Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 13 Dec 2018 Dibaca: 1169 kali


Pertama kali saya membuka buku dari plastik yang melindunginya, saya mencari pembatas buku di dalamnya, kemudian mulai membacanya dari halaman judul hingga tuntas. Pembatas buku selalu menarik perhatian karena saya ingin melihat bagaimana rupa sampul yang diperkecil atau diminimaliskan pada pembatas buku, juga mencari adakah pesan yang sengaja dipampang pada pembatas buku. Dalam benak saya, pembatas buku tak sekadar penambah nilai jual, tapi lebih kepada pembawa pesan alternatif selain kalimat pertama tulisan yang mampu mengantar saya untuk segera melanjutkannya dengan rasa penasaran atau malah berhenti seterusnya. Pada pembatas buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub yang diterbitkan oleh Marjin Kiri yang diterjemahkan Ronny Agustinus, tertuliskan “Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa Manusia begitu berbeda dalam hal ini?”. Pernyataan itu memaksa saya untuk menelusuri hal-hal apa saja yang kiranya akan dikatakan Beruang Kutub untuk manusia.

Sejak kecil saya terpahamkan dengan argumen bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari segala makhluk yang ada di bumi—entah itu dari ajaran orang tua, pelajaran di sekolah, atau penggalan ayat dari Kitab Suci yang saya amini sebelumnya. Argumen tersebut membawa saya pada pemikiran bahwa manusia adalah pusat dari segalanya—Antroposentrisme. Kritik yang menohok dilontarkan oleh kumpulan tulisan yang diberi tajuk Dengarkan Jeritan Bumi yang diterbitkan oleh Ultimus, di mana umat kristen utamanya gereja dapat melakukan pembacaan teks Alkitab dengan kaca mata kosmosentrisme yang mengangap bahwa manusia bukan pusat dari dunia.

Dalam buku ini, setidaknya saya menemukan kejujuran yang diutarakan seekor Beruang Kutub bernama Baltazar, meskipun kisah ini ditulis oleh manusia bernama Claudio Orrego Vicuña. Ia mengantar kisah ini dengan “Barangkali perbedaan pendapat antara kita dan binatang hanyalah mereka tidak bisa berbicara, kendati mereka bisa berpikir dan merasa.”(p. 1). Mungkin ini hanya pleidoi mengantar kisah fiksi – fabel—agar para pembaca terserap masuk ke dalam cerita dan percaya bahwa Baltazar memang sedang berbicara. Tapi, pleidoi ini bukan hanya sekadar pengantar biasa. Menurut saya ini adalah penekanan bahwa manusia bukanlah pusat dari segalanya. Cobalah mendengar.

baca juga: Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

Baltazar adalah nama yang dibabtiskan oleh para penjaga kandang kebun binatang untuk beruang kutub yang kehilangan malam-malam penuh bintang juga salju dan es yang seputih bulunya. Setelah penangkapnnya, keadaan yang awalnya serba dingin berubah dengan teriknya matahari, keadaan yang serba putih berubah menjadi serba hijau dan abu. Hingga beruang kutub itu tiba pada sebuah kesimpulan bahwa “Dunia kolamku yang dikitari jeruji besi lebih kaya ketimbang yang sudah-sudah.” (p. 7). Tapi bukan berarti bahwa ia pasrah pada kenyataan pahit, selamanya terkurung dalam kandang. Ia mampu membuat jera penjaga kandangnya saat dunia dan anak-anak yang menjadi “bagian paling indah dari umat manusia” diusik, seorang remaja mencoba melemparkan sesuatu ke dalam kandang yang semestinya tidak ia lakukan. Penjaga kandang pun naik pitam, melecut bocah itu, dan berbalaskan amukan dari Baltazar.

Buku setebal 68 halaman ini membawa kita untuk memaknai arti penting kebebasan. Di mana kebebasan yang kita alami hari ini adalah kebebasan bersyarat. CCTV dan polisi bahu membahu mengawasi masyarakatnya. Setidaknya, melalui Baltazar kita tahu bahwa kebebasan sejati memanglah tidak ada, dan usaha kita hanyalah memperbesar kemungkinan menjadi bebas. Kebun binatang dan penjara mestinya sama, keduanya hanya berurusan soal kerangkeng, tindakan superioritas yang berwenang, dan diasingkan dari keluarga serta lingkungan mula-mula yang jungkir balik.

Sekali lagi, meskipun kisah ini ditulis Vicuña yang menggunakan fabel sebagai gaya berceritanya. Setidaknya novelet yang terbit pertama kali pada 1974 di Santiago de Chile ini adalah caranya untuk berkata bahwa kediktatoran dan pengawasan pemerintah selalu ada di mana-mana, mungkin di belakangmu ada CCTV yang mengamatimu atau saat berjalan polisi sedang mengintaimu. Maka, memanglah benar bahwa sastra adalah cara untuk bertutur yang meliuk-liuk, merangkai diksi yang tak benar-benar terang untuk sebuah kebebasan.

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Pada 16 Desember 2008 di Club de Lectura – salah satu klub baca di Chile—seorang Profesor dan pemerhati pendidikan Chile, Benedicto González Vargas berpendapat agar karya ini bisa segera dicetak ulang dan menjadi bacaaan anak-anak. Saya setuju, di tengah keringnya sastra anak di Indonesia, buku ini bisa menjadi salah satu bacaan anak-anak.

Meski novelet ini dibuka dengan kesedihan dan ditutup dengan kepasrahan akan realita juga kematian beruang kutub dalam berita karena penjaganya merasa terejek dengan pandangan si beruang kutub, setidaknya kalimat “Semua tahu bahwa seiring dengan datangnya fajar, tragedi dan kematian akan kembali” berputar dalam kepala saya untuk terus menerus memperbesar kemungkinan. Novelet ini tipis, bisa dibaca dengan sekali duduk, tapi untuk memahami pesan-pesan Baltazar sangat disarankan untuk memberi waktu untuk berefleksi.

  •  

Judul: Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub

Penulis: Claudio Orrego Vicuña

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: x+68 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: