Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memerkarakan Max Havelaar

Oleh: Arif Yudistira         Diposkan: 31 Oct 2019 Dibaca: 1273 kali


Aku akan dibaca! Aku mau dibaca oleh negarawan-negarawan yang berkewajiban memperhatikan tanda-tanda zaman; —oleh sastrawan-sastrawan yang juga harus membaca buku itu yang begitu banyak dijelek-jelekkan orang…;— oleh anggota-anggota perwakilan rakyat yang harus mengetahui apa yang bergolak dalam kerajaan besar di seberang lautan, yang ada adalah sebagian dari kerajaan Belanda…Maka akan kuterjemahkan bukuku dalam bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak… (Multatuli).

Apa yang ditulis oleh Multatuli pun menjadi kenyataan. Romannya seperti kata Pram, menjadi “buku yang membunuh kolonialisme.” Buku Max Havelaar yang ditulis di tahun 1859 dalam waktu satu bulan kala itu, masih menjadi kajian menarik di Indonesia dan dunia sampai hari ini. Buku Max Havelaar memiliki pengaruh besar terutama di negeri Belanda dan Indonesia. Di Belanda, karya Multatuli ini diakui oleh Ratu Belanda kala itu, ikut mempengaruhi kebijakan politik etis di Hindia Belanda. Meski banyak tulisan yang mengkritik kolonialisme kala itu, tapi tak banyak yang mampu memberikan pengaruh pada kebijakan kolonialisme yang dilakukan oleh negeri Belanda. Max Havelaar telah berhasil membuka mata para petinggi dan rakyat Belanda kala itu. Boleh jadi karena hadir dalam bentuk novel, publik pun lebih terpikat ketimbang dalam bentuk tulisan protes lainnya. Max Havelaar telah membuka kedok, serta “borok” Belanda di Hindia Belanda. Negeri Belanda, dikisahkan sebagai penjajah yang kejam dengan sistem tanam paksanya. Pembaca bisa menyimak kutipan berikut ini :“ Kalau kita perhatikan betapa banyaknya hasil-hasil pulau Jawa, yang dilelang di negeri Belanda, menjadi yakinlah kita betapa suksesnya politik itu, meskipun tidak mulia. Sebab, kalau ada orang bertanya apakah si petani sendiri mendapat upah sebanding dengan hasilnya, maka saya harus mengatakan tidak. Pemerintah mewajibkan menanam di tanahnya sendiri apa yang dikehendaki oleh pemerintah; pemerintah menghukumnya, jika ia menjual hasil yang diperoleh dengan cara itu kepada siapapun juga, kecuali pemerintah, dan pemerintah sendiri yang menetapkan harga, yang akan dibayarnya untuk itu.” (Havelaar, 1972: 63) 

Kita juga bisa menilik bagaimana kelaparan dilukiskan secara tragis oleh Multatuli di novelnya Max Havelaar. “Bahaya kelaparan? ..... Di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca; beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan,… Ibu-ibu menjual anaknya untuk makan,... Ibu-ibu memakan anaknya sendiri... (Havelaar, 1972:64).

baca juga: Yang Terurai dari Tabrakan Dini Hari Tadi

Setelah Max Havelaar membuat petinggi Belanda geger dan kebakaran jenggot, maka Belanda pun mengeluarkan kebijakan yangng dikenal dengan politik etis (balas budi). Belanda kemudian memberikan balas budi berupa hak yang sama dalam memperoleh akses pendidikan dan beasiswa. Gagasan perlawanan dan kritik kepada kolonialisme inilah yang menempel pada novel Max Havelaar. Ia memberikan tauladan pada semesta bahwa kolonialisme tak mengenal batas negara. Karena peranannya itulah, di Lebak Banten didirikan Museum Multatuli. Museum Multatuli dibangun pada 11 Februari 2019.Mulanya terjadi penolakan dari masyarakat sekitar karena Multatuli bukan orang Indonesia, tapi akhirnya berakhir damai setelah diberikan pengertian/ dialog. Hilmar Farid selaku Dirjen Kemendikbud pun memberikan komentar saat peresmian museum itu. “Sosok Multatuli mempunyai peran khusus. Dia seorang Belanda mengkritik sistem kolonial, karyanya memiliki dampat bsar (Detik.com, 2018).

Bermain Tafsir

Multatuli tak hanya diawetkan dalam bentuk museum. Multatuli menjadi semakin kaya ketika ditulis dari berbagai perspektif dalam bentuk buku. Pertama kali digelar, ada pertunjukan teater, peluncuran buku, dan festival kerbau. Kala itu, di tahun 2018, Panitia Festival Seni Multatuli pun meluncurkan buku puisi tentang Max Havelaar bertajuk Kepada Toean Dekker (2018).

Tahun 2019, Festival Seni Multatuli pun kembali digelar. Pada tahun 2019 ini, diadakan Simposium: Membaca Ulang Max Havelaar. Ada sekitar 131 abstrak, dari sekian abstrak akhirnya disaring menjadi sekitar 15 abstrak. Panitia mempertimbangkan pada gagasan baru, segar dan kontekstual. Kita bisa menemukan banyak perspektif saat memerkarakan Max Havelaar. Ada yang mengkaji seberapa besar pengaruh Max Havelaar dalam karya anak-anak milenial. Achmad Sunjayadi melakukan pembacaan kritis mengenai karya-karya yang muncul yang terinspirasi dari Max Havelaar. Baik di Indonesia maupun Belanda.

baca juga: Satire Tajam Terhadap Sains, Pemerintahan, Dan Agama

Ada pula yang menilai Max Havelaar dari sisi konstruksi religiositas dan moralitas. Endi Aulia Garadian menulis: “Kita mulai mendapat gambaran bahwa Droogstoppel ingin sekali menampilkan dirinya sebagai seorang yang saleh. Namun, apa sebetulnya yang ingin disampaikan oleh Multatuli dengan menampilkan religiositas dan moralitas seorang makelar kopi, hingga pada derajat tertentu, secara berlebihan? Ada kemungkinan Multatuli berupaya menghadirkan sebuah narasi dimana para Calvinist di Belanda meurpakan kumpulan keagamaan yang egois, obsesif, dan hanya peduli kepada kepentingan kelompoknya sendiri.” Endi Aulia pun memberikan simpulan bahwa “Multatuli nampaknya juga berupaya memperlihatkan bagaimana agama tidak menjadi solusi bagi persoalan ketidakadilan di tanah koloni. Sekalipun ikrar jabatan kerap menyatakan nama Tuhan, dan juga raja pada hal-hal lain, tetap saja amanah tidak bisa dijalankan para pejabat.”

Dalam perspektif lain, Fadly Rahman menawarkan pembacaan yang berbeda. Fadly membaca singgungan antara kopi dan ironi kolonialisme. “Dalam kaitan antara budidaya kopi dengan kondisi tanah dan rakyat Bumiputera, Max Havelaar mencerminkan ironi kopi di tanah jajahan . Pada satu sisi pembudidayaan kopi di tanah jajahan banyak berbuah pahit bagi kondisi hidup rakyat Bumiputera, tapi pada sisi lain bisnis perniagaan produksi kopi berbuah manis bagi makelar di negeri Belanda.”

Selain kajian yang membentangkan Max Havelaar sebagai ikon pariwisata, kita juga disuguhi pembacaan menarik. Heri Priyatmoko misalnya memilih diskursus Ekologi, Flora dan Fauna di novel Max Havelaar.  Heri melihat Multatuli tak hanya mengurusi kopi semata, tapi juga melihat Flora lain yang sarat simbol. Ia juga melakukan pengamatan detail terhadap fauna di kala itu. Sehingga ia bisa menghadirkan kerbau sebagai simbol yang penting di novelnya Max Havelaar. Pembacaan ini membuka mata kita melirik pada Flora dan Ekologi di novel Max Havelaar.

baca juga: Teringat dan Terbaca

Buku Membaca Ulang Max Havelaar (2019) makin membuka mata kita bahwa karya sastra yang ditulis oleh Multatuli tak hanya membincangkan perkara anti kolonialisme semata. Akan tetapi, Max Havelaar telah memendarkan berbagai ragam perspektif baru, sebagai sebuah kajian yang kontekstual sampai hari ini. Kita tentu berharap akan terus muncul pembacaan yang lebih segar  dan baru pada karya Havelaar di masa mendatang.

  •  

Judul : Membaca Ulang Max Havelaar

Penerbit : Cantrik Pustaka

Penulis : Peter Carey, dkk

Tebal : 260 Halaman

  •  

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: