Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Menalar Tuhan

Wishlist
Stock: Tersedia
Terjual : 46
Jumlah:

#TalkLessReadMore lihat promo di bawah:

Pembelian : Diskon 20% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: talkless
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: readmore
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Berawal dari pembebasan ketuhanan dari mitologi, perbincangan masalah ketuhanan mengarah ke persoalan metafisika, manusia mulai mengembangkan pemikiran kritisnya dengan memasukkan masalah ketuhanan ke dalam masalah metafisika khusus atas dasar suatu telaah ontologis tertentu, Tuhan selanjutnya menjadi obyek kajian keilmuan.

Filsafat ketuhanan kemudian menjadi bagian penting dalam diskursus filsafat, paling tidak manusia punya dua kegelisahan pertama, mereka tidak mau lagi meyakini kebertuhananya hanya atas dasar warisan keyakinan atau tradisi leluhurnya kedua, manusia harus bisa mempertanggungjawabkan kepercayaan kepada Tuhannya secara rasional.

Menalar Tuhan atau menggapai pengetahuan tentang Tuhan lewat nalar adalah hasrat tertinggi manusia (terutama para filosof dan teolog) dan mereka memiliki satu obsesi yaitu nalar diharuskan dapat mengikuti keimanan dan keyakinan hati, apa yang diyakini harus didasarkan pada tidak adanya pertentangan dengan nalar, sehingga keimanan manusia dapat melibatkan keseluruhan dan menjadikan akal budi juga beriman.

Melalui telaah historis filosofis, Franz Magnis ingin menunjukkan dasar-dasar rasionalitas akan bukti adanya Tuhan yaitu diawali dengan pemaparan mengenai untuk apa dan bagaimana Tuhan bisa di nalar, membicarakan tentang tiga jalan menuju Tuhan melalui argumen ontologis, kosmologis dan teleologis serta jalan lain menuju Tuhan dengan bertolak pada manusia seperti hati nurani, kebebasan, pencarian makna terakhir dam moralitas manusia sendiri. Kemudian pembahas diteruskan pada pembicaraan secara kritis tentang tantangan terbesar bagi penalaran terhadap Tuhan yaitu pemikiran para filosof ateis dan paham filsafat agnostisisme.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
Ketebalan : 245 hlm | HVS
Dimensi : 15,5 x 22,5 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Kanisius
Penulis: Franz Magnis-Suseno
Berat : 400 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by