Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memoar Luka Seorang Muslimah

Oleh: Ahdina Constantinia         Diposkan: 13 Jan 2021 Dibaca: 221 kali


Nidah Kirani adalah seorang perempuan yang cerdik, kritis, visioner, serta dalam dirinya dipenuhi dengan semangat hidup untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, baik, dan baik lagi. Menginjak bangku kuliah, ia berkenalan dengan seorang perempuan salehah yang taat pada agama bernama Rahmi, di mana keduanya sama-sama bertempat tinggal di pesantren Pondok Ki Ageng. Bergaul dengan Rahmi membuat Kiran merasa sangat dekat kembali dengan agamaberkerudung besar, gamis yang menjuntai sampai tanah, memakai kaos kaki, dan simbol-simbol islami lainnya ia kenakan. Tidak ketinggalan pula Kiran mengamalkan lelaku yang membuatnya cukup untuk dijuluki wanita salehah, seperti mengunjungi pengajian rutin di Masjid Tarbiyah.

Setelah ditinggalkan sahabatnya dengan alasan tertentu, Kiran bergerilya sendiri. Ia bertandang ke perkumpulan pejuang-pejuang Islam yang selanjutnya disebut dengan kelompok Jemaah. Tidak tanggung-tanggung, Kiran pun terjun mengikuti proses pembaiatan yang sebelumnya terdapat beberapa penggemblengandi antaranya dengan narasi “sebuah aturan akan berlaku, jika kekuatan Islam dipegang oleh umat Islam (baca: cikal pendirian negara khilafah).”. Usai membaca ikrar baiat, Kiran pun tambah meyakini, bahwa selama ini ia berislam ibarat masih berada di kota Makkah, dan sekarang ia sedang menuju Madinah untuk menjadi Islam yang kaffah.

Desus dan cibiran terhadap Kiran yang tidak mengenakkan hati selalu didengungkan oleh para santriwati Pondok Ki Ageng. Namun, ia yakin bahwa misinya harus tetap digalakkan: menyelamatkan akidah keislaman umat Islam di Indonesia dan membuatkan wadah suci bagi kemaslahatan hidup mereka. Akhirnya, ia pindah dari pondok dan bermukim di POS, tempat para aktivis Jemaah berkumpul.

Namun, ia sedikit merasa ganjil, ritual keagamaan mereka tampak biasa saja, sama sekali tidak mencerminkan sebagaimana tentara Allah yang hendak menyambut syahid di medan perang. Kejanggalan terus ia rasakan, hingga kemudian mulai merasa terkhianati dengan ketidakjelasan konsep yang diusung para aktivis Jemaah. Semua dirasanya sebagai tipu-tipu belaka. Segala daya, upaya, waktu, sudah Kiran berikan sampai-sampai tiap bulan ia membohongi keluarga demi kepentingan infaq Rp500.000,00 yang tidak jelas dilarikan ke mana. Tapi apa timbal baliknya? Tidak ada. Kegamangan terus menyambar dan perjuangan berakhirKiran beserta 4 teman lainnya kabur dari POS.

Kiran menjalani hidup dengan membawa bayang kekecewaan terhadap Tuhan-nya, merasa semua jasanya telah dikhianati oleh agama yang selama ini ia pejuangkan. Ia mengutuk keimanan yang telah ia pilin dengan sedemikian gagah. Dalam keadaan yang masih kacau seperti ini, Kiran berjumpa dengan kawan lama—seorang aktivis kiri papan atas di kampusnya.

Berawal dari diskusi tentang kekecewaannya dan berakhir menjadi korban selangkang yang kemudian ditinggal lalu lalang, bertambah pula luka yang ia derita. Luka keimanan sekaligus luka keperempuanan.

Atas kekecewaan-kekecewaan itu, Kiran menjadi sinis dengan kaum laki-laki dan mencoba bermain dengan siapa pun yang ia ingin—mulai dari lelaki rohis sampai lelaki dengan sederet gelar akademis, hingga beranggapan bahwa puncak dari cinta adalah seks, dan setelah itu perempuan akan dibuat ketergantungan. Lalu, Kiran berikrar akan menjadi pelacur, yang bisa menaklukkan kaum lelaki.

Bagaimana tidak demikian? Ia sudah menyatakan berseteru dengan konsep agama orang pada umumnya, dengan aturan-aturan yang berbelit, aturan yang sama sekali tidak membantu menyelesaikan masalah apapun dalam hidupnya. Ibadah terlampau abstrak untuk dimintai keterangan “untuk apa melakukan hal-hal seperti itu?”. Dengan bekal berbagai kekecewaan, ia menjalani laku agama dalam kehidupan sebebas-bebasnya, tanpa terikat aturan syariat yang menurutnya hanya bisa menjerat.

Buku ini banyak menuai kontroversi, di bagian belakang pun sudah dituliskan oleh penulis bahwa tidak sedikit yang mencaci karyanya, mengolok-olok isinya, sampai sumpah serapah yang tidak tanggung-tanggung dilayangkan untuk penulisnya. Hal ini akibat dari kalimat yang disusun oleh penulis disampaikan dengan bahasa yang keras, jujur, tanpa adanya filter agar tampak lebih bisa diterima. Namun, di sisi lain banyak pula yang memuji, mengatakan bahwa buku ini telah mengungkap dan membongkar kemunafikan dari sejumlah manusia yang bersembunyi di balik topeng-topeng perjuangan agama.

Terlepas dari penilaian beberapa pihak di atas, saya sebagai peresensi menyatakan bahwa buku ini layak untuk dibaca dan bisa dijadikan sebuah perenungan agar kita semua tidak serta merta menerima pembenaran yang didatangkan dari siapapun. Ada sedikit catatan untuk para pembaca agar tidak hanyut dalam perasaan bahwa diri kalian mempunyai nasib yang sama dengan Kiran, lantas mengambil jalur yang sama persis dengannya. Sebagaimana pun jalan yang dipilih Kiran, itu subjektif. Seseorang mempunyai pengalaman beragama secara berbeda. Temui Tuhan kalian dengan cara kalian sendiri. Boleh menanyakan semua yang berkaitan tentang makhluk Allah Swt., namun menanyakan semua hal yang dipikirkan, termasuk menanyakan Dzat dari Allah Swt. adalah merupakan sebuah kesalahan.

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur terdiri dari 4 bagian; surat penulis, isi buku, pengakuan-pengakuan, dan surat untuk pembaca yang semuanya dibuat sebagai upaya untuk menuliskan kembali memoar luka dari seorang muslimah. Bacaan yang konon sangat kontroversial ini ditulis oleh Muhidin M. Dahlan, yang juga telah menulis beberapa buku lainnya, pun ratusan artikel dan esai di beberapa media. 

Judul buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Penulis: Muhidin M. Dahlan

Penerbit: ScriPtaManent

ISBN: 979-99461-15

Tebal: 261 halaman

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: