Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memiliki, Meminjam

Oleh: Setyaningsih         Diposkan: 19 Sep 2018 Dibaca: 932 kali


Para pembaca atau “pemabuk buku” baru saja merayakan hari raya di Kampung Buku Jogja (KBJ) 4, yang dihelat pada 10-13 September 2018 di Gedung PKKH UGM. “Hari Raya Pencinta Buku”, begitu istilah itu digunakan untuk menjuduli buku Kampung Buku Jogja, Hari Raya Pencinta Buku [2015-2017] (2018). Buku mendokumentasi tulisan para bos perbukuan, misalnya Adhe, Arif Abdulrakhim, Indrian Koto, Muhidin M. Dahlan, Eka Putra, berbicara buku dan KBJ dari masa ke masa. Istilah “Hari Raya” itu memang penyataan yang tampak gigantis. Orang-orang harus mudik kepada buku, menyantap buku, bersilaturahmi kepada buku-buku, dan akhirnya memboyong entitas buku ke halaman diri. Meski KBJ 4 bertempat di gedung yang tidak mirip kampung secara harfiah, kita bisa menganggapnya semacam optimisme gairah orang-orang kembali ke buku dan menyapa lagi di Hari Raya Buku tahun depan.

Di hari terakhir saya datang ke KBJ 4, tidak bisa saya mengatakan kondisi berjubel atau orang-orang harus dibagi ke beberapa gelombang bergiliran untuk memasuki ruangan. Kondisi ini jelas menegasi atas yang terjadi dua tahun silam di gudang Group Retail and Publishing Kompas Gramedia di Maguwoharjo, Yogyakarta. Kompas (19 September 2016) sempat menampilkan foto yang keterlaluan heroik. Orang-orang berkerumun di depan pintu gerbang yang masih tertutup. Mereka mengantre buku murah seperti mengantre sembako murah. Sampai akhir September 2016, gudang Kompas-Gramedia memang menjual jutaan eksemplar buku dengan harga lima ribu saja. Buku jadi semacam tidak ada harganya, kita digoda membeli saat harga mencapai titik terendah.

Di KBJ 4, seiyanya seperti yang saya alami, membeli buku dengan diskon yang tidak besar atau menemukan buku tidak baru tapi harganya justru semakin mahal, sering membikin gelisah dan bergegas mencari utangan. Keinginan memiliki buku sering dikalahkan oleh harga dan uang di dompet. Padahal, momentum ini menjadi salah satu cara mendapatkan buku dari penerbit indie yang memang tidak selalu menyetok bukunya di toko-toko buku biasanya. Belum lagi isu beberapa penerbitan yang tutup, padahal buku-buku mereka sangat kece sejak dalam tampilan. Hanya dengan datang, menyentuh, mengizinkan mata membuat ikrar dalam hati untuk memiliki, terkadang itu sudah menjadi kelegaan yang satire. Mudik ke buku tidak selalu membawa serta para buku.

baca juga: Buku dan Belanja Tanda Tangan

Sejak belia, sepertinya tidak banyak orang dimasalahkan oleh gangguan “memiliki” buku-buku selain buku pelajaran. Buku pelajaran memang sempat menjadi hak milik, tapi faedahnya sulit sampai pada tataran emosional yang butuh pertaruhan. Perayaan tahunan membeli buku pelajaran sudah pasti terjadi setiap tahun. Sedang untuk buku-buku imajinatif, kita lebih diajari untuk meminjam di perpustakaan yang menyediakan bacaan tambahan atau selingan. Perpustakaan tidak menyemai gangguan memiliki buku. Yang lebih pantas disebut gangguan adalah menghilangkan buku atau mengembalikan buku tak tepat waktu. 

Teknis

Data penting bagi perpustakaan bukan seberapa banyak orang membaca atau bahkan memiliki buku. Jumlah pengunjung mengarah pada data statistik yang jelas untuk laporan, menjadi kebutuhan wajib administratif. Kompas, 13 September 2018, menampikan laporan jumlah pengunjung perpustakaan dan taman baca dengan judul ironis: “Perpustakaan Masih Diminati.” Kata “masih” di antara “perpustakaan” dan “diminati” seperti menambah ejekan bahwa sering perpustakaan tidak menarik minat publik. Seiring bertambah waktu, “masih” akan bergerak ke “tidak masih” atau “habis” yang berarti kekalahan mutlak tidak mendapatkan orang-orang yang ingin bertemu buku. Pun, ada Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 76 Tahun 2018 tentang Pembudayaan dan Kegemaran Membaca yang mengatakan “Sekolah umum dan madrasah diwajibkan mengunjungi perpustakaan dan mengadakan lomba literasi.” Mengunjungi buku jadinya wajib atau justru malah keterpaksaan karena diperintah.

Di Solo, agenda yang aneh justru digelar lagi oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Solo. Harian Solopos mengabarkan peluncuran aplikasi digital di Solo di acara Gelar Pustaka dan Arsip Solo 2018 pada 12-15 September 2018 di Atrium Solo Paragon Mall. Arpusda Solo memboyong rak, buku cetak, arsip ke mal sekaligus meluncurkan aplikasi buku digital yang tidak perlu membuat orang berpindah, sungguh paduan yang “cerdas” bukan! Orang-orang dipameri koleksi perpustakaan dalam bentuk konvensional dalam ruang mal yang diharap mampu meningkatkan kunjungan, tapi begitu ambisius melakukan digitalisasi tanpa kepastian seberapa besar para “pengunduh” benar-benar akan menguduh buku. Mereka tentu harus menyiapkan kuota yang cukup dan mendapat sinyal yang bagus agar seolah-olah memiliki buku.

Kesuksesan penyelanggaraan perpustakaan selalu terukur lewat hal teknis; jumlah pengunjung, peningkatan kunjungan, program digitalisasi, pemegahan gedung, atau jumlah koleksi yang selalu tentang jumlah. Padahal, semua ini sering tidak berhubungan dengan candu membaca. Kompas, 7 September 2018, mengabarkan bahwa saat ini ada 154.000 perpustakaan dikelola oleh pelbagai pihak. Tahun 2019, dana akan dialokasikan khusus untuk mengembangkan perpustakaan daerah. Kabar ini memang datang di tengah optimisme Indonesia menggarap pustaka-pustaka yang bergerak di pelbagai daerah. Indonesia harus berpindah dari persepsi Negara Dunia Ketiga sebagai negeri yang harus selalu menerima derma (buku) dari luar.

Baca juga: Membongkar Problem "Bullying" di Sekolah

Perpustakaan memang lebih sering mengajari kita meminjam. Ini jadi semacam bagian dari pemberian fasilitas publik tanpa tantangan, yang jarang mengusik bagaimana pertemuan dengan buku-buku terasa sepintas tanpa meninggalkan dendam kesumat untuk memiliki, memiliki, dan memiliki pada suatu kelak. Terkadang, kita lebih bisa menaruh gairah di persewaan buku atau loakan buku meski terlacak sebagai peminjam sesaat. Namun, kita bisa bayangkan seorang bocah yang menahan untuk tidak jajan dan mengumpulkan uang saku yang sedikit demi memiliki semua buku-buku di rak. Pernahkah buku ada di setiap doa yang dikirimkan dari bumi, dalam doa-doa keterlaluan panjang kita, demi memiliki. Merayakan buku tanpa status pinjaman atau kunjungan saja.  

  •  

Setyaningsih

Penderita novel, esais, dan kontributor penulis buku anak Kacamata Onde (2018). 

Tulisan pernah dimuat di Solopos, Koran Tempo, Jawa Pos, pocer.co, Jurnal Ruang.

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: