Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membincang Patah Hati

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 13 Aug 2019 Dibaca: 2117 kali


Seorang teman tetiba saja memanggil saya melalui Whatsapp. Hal yang tak biasa saya dapatkan ketika hari telah menjadi malam. Dengan suara sesenggukan ia bercerita mengenai pacarnya yang memiliki perempuan lain selain dirinya. Sebelum itu, calon tunangannya melakukan hal yang sama, meninggalkannya. Gawai saya memanas, dan ia belum selesai dengan cerita malangnya.

Hampir tiga puluh menit berjalan. Berangsur-angsur ia mulai tenang, dan saya tak banyak bicara karena hampir di setiap ceritanya, ia mengerti apa yang perlu ia lakukan. Saya cukup mengulang perkataannya tanpa perlu meninggikan nada bicara seakan-akan saya adalah orang yang bisa menunjukkan jalan keluar atas permasalahannya.

Sebelum itu, seorang teman yang lain menghubungi saya dan berkata bahwa sebisa mungkin saya menyempatkan waktu untuk bertemu seseorang lain yang tak pernah saya kenal sebelumnya. Saya bertanya mengenai alasan apa yang membuat saya harus melakukannya. Teman saya menjawab, seseorang yang mesti saya temui ingin sekali mendapatkan teman bicara. Di waktu yang sama, saya sedang sangat lelah, dan saya belum mengiakan, sampai hari ini.

baca juga: Tak Ada Senja di Panggung Orkes dan Puisi Lainnya

Saya berpikir, bahwa selayaknya sebuah periuk. Manusia memiliki batas di mana ia akan merasa penuh. Bukan soal mengisi perut saja, melainkan juga persoalan mendengarkan. Karena setiap dari kita memiliki kecemasan. Dan kecemasan selayak bom, yang akan meledak menanti waktu. Seperti kata Erich Fromm dalam Psychoanalysis and Religion bahwa, “Kita berpura-pura bahwa kehidupan kita berdasarkan pada satu fondasi yang kokoh dan mengabaikan bayang-bayang kegelisahan, kecemasan, dan kebingungan yang tak pernah meninggalkan kita.”

Patah hati adalah salah satu kecemasan yang hampir tak pernah bisa dihindari oleh manusia. Sebagai makhluk yang terus menjalin relasi dengan sesamanya, dan membentuk hubungan sebagai ciri makhluk sosial, dan cinta adalah persoalan mendasar yang dialami manusia. Patah hati seringkali disebabkan oleh harapan yang tak terpenuhi, seperti penolakan hingga ditinggalkan. Artian patah hati, seringkali melekat antara dua individu yang awalnya saling melekat kemudian salah satu dari mereka memutuskan untuk ingkar.

Patah hati seringkali menjadi alasan untuk manusia, bergegas dari keadaanya. Alih-alih ingin membebaskan diri dari kesakitan,  manusia menjadikan patah hati sebagai pemacu baru, entah untuk makin terpuruk ataupun bergegas ke arah yang semakin baik.

baca juga: Kerawanan dan Keterasingan

Setidaknya, itulah pengalaman saya ketika membaca Arah Langkah karya Fiersa Besari. Selain sebagai novel yang berisi mengenai catatan perjalan menyusuri Indonesia, Arah Langkah adalah salah satu bukti bahwa patah hati adalah katalisator. Dalam novel ini, patah hati membawa Fiersa untuk melegakan patah hatinya, dan mencoba hal-hal baru di kehidupannya.

Kekuatan utama karya ini adalah kekayaan lokal berbagai macam tempat yang dikunjungi selama perjalanan. Setidaknya, bagi saya yang minim kesempatan untuk berkeliling Indonesia, bahkan Jawa, buku ini mampu menjadi pemantik untuk lebih mengenal Indonesia dari dekat sekali.

Seusai membaca Arah Langkah, saya teringat dengan perbincangan bersama seorang dosen di kelas. “Di Indonesia, jangankan mau berkeliling Indonesia, membeli buku catatan perjalan seseorang yang telah berkeliling Indonesia saja, masih tetap tak terjangkau. Padahal kita memang perlu untuk mengetahui bagaimana Indonesia, bukan hanya Jawa.” Jika ingatan saya tak salah, begitu tukas dosen saya dalam suatu kesempatan.

baca juga: Seni: Nalar Kreatif yang Memberontak

Membincang patah hati tak lain adalah mengurai kesakitan-kesakitan yang merupa seresah resah yang mengendap dalam diri. Sama dengan kecemasan yang lain, ia adalah serupa bom yang dapat meledak suatu waktu.

Mengapa patah hati seakan-akan menjadi aib yang memalukan? Saya pikir, hal-hal demikian sama dengan budaya yang terbentuk di Indonesia. Persoalan-persoalan semacam patah hati menjadi hal yang tak perlu dibicarakan dan bertolakbelakang dengan nilai-nilai maskulinitas. Ya tentu saja, saya tumbuh di Jawa, di mana budaya patriarkis sudah terbentuk setelah sekian lama, dan untuk berpura-pura diam atas perasaan yang hancur adalah sudah kelewat zaman.

Nama Didi Kempot mulai akrab dengan telinga anak-anak muda sekarang ini. Padahal saya yang besar dan tumbuh di salah satu kabupaten kecil di Jawa Timur, awalnya mengira bahwa lagu-lagu semacam ini tak akan mendapat tempat di perantauan. Ternyata anggapa saya salah. Bisa saja, lirik-lirik yang ditulis Didi Kempot adalah perwakilan dari sekian banyak orang yang menyembunyikan patah hati, yang didendangkan dengan alunan serba asyik untuk menari.

baca juga: Filsafat Mencintai

Kita memang perlu untuk membicarakan hal-hal mendasar yang dialami manusia dengan lebih serius. Mulai dari cinta hingga patah hati yang disebabkannya. Patah hati bukanlah hal yang tabu, dan kita adalah yang sama-sama patah hati.

Membincang patah hati setelah membaca Arah Langkah adalah salah satu cara mengurai kesakitan. Dan mungkin sama seperti Fiersa, kita mesti mampu mengolah perasaan, keluar dari jebakan untuk terus diam dalam nestapa. Arah Langkah adalah sebuah catatan perjalan yang mengurai elegi, lantas bagaimana dengan Tapak Jejak yang menjadi bagian selanjutnya?

  •  

Judul: Arah Langkah

Penulis: Fiersa Besari

Penerbit: Media Kita

Tebal: 304 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: