Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

Oleh: Aristayanu Bagus K         Diposkan: 27 Aug 2018 Dibaca: 1108 kali


“Marilah tidak memperolok diri dan pikiran kita dengan menganggap peradaban ini sebagai peradaban yang tua dan dewasa”. 

 

Sebuah kumpulan tulisan menarik diterbitkan dan mampu dinikmati khalayak umum, memberikan informasi-informasi tabu dari para seniman dunia, yang dituturkan secara pribadi oleh seniman itu sendiri. ‘Rebel Notes’ berisikan 16 seniman yang tak asing bagi telinga kita. John Lennon, nama yang benar-benar mampu menyeret ingatan kita kepada lagu imagine, berada di urutan pertama sekaligus menjadi gambar sampul dari buku ini.

 

Nama yang tak kalah menarik perhatian adalah Bob Dylan, namun sayang sekali dalam buku ini menjelaskan posisi Bob Dylan yang telah dianggap murtad oleh beberapa fansnya, dia menerangkan bahwa dia tidak tertarik kepada dirinya sendiri, dan tidak ingin menjadi seorang penampil yang mampu bersembunyi untuk membahagiakan para fans ketimbang dirinya sendiri. Kalimat-kalimat yang ditulis terasa seperti pleidoi yang ia gunakan untuk meredam amarah dari penggemarnya yang terlanjur kecewa seketika ia murtad dari jalur Folk Song.

 

baca juga: Genosida Sebagai Buah dari Modernitas

 

Membaca buku ini mampu memberikan pandangan lain dari para tokoh seniman, contohnya Kurt Cobain, dalam tulisannya ia menceritakan kegemarannya membaca adalah untuk memisahkan diri dari dunia yang mengitarinya. Broken Home yang mampu mengubahnya sedemikian rupa hingga menjadi orang berpengaruh dalam musik Grunge. Atau maestro reggae seperti Bob Marley yang menuliskan kisahnya bersama Ganja, judul terjemahan yang begitu menghentak “Menghisap Ganja bersama Tuhan”, tentu saja apa yang dituliskan oleh Bob Marley ini begitu penuh dengan ganja dalam kehidupannya.

 

Jim Morrison, Andy Warhol, Elvis Presley, juga tak lepas menyodorkan gagasan-gagasan pembebasan sebagai manusia yang mencintai seni, atau bebas melalui seni yang sejatinya membebaskan. Buku ini memang begitu mudah untuk dinikmati, terjemahan yang tidak terlalu buruk dan masih dalam taraf mudah dipahami tidak akan membuat kita berputar-putar untuk membacanya. Tak hanya seniman yang berada di jalur musik saja yang ditawarkan oleh Rebel Notes ini, ada Jean Michel Basquiat, pelukis yang terkenal dengan menawarkan gambaran-gambaran kekuasaan, heroisme dan jalanan melalui lukisan, yang tak menyangka bahwa ia akan disandingkan dengan pelukis-pelukis lain yang tidak berkulit hitam. Ia memang salah satu pelukis yang berhasil membuktikan bahwa perbedaan warna kulit bukanlah hal yang mampu menghambat karya-karya diterima oleh seluruh dunia.

 

Yoko Ono menutup buku ini dengan tulisannya sebagai aktivis feminisme, istri dari John Lennon ini menebar semangat agar perempuan keluar dari rasa inferior, “Marilah tidak memperolok diri dan pikiran kita dengan menganggap peradaban ini sebagai peradaban yang tua dan dewasa”. Sebuah ajakan untuk melakukan perjuangan dan penuntasan penindasan yang terjadi kepada perempuan di Amerika serikat.

 

baca juga: Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

 

Terlepas dari semua para tokoh itu, buku ini masih sangat relevan untuk menambah kebebasan jiwa para pembacanya. Jika membaca adalah upaya untuk memberontak kepada kebodohan, rasanya tak berlebihan jika buku ini memang diperuntukkan untuk demikian.

  •  

Judul Buku: Rebel Notes

Penulis: John Lennon, dkk

Penerbit: Katalika x Octopus

Dimensi: 13x19 cm

Tebal: xxiv+160 hlm

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: