Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Membongkar Ketidaktahuan Tentang Massa

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 18 Jun 2019 Dibaca: 1405 kali


Masyarakat terbagi dari berbagai kelas. Dalam relasi antar kelas dapat ditemukan berbagai ketimpangan. Permasalahan sosial-politik dalam masyarakat banyak berdasarkan dari masalah dalam relasi antar kelas tersebut. Terutama dalam relasi antara elite dengan massa. Suatu kelas yang sangat kontras dan terdapat kesenjangan yang amat tinggi di antara kedua kelas tersebut.

Permasalahan relasi elite dan massa sangat terlihat dalam masyarakat negara berkembang, termasuk Indonesia. Wertheim, sosiolog Belanda yang banyak meneliti mengenai Indonesia, berusaha mengangkat masalah ketimpangan relasi elite dan massa. Buku ini adalah hasil pikiran dari Wertheim mengenai masalah tersebut dalam konteks umum dan juga khusus, terutama di Indonesia.

Wertheim berusaha membongkar berbagai kesesatan dalam perspesi elite tentang massa. Kesesatan tersebut berujung pada berbagai kekacauan dalam proses emansipasi massa. Wertheim menempatkan posisi elite dan massa sebagai pihak yang bertentangan dengan menyebut relasi mereka sebagai elite versus massa.

baca juga: Heavy Metal dan Identitas Kultural Kaum Muda

Elite versus massa bukan hanya suatu persoalan tentang perilaku aktual dan hubungan-hubungan sosial riil, tetapi juga merupakan suatu persoalan yang erat terkait dengan persepsi-persepsi dan gagasan-gagasan yang muncul di pelbagai pihak ketika mereka memandang posisi mereka sendiri dan posisi kelompok lain (hal. 2). Dalam gagasan tersebut, masalah sosial yang ada cenderung direduksi. Mereka melihat Sang Liyan (the Other) hanya berdasar sudut pandang mereka. Sehingga gagasan tersebut malah menyingkirkan inti permasalahan.

Elite dalam persepsi mereka tentang massa justru menyingkirkan realitas mengenai massa. Distorsi tentang realitas seringkali hadir dalam bentuk rasionalisasi atas perilaku elitenya sendiri (hal. 3). Adanya kekacauan tersebut terbentuk karena posisi elite dan massa yang sangat timpang. Kedua kelompok hidup di dunia yang sangat terpisah (hal. 4). Elite juga sangat dominan sehingga membuat suara dari massa tidak terdengar. Informasi mengenai massa tidak sampai ke kaum elite. Wertheim menyebut kondisi ini sebagai “ketidaktahuan” (ignorance).

Dalam bertahannya ketidaktahuan tersebut, ilmu sosial turut bertanggung jawab. Wertheim mengontraskan sosiologi ketidaktahuan (sociology of ignorance) dengan sosiologi pengetahuan. Adanya sosiologi pengetahuan menjadi suatu ilmu kritis yang berusaha membongkar apa yang disebut Marx sebagai kesadaran palsu (false consciousness). Fenomena ini menandakan kesalahan pemahaman mengenai perkembangan sosial.

Georg Lukacs, berangkat dari konsepsi ini, melihat pemikiran borjuis  bertujuan untuk memperlihatkan ketidakberubahan tatanan dominan. Persepsi kaum borjuis mengenai realitas sosial, terutama mengenai massa, dipenuhi dengan reifikasi[1]. Relasi antara elite dan massa bersifat antagonis. Namun karena reifikasi dalam persepsi mengenai realitas, kontradiksi tersebut tidak disadari. Kesadaran palsu ini tidak hanya ada pada kalangan elite tetapi juga ada kemungkinan bahwa massa mengalami kesadaran palsu.

baca juga: Ralat dan Telat

Ilmu sosial memainkan peranan dengan menciptakan ilmu sosial yang elitis. Seperti Raymond Aron yang justru menyatakan bahwa gagasan mengenai kesetaraan dan pemikiran kiri lainnya sebagai tidak penting. Howard Becker semakin menunjukkan posisi elitis ilmu sosial dengan menegaskan hierarki kredibilitas yang membuat kebenaran seolah-olah hanya milik kaum yang kredibilitasnya ditentukan oleh borjuis yang dominan. Kaum intelektual juga menciptakan jarak dengan massa, meremehkan sudut pandang massa. Suatu sosiologi ketidaktahuan bisa menelanjangi kasus sesat pikir elite dan represi kebenaran yang dilakukan tanpa sadar (hal. 51).

Berbeda dengan ketidaktahuan yang disebabkan rasa tidak ingin tahu mengenai massa, terdapat pula ketidaktahuan hasil distorsi realitas sosial. Distorsi itu dibentuk dengan monopoli pengetahuan oleh pihak penguasa. Ketidaktahuan tersebut menguntungkan penguasa yang menganggap suara massa sebagai ancaman. Mereka menciptakan suatu regime of truth[2] – dalam istilah Foucault – untuk melanggengkan kekuasaan mereka

“Kita bisa menyimpulkan bahwa ketidaktahuan yang sengaja diciptakan dan dipertahankan itu seringkali cenderung menghapus bukti yang ada tentang beberapa gerakan emansipasi dan tentang potensi mereka untuk melakukan perubahan sosial dan politik. Penenggelaman kebenaran itu pada dasarnya digunakan untuk memperkuat posisi kelas penguasa dan untuk menciptakan kesan bahwa seolah penguasa itu memang diterima oleh seluruh rakyat tanpa terkecuali.” (hal. 59)

baca juga: Religiusitas Si Kepala Suku

Ketidaktahuan juga terdapat dalam konteks kolonialisme Belanda di Hindia Belanda. Informasi mengenai massa hanya mengandalkan laporan dari elite lokal yang dianggap memahami massa. Ketidaktahuan terlihat jelas terutama dalam persepsi tentang masyarakat desa. Masyarakat desa digambarkan sebagai suatu totalitas yang seimbang dan serasi (hal. 62). Hal itu menguatkan posisi elite lokal.

Perilaku elitis tersebut diwariskan ke generasi selanjutnya. Misalnya bapak-isme di kalangan tentara. Bapak-isme ini mirip dengan hubungan patron-klien. Selain itu banyak kaum elite di generasi sekarang yang berperilaku dengan cara “kolonial” dan bahkan lebih kolonial daripada perilaku orang-orang Belanda di masa sebelum perang (hal. 65). Mengutip Polomka, dijelaskan kelakuan elite kota di era Orde Baru yang sama memarjinalkan masyarakat desa. Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang masyarakat petani. Konsepsi desa yang harmonis juga terus dipelihara sebagai legitimasi mereka untuk membiarkan permasalahan di desa.

Pandangan elite ini juga dapat terlihat dalam ilmu sosial di Indonesia. Wertheim membedah pemikiran Selo Soemardjan, bapak sosiologi Indonesia, dalam karyanya Perubahan Sosial di Yogyakarta, yang menurutnya menampakkan elitisme itu. Selo Soemardjan memelihara ketidaktahuan mengenai kaum tani miskin (peasant). Ia menggeneralisasi pandangan tentang peasant dengan persepsi tentang petani (farmer) yang sudah mengalami kemajuan. Hal ini dilandasi oleh persepsi masyarakat desa yang serasi.

baca juga: Dongeng yang Tak Melulu tentang Pesan Moral

Dalam tulisan Soemardjan kaum petani miskin dan tak memiliki lahan terpinggirkan. Mereka hanya digambarkan sebagai pihak yang secara sukarela menjual tanahnya. Tetapi justru para petani tidak bertanah tersebut digambarkan telah ditangani dengan program transmigrasi. Gambaran ini tidak mempertimbangkan kondisi kaum petani tidak bertanah itu setelah dipindahkan.

Hal ini menandakan bahwa kaum sarjana (scholars) juga tidak terbebas dari ketidaktahuan ini (hal. 82). Dalam konteks ini, kemiskinan menjadi sesuatu yang tidak diketahui dan tersingkirkan dari ilmu sosial. Wertheim juga mengkritik pandangan dari Clifford Geertz, Hildred Geertz, dan Robert Jay. Pandangan mereka dianggap mengalihkan permasalahan utama. Permasalahan ketimpangan justru dialihkan kepada konsepsi kemiskinan yang terbagi (shared poverty). Signifikansi pertentangan kelas dalam masyarakat desa tidak disorot.

Secara garis besar, buku ini berusaha menunjukkan ketimpangan dalam masyarakat yang disembunyikan penguasa. Kondisi masyarakat dipenuhi ketidaktahuan yang membuat suara dan gerakan kelompok marjinal tidak terdengar dan tidak terlihat. Karya ini menjadi suatu peringatan bahwa penguasa dan juga kaum intelektual yang bekerja sama dengannya terus memelihara ketidaktahuan. Tugas kita untuk membongkat ketidaktahuan tersebut.

  •  

Judul : Elite vs Massa

Penulis : W.F. Wertheim

Penerbit : Resist Book

Tebal : xxx + 108 halaman

  •  

 

[1] Suatu kondisi di mana realitas tersembunyi dan suatu hal yang dikonstruksi dianggap alami. Magnis-Suseno menyatakan bahwa reifikasi dalam masyarakat borjuis adalah semua hubungan antar-manusia dikuasai oleh hukum pasar (Magnis-Suseno, 2017: 113). Lebih lengkap lihat Georg Lukacs, Dialektika Marxis Sejarah dan Kesadaran Kelas (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2017)

[2] Regime of truth adalah mekanisme yang membedakan yang salah dan yang benar. Mekanisme ini ditentukan oleh pihak yang berkuasa. Lebih lanjut mengenai regime of truth lihat Collin Gordon (ed.), Power/Knowledge (New York: Pantheon Books, 1980)

 

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: