berhenti disitu, Dolores meninggal akibat malaria di tahun kedua mereka tinggal. Sebelum meninggal Dolores sempat dirawat oleh Orang Shuar, suku asli yang hidup di dalam hutan El Idilio. Merekalah yang mengajarkan Bolívar arti kebebasan yang tak pernah ia rasakan dan pikirkan sebelumnya. Bolívar menemukan sahabat baru bernama Nushiño,  orang Shuar yang bukan pribumi, yang ditemukan hanyut di sungai akibat peluru yang bersarang di punggungnya dan hampir saja mati akibat kehabisan darah.

Sebuah  ledakan terdengar di tanggul milik orang Shuar, para petualang pencari emaslah yang melakukan peledakan dinamit itu. Orang Shuar berbondong menghampiri suara ledakan itu sampai menemukan dua orang dari mereka sekarat, salah satunya ialah Nushiño. Sebelum ia meninggal Nushiño berkata agar dendamnya pada pencari emas itu dibalaskan dengan menancapkan racun pada tubuh mereka. Bolívar mengejar mereka bersama para orang Shuar lain, kebiasaan mereka berburu mempercepat langkah mereka menemukan para pencari emas itu. Perkelahian tak terhindarkan, Bolívar bergulat dengan mereka dan mendapatan senjata mereka. Ia yang tidak bisa menggunakan senjata api secara naluriah menarik pelatuk yang akhirnya membunuh para pencari emas itu, dan membawanya kepada orang-orang Shuar. Bukan rasa bangga yang ia peroleh, melainkan pengusiran karena Bolívar tak mampu membawa para pencari emas itu untuk merasakan racun orang Shuar karena sudah mati dan kaku, dengan berat hati orang-orang Shuar merelakan Bolívar untuk keluar dari lingkaran mereka.

baca juga: Kondisi Budaya Posmodern

Pada suatu hari ia bertemu seorang pastor yang sedang membaca buku, saat pastor itu tidur Bolívar mendekatinya dan mengeja setiap kalimat dalam buku itu hingga sang pastor terbangun dan menertawakannya. Itulah kali pertamanya jatuh cinta dengan buku, dan ia tertarik dengan kisah cinta saat sang pastor bicara soal buku apa saja yang pernah dibacanya. Kedekatannya dengan buku ditambah lagi saat ia bertemu seoarang dokter gigi yang bernama dr. Rubicundo Loachamin, seorang yang anti dengan pemerintah, yang membawa Bolívar mengenal ibu kepala sekolah yang memiliki perpustakaan. El Rosario karya Florence Barclay, buku yang mampu menyita waktunya untuk membaca dan tak ingin keintimannya dalam membaca terganggu.

Tak ada gading yang tak retak, tak ada keintiman yang terusik. Perhatiannya harus teralihkan saat walikota membicarakan perihal kematian seorang ‘bule’ di hutan, dan menuduh orang Shuar adalah pembunuhnya. Masalah ini melibatkannya dalam sebuah investigasi yang harus ditempuhnya, meskipun dia menolak sebelumnya. Di akhir cerita terkuaklah bahwa pembunuh ‘bule’ itu adalah hewan-hewan yang kehilangan rumahnya, akibat eksploitasi alam yang dilakukan oleh pencari emas, sebuah balas dendam yang berlaku wajar dalam hukum rimba. Sebuah akhir yang membawa penyesalalan mendalam bagi Bolívar karena membunuh hewan itu dengan senjata api, sebuah kejadian yang membawa kembali Pak Tua itu menyusuri masa lalunya, kenahasan yang tak pernah ia pikirkan dan inginkan sebelumnya, sama seperti kebebasan yang ia peroleh dari orang Shuar.

Buku Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta ini dilengkapi dengan wawancara antara Bernard Margnier dari UNESCO bersama Luis Sepúlveda. Dari wawancara itu pembaca dapat mengetahui bahwa buku ini ditulis atas pengalaman nyata Sepúlveda yang diwakilkan Bolívar dalam ceritanya. Ia menuturkan kisahnya sebagai orang ketiga yang serba tahu. Membalut namanya dengan tokoh imajinernya, Antonio José Bolívar Proaño.

baca juga: Proyek Manusia Ilahiah

Terjemahan yang dituliskan oleh Ronny Agustinus memang tak perlu diragukan lagi, sampai saat ini saya belum untuk berpikir keras tentang ketidaksinambungan kata dalam kalimat-kalimatnya, semuanya mulus, dan enak dicerna. Sampul dicetakan kedua ini pun menarik, daun-daun menutup sekujur tubuhnya, dan nampak dua bulatan mata berwarna kuning, menandakan proses penggarapannya yang tak main-main. Dua bulatan mata kuning itu adalah mata macan tutul yang dikisahkan oleh Sepúlveda hendak menerkam Bolívar.

Jika Bolívar menuju ke gubuknya kembali ke novel-novel yang membicarakan cinta hingga ia lupa dengan kebiadaban manusia, dan Sepúlveda menamatkan buku itu dengan ucapannya bahwa sastra adalah cara untuk mencapai tujuan.

Judul Buku: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Penulis: Luis Sepúlveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tebal: x+133 hlm


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: