Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Memoar Patah Hati Memoar Perjumpaan Istimewa

Sebagai tokoh perempuan pejuang, nama Francisca C. Fanggidaej, tak pernah ditulis dalam teks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tapi justru ditulis dalam buku peringatan Konferensi Kalkuta, sebagai tokoh perempuan dari Indonesia yang berpidato untuk memberitahukan kepada dunia internasional tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Konferensi Kalkuta adalah sebuah konferensi pemuda dari negara-negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan. Konferensi yang diselenggarakan di India pada 1948 ini adalah embrio dari konferensi Asia-Afrika di Bandung, pada 1955.

Sebagai tokoh dan pejuang, ia pernah menduduki posisi strategis di berbagai organisasi, seperti Pesindo, Kantor Berita Antara, dan DPR GR RI. Setelah peristiwa berdarah 1965, ia terasing dari tanah airnya sendiri, dan kini menetap di Belanda.

Buku ini merupakan narasi pengalaman Francisca, kemudian ditulis oleh Hersri Setiawan, tentang masalah politik, budaya, tradisi, perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga pemberontakan yang dikaitkan dengan PKI. Sebagai kesaksian sejarah, buku ini tidak saja sebagai sumbangan berharga kepada historiografi Indonesia yang berangkat dari narasi pengalaman perempuan di tengah dominasi laki-laki.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---
Kategori : Tokoh dan Sejarah
Ketebalan : 209 hlm | HVS
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Galang Press
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by