Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 13 Dec 2018 Dibaca: 1476 kali


Pertama kali saya membuka buku dari plastik yang melindunginya, saya mencari pembatas buku di dalamnya, kemudian mulai membacanya dari halaman judul hingga tuntas. Pembatas buku selalu menarik perhatian karena saya ingin melihat bagaimana rupa sampul yang diperkecil atau diminimaliskan pada pembatas buku, juga mencari adakah pesan yang sengaja dipampang pada pembatas buku. Dalam benak saya, pembatas buku tak sekadar penambah nilai jual, tapi lebih kepada pembawa pesan alternatif selain kalimat pertama tulisan yang mampu mengantar saya untuk segera melanjutkannya dengan rasa penasaran atau malah berhenti seterusnya. Pada pembatas buku Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub yang diterbitkan oleh Marjin Kiri yang diterjemahkan Ronny Agustinus, tertuliskan “Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa Manusia begitu berbeda dalam hal ini?”. Pernyataan itu memaksa saya untuk menelusuri hal-hal apa saja yang kiranya akan dikatakan Beruang Kutub untuk manusia.

Sejak kecil saya terpahamkan dengan argumen bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dari segala makhluk yang ada di bumi—entah itu dari ajaran orang tua, pelajaran di sekolah, atau penggalan ayat dari Kitab Suci yang saya amini sebelumnya. Argumen tersebut membawa saya pada pemikiran bahwa manusia adalah pusat dari segalanya—Antroposentrisme. Kritik yang menohok dilontarkan oleh kumpulan tulisan yang diberi tajuk Dengarkan Jeritan Bumi yang diterbitkan oleh Ultimus, di mana umat kristen utamanya gereja dapat melakukan pembacaan teks Alkitab dengan kaca mata kosmosentrisme yang mengangap bahwa manusia bukan pusat dari dunia.

Dalam buku ini, setidaknya saya menemukan kejujuran yang diutarakan seekor Beruang Kutub bernama Baltazar, meskipun kisah ini ditulis oleh manusia bernama Claudio Orrego Vicuña. Ia mengantar kisah ini dengan “Barangkali perbedaan pendapat antara kita dan binatang hanyalah mereka tidak bisa berbicara, kendati mereka bisa berpikir dan merasa.”(p. 1). Mungkin ini hanya pleidoi mengantar kisah fiksi – fabel—agar para pembaca terserap masuk ke dalam cerita dan percaya bahwa Baltazar memang sedang berbicara. Tapi, pleidoi ini bukan hanya sekadar pengantar biasa. Menurut saya ini adalah penekanan bahwa manusia bukanlah pusat dari segalanya. Cobalah mendengar.

baca juga: Pembaratan dan Suara Lain dari Amazon

Baltazar adalah nama yang dibabtiskan oleh para penjaga kandang kebun binatang untuk beruang kutub yang kehilangan malam-malam penuh bintang juga salju dan es yang seputih bulunya. Setelah penangkapnnya, keadaan yang awalnya serba dingin berubah dengan teriknya matahari, keadaan yang serba putih berubah menjadi serba hijau dan abu. Hingga beruang kutub itu tiba pada sebuah kesimpulan bahwa “Dunia kolamku yang dikitari jeruji besi lebih kaya ketimbang yang sudah-sudah.” (p. 7). Tapi bukan berarti bahwa ia pasrah pada kenyataan pahit, selamanya terkurung dalam kandang. Ia mampu membuat jera penjaga kandangnya saat dunia dan anak-anak yang menjadi “bagian paling indah dari umat manusia” diusik, seorang remaja mencoba melemparkan sesuatu ke dalam kandang yang semestinya tidak ia lakukan. Penjaga kandang pun naik pitam, melecut bocah itu, dan berbalaskan amukan dari Baltazar.

Buku setebal 68 halaman ini membawa kita untuk memaknai arti penting kebebasan. Di mana kebebasan yang kita alami hari ini adalah kebebasan bersyarat. CCTV dan polisi bahu membahu mengawasi masyarakatnya. Setidaknya, melalui Baltazar kita tahu bahwa kebebasan sejati memanglah tidak ada, dan usaha kita hanyalah memperbesar kemungkinan menjadi bebas. Kebun binatang dan penjara mestinya sama, keduanya hanya berurusan soal kerangkeng, tindakan superioritas yang berwenang, dan diasingkan dari keluarga serta lingkungan mula-mula yang jungkir balik.

Sekali lagi, meskipun kisah ini ditulis Vicuña yang menggunakan fabel sebagai gaya berceritanya. Setidaknya novelet yang terbit pertama kali pada 1974 di Santiago de Chile ini adalah caranya untuk berkata bahwa kediktatoran dan pengawasan pemerintah selalu ada di mana-mana, mungkin di belakangmu ada CCTV yang mengamatimu atau saat berjalan polisi sedang mengintaimu. Maka, memanglah benar bahwa sastra adalah cara untuk bertutur yang meliuk-liuk, merangkai diksi yang tak benar-benar terang untuk sebuah kebebasan.

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Pada 16 Desember 2008 di Club de Lectura – salah satu klub baca di Chile—seorang Profesor dan pemerhati pendidikan Chile, Benedicto González Vargas berpendapat agar karya ini bisa segera dicetak ulang dan menjadi bacaaan anak-anak. Saya setuju, di tengah keringnya sastra anak di Indonesia, buku ini bisa menjadi salah satu bacaan anak-anak.

Meski novelet ini dibuka dengan kesedihan dan ditutup dengan kepasrahan akan realita juga kematian beruang kutub dalam berita karena penjaganya merasa terejek dengan pandangan si beruang kutub, setidaknya kalimat “Semua tahu bahwa seiring dengan datangnya fajar, tragedi dan kematian akan kembali” berputar dalam kepala saya untuk terus menerus memperbesar kemungkinan. Novelet ini tipis, bisa dibaca dengan sekali duduk, tapi untuk memahami pesan-pesan Baltazar sangat disarankan untuk memberi waktu untuk berefleksi.

  •  

Judul: Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub

Penulis: Claudio Orrego Vicuña

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: x+68 halaman

  •  



Artikel Terkait

Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Deforestasi mesti dicegah dan dihentikan. Zoonosis harus dikubur agar tak lagi jadi momok menakutkan. Kebijakan terkait lingkungan harus diperketat demi menjaga keberlanjutan dan kehijauan bumi manusia.

Diposkan: 08 Dec 2018 Dibaca: 1421 kali

Di Warung Kopi, Buku Menghapus Kesunyian Kita

Di Warung Kopi, Buku Menghapus Kesunyian Kita

Buku-buku ini mampu menjadi percakapan-percakapan yang tak disangka.

Diposkan: 30 Nov 2018 Dibaca: 1840 kali

Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Mark Manson: Bacaan Hipster dan Orang-orang Minder

Hidup itu sarat derita. Hidup itu soal menerima penderitaan. Hidup itu ...

Diposkan: 21 Nov 2018 Dibaca: 4478 kali

Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Tumpukan buku dimakan rayap yang dipajang di tengah kafe itu mungkin semacam pertanda, sebuah senjakala, ia bisa jadi bukan lagi sekadar bentuk kegelisahan.

Diposkan: 17 Nov 2018 Dibaca: 1844 kali

Advocatus Diaboli

Advocatus Diaboli

.... persoalannya bukan lagi mana dan apa itu kebenaran, melainkan bagaimana setiap orang bisa mendapatkan akses ke kebenaran.

Diposkan: 01 Nov 2018 Dibaca: 2475 kali

Antara Politik dan Moralitas

Antara Politik dan Moralitas

Perang memang membangkitkan perasaan senasib, persaudaraan, persatuan, tapi tak pernah menjauhkan orang-orang dari kematian.

Diposkan: 31 Oct 2018 Dibaca: 1813 kali

Merespons Jeritan Bumi

Merespons Jeritan Bumi

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Soeharto mati meninggalkan kerusakan alam akibat revolusi hijau.

Diposkan: 30 Oct 2018 Dibaca: 1379 kali

Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

..., musik akan selalu sebagai cermin realitas sosial sekaligus kritik atas kebijakan-kebijakan pemerintah.

Diposkan: 22 Oct 2018 Dibaca: 1457 kali

Bagaimana Pengarang Jepang Meratapi Perang ?

Bagaimana Pengarang Jepang Meratapi Perang ?

Perang tak mesti dibicarakan dengan gurat wajah yang serius, sebab imbasnya bukan hanya pada politik dan negara, melainkan juga pada generasi muda.

Diposkan: 19 Oct 2018 Dibaca: 1131 kali

Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Anarkisme: Narasi Sepanjang Zaman atau Sepanjang Jalan?

Sejarah anarkisme adalah sejarah bagaimana upaya-upaya manusia selaku yang-partikular duduk setara dengan Tuhan...

Diposkan: 12 Oct 2018 Dibaca: 1982 kali

Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Di lembaran sejarah sastra, kita membaca Lekra dan Manikebu bermusuhan. Kita mungkin agak ragu jika mulai menata lagi rangkaian tulisan, peristiwa, dan pidato pada masa 1950-an dan 1960-an. Sejarah tak cukup ditulis dengan konklusi satu sampai tiga kalimat.

Diposkan: 11 Oct 2018 Dibaca: 2392 kali

Etgar Keret: Menilik Kemanusiaan dari Tanah Yang Dijanjikan

Etgar Keret: Menilik Kemanusiaan dari Tanah Yang Dijanjikan

“Aku belajar di sekolah jika tiap orang yang menginginkan perdamaian di bumi pastilah tewas. Rabin, Sadat, bahkan John Lennon tertembak. Aku juga menginginkan perdamaian, tapi aku sungguh lebih menginginkanmu.”

Diposkan: 27 Sep 2018 Dibaca: 1412 kali

Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

Kisah Wilde dan Sembilan Kisah Lain

...,dan kita di sini tidak pada posisi membahas benar atau salah: pilihan penerjemah itu sendiri sudah merupakan satu bentuk tafsir, dan terlalu menggebu memaksa orang menerima tafsir kita tentang kebenaran adalah satu aroganisme kenes yang hanya menjadi satu pertanda bahwa kita kurang banyak membaca karya sastra.

Diposkan: 18 Sep 2018 Dibaca: 1190 kali

Konspirasi

Konspirasi

Dunia politik bukanlah sekadar dunia biasa. Nyatanya politik bisa berimbas ke hal lain.

Diposkan: 17 Sep 2018 Dibaca: 1334 kali

Membaca untuk Menertawakan Dunia

Membaca untuk Menertawakan Dunia

Jika Bolívar menuju ke gubuknya kembali ke novel-novel yang membicarakan cinta hingga ia lupa dengan kebiadaban manusia, dan Sepúlveda menamatkan buku itu dengan ucapannya bahwa sastra adalah cara untuk mencapai tujuan.

Diposkan: 02 Jun 2018 Dibaca: 1806 kali

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Blog Search



Bayar dan Kirim